Rabu, 20 Juni 2012
Jangan Galau, Allah Selalu Menyertaimu!
MENGELUH, hampir menjadi fenomena di negeri mayoritas Muslim ini. Ironisnya mengeluh itu menimpa hampir semua tingkatan usia; mulai remaja sampai dewasa juga pria dan wanita. Akibatnya tidak banyak yang bisa dilakukan oleh mereka yang suka mengeluh, kecuali hal-hal yang akan semakin membuat jiwa dan akalnya terus melemah. Sehari-hari waktu yang dilalui hanya diisi curhat dari satu orang ke orang lain dengan memaparkan beragam masalah yang sedang membelitnya.
Padahal waktu dan kesempatan datang setiap hari. Bahkan sekiranya mereka mau membaca firman Allah (Al-Qur’an) tentu mereka akan dapati jawaban atas setiap masalah yang dihadapinya. Ketika didorong untuk membaca Al-Qur’an jawabnya tidak mengerti bahasa Arab. Loh bukannya kini sudah sangat banyak Al-Qur’an terjemah. Mengapa tidak dibaca juga?
Sementara Allah dengan tegas berfirman;
بِهِ مِنَ الأَحْزَابِ فَالنَّارُ مَوْعِدُهُ فَلاَ تَكُ فِي مِرْيَةٍ مِّنْهُ إِنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ وَلَـكِنَّ
“Karena itu janganlah kamu ragu-ragu terhadap Al-Qur’an itu. Sesungguhnya (Al-Qur’an) itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman. (QS. Huud [11]: 17).
Dalam ayat lain Allah SWT juga tegaskan bahwa Al-Qur’an itu kitab suci yang tidak ada keragu-raguan di dalamnya petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa (QS. Al-Baqarah [2]: 2).
Jadi sebenarnya sederhana sekali, masalah apapun yang kita hadapi solusinya ada di dalam Al-Qur’an. Ibarat manusia ini robot maka Al-Qur’an ini adalah petunjuk manual bagaimana mengoperasikan robot itu. Bagaimana tanda-tanda robot yang kekurangan baterai (iman) misalnya. Lalu apa yang harus dilakukan untuk mengisi dayanya kembali. Bagaimana jika ada robot yang mati (semangatnya). Apa yang harus dilakukan. Jawaban semua itu ada di dalam buku manual tadi (Al-Qur’an).
Mari perhatikan pernyataan Nabi Ibrahim di depan orang-orang kafir ketika menjelaskan siapa Allah SWT. ketika itu Nabi Ibrahim sedang memberi peringatan kepada penyembah berhala bahwa apa yang mereka anggap tuhan itu adalah keliru (sesat). Lalu Nabi Ibrahim menjelaskan perihal Allah SWT yang sebenar-benarnya Tuhan yang harus disembah.
Ibrahim berkata;“(Yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku. Dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku. Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku. Dan Yang akan mematikan aku. Kemudian akan menghidupkan aku (kembali). Dan yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat”. (QS. As Syu’ara [26] : 78 – 82).
Ayat tadi menggambarkan secara gamblang bagaimana Allah benar-benar mengerti segala kebutuhan, keresahan, kerisauan, kegalauan, dan seluruh suasana hati setiap manusia. Hanya saja Allah akan mendatangi jiwa-jiwa yang diliputi keimanan kuat dan mengabaikan jiwa manusia yang kerdil lagi tidak pernah memohon kepada-Nya.
Kepada mereka yang imannya kuat Allah berikan satu jaminan agar tidak takut dan bersedih hati.
وَلاَ تَهِنُوا وَلاَ تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman”. (QS. Ali Imran [3]: 139).
Jadi mari kita kembali kepada Allah dengan sungguh-sungguh memahami ayat-ayat Al-Qur’an. Sungguh Allah menjawab setiap masalah kita.
Ketika kita mengeluh, maka akan selalu ada jawaban dari Allah SWT untuk kita. Misalnya, “Rasanya aku tidak mampu menghadapi masalah seperti ini, berat terasa oleh ku. Sungguh aku tak sanggup lagi.” Sungguh Allah menjawab;
“Jika Allah menghendaki sesuatu, Allah cukup berkata jadi maka jadilah” (QS. 36 : 82).
Ketika kita mengeluh, “Aku terlalu lelah” Allah menjawab, “Aku ciptakan tidurmu untuk istirahatmu.” (QS. 78 : 9).
Ketika kita mengeluh, “Aku tak sanggup lagi, aku tak mampu lagi, semua sudah tidak mungkin kuhadapi” Allah menjawab, “Allah tidak membebankan sesuatu kepada hamba-Nya, melainkan sesuai kemampuannya” (QS. Al Baqarah [2] : 286).
Ketika kita mengeluh, “Berbagai upaya sudah saya lakukan tapi hasilnya nihil. Saya benar-benar stress dibuatnya” Allah menjawab;
الَّذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Hanya dengan mengingat Aku maka hati menjadi tenang.” (QS. 13 : 28).
Bahkan ketika kita mengeluh, “Aku sudah tidak ada gunanya lagi, untuk apa aku hidup” sungguh Allah telah menjawab;
“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat dzarah, niscaya ia akan melihat balasannya.” (QS. 99 : 7).
Jika demikian untuk apa kita mengeluh, bukankah Allah telah menjawab semua bakal keluhan umat manusia. Maka dari itu biasakanlah diri untuk benar-benar mempelajari Al-Qur’an dengan baik. Sungguh Al-Qur’an itu menjawab setiap masalah. Maka ambillah obat atau madu darinya.
Sebenarnya mengeluh atau tidak itu adalah pilihan hati. Hati yang senantiasa dihiasi dengan bacaan Al-Qur’an insya Allah terhindar dari sikap kerdil, lemah, lesu, letih, lunglai, dan tak berdaya. Sementara hati yang sepi dari bacaan Al-Qur’an akan sangat mudah terganggu oleh dinamika kehidupan sehingga sulit menjadi hamba Allah yang pandai bersyukur.
Terhadap orang yang pandai bersyukur Allah berjanji akan menambah terus-menerus kenikmatan yang diberi dan bagi yang kufur (tidak mau bersyukur) Allah sediakan siksa yang pedih.
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Se- sungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni'mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni'mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS.ar Ra’d [14] : 7).
Jadi selagi masih ada kesempatan mari berusaha untuk memahami ayat-ayat Allah dengan sebaik-baiknya. Sungguh apabila hati kita telah diterangi oleh Al-Qur’an akan muncul semangat, gairah, optimisme, dan keyakinan kuat bahwa Allah selalu menyertai kita dan karena itu akan muncul usaha maksimal dari dalam diri kita.
Apabila itu benar-benar dapat kita raih sungguh kebahagiaan, kemenangan dan kesuksesan sejati telah berada di tangan kita. Sebab Allah telah berjanji akan memberi jalan-jalan kepada hamba-hamba-Nya yang bermujahadah (bersungguh-sungguh tidak mengeluh) dan senantiasa berbuat kebaikan.
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. 29 : 69).
Jika sedemikian rupa Allah telah memberi jawaban atas keluhan setiap hamba-Nya, masihkah kita akan menjadi manusia kerdil? Sungguh keluhan itu adalah sesuatu yang mesti kita enyahkan dalam akal dan jiwa kita. Allah dan Rasul-Nya hanya berpesan satu hal, berjihadlah, bersungguh-sungguhlah, kelak engkau pasti akan menang. Jadi mari kita ucapkan,
“Selamat tinggal keluhan, selamat datang harapan”!. */Imam Nawawi
sumber : http://www.hidayatullah.com/read/22625/12/05/2012/jangan-galau,-allah-selalu-menyertaimu!.html
Senin, 04 Juni 2012
CARUT MARUT TRANSPORTASI INDONESIA
Antrean panjang kendaraan di pelabuhan Merak yang terjadi pada beberapa waktu terakhir ini jelas sangat mengganggu aktivitas masyarakat baik secara ekonomis maupun kenyamanan dalam menjalankan aktivitas rutin kesehariannya. Hal semacam ini terjadi berulang-ulang tanpa adanya solusi untuk menyelesaikan persoalan ini secara tuntas. Yang terjadi justru para elit saling berdalih dengan berbagai macam alasan untuk membenarkan persoalan yang sedang terjadi.

Permasalahan transportasi yang terjadi di negeri ini sebenarnya juga bukan hanya sebagaimana yang terjadi pada kasus antrean di pelabuhan merak, akan tetapi banyak kasus-kasus lain yang itu menjadi catatan buruk pengelolaan transportasi di negeri ini. Salah satu indikasi ruwetnya masalah transportasi juga ditandai banyaknya kecelakaan hampir di seluruh sarana transportasi umum di Indonesia. Kasus kecelakaan transportasi udara tiap tahun terus meningkat. Pada 2004 tercatat 109 kasus, 111 kasus pada 2005, dan 119 kasus pada 2006. Tingginya angka itu menjadikan tingkat kecelakaan udara di Indonesia terbesar di dunia. Kasus kecelakaan kereta api setiap tahun meningkat 5-10 persen. Tahun 2003, PT. Kereta Api Indonesia mencatat ada 50 kasus di seluruh Indonesia. Dari berbagai data ini, sebenarnya apa yang terjadi dan bagaimana solusinya?
Kesalahan Pengelolaan
Banyaknya masalah yang terjadi di Transportasi, seringkali faktor alam, faktor kesalahan teknis, dan human error dijadikan kambing hitam seperti posisi rel yang salah, mesin pesawat yang kurang terawat, dan kelebihan penumpang pada kapal laut sering menjadi alasan yang berulang dalam kecelakaan. Bahkan para pejabat negara pun berlindung dibalik alasan klasik tersebut untuk menutupi ketidakbecusan mereka mengurus pelayanan masyarakat secara baik. Mereka tidak pernah mau belajar dan mencari, sesungguhnya di balik itu semua apa yang terjadi? Sebenarnya jika ditelisik, maka mata rantai permasalahan transportasi di Indonesia adalah adanya kesalahan pengelolaan yang dilakukan oleh Negara. Fasilitas umum transportasi seperti: jalan raya, dermaga, bandara, dan rel kereta api yang seharusnya dikelola oleh negara untuk melayani kepentingan masyarakat umum, telah diserahkan kepada pihak swasta. Akibatnya pangelolaan tersebut selalu mengedepankan aspek keuntungan, bukan pelayanan kepada masyarakat.
Berbeda sekali ketika yang mengelola fasilitas umum adalah negara, maka yang menjadi dasar pemikirannya adalah kenyamanan dan keamanan bagi seluruh rakyat. Sehingga kasus kendaraan seperti di pelabuhan Merak tidak perlu terjadi apabila pemerintah menambah menjadi 50 kapal roro atau lebih dari 33 kapal roro yang sedang dioperasikan, atau bisa saja negara membangun lebih banyak dermaga. Sebenarnya negara mampu mengatasi permasalahan ini, sebab menurut informasi dari Menteri BUMN Mustafa Abubakar mengatakan, BUMN membukukan pendapatan sekitar Rp 1.000 triliun pada 2010. Dari pendapatan tersebut, jumlah laba BUMN mencapai Rp 100 triliun atau naik 26% dibanding realisasi laba 2009 yang sebesar Rp 74 triliun.
Selain itu, apabila pengelolaan fasilitas umum tidak dikelola oleh negara, maka yang terjadi negara sering lepas tanggung jawab terhadap permasalahan yang ada, seperti yang terjadi di pelabuhan Merak. Padahal pelayanan terhadap seluruh kepentingan rakyat menjadi tanggung jawab penuh negara. Kasus antrian di pelabuhan Merak harus diselidiki oleh pihak-pihak yang mempunyai kapasitas, apakah memang kejadian tersebut benar-benar merupakan imbas kejadian alam seperti ombak besar sehingga tidak memungkinkan untuk dilakukan pelayaran. Maka jika itu yang terjadi, negara mestinya memberikan fasilitas untuk membantu rakyat, misal makan gratis, kompensasi terhadap barang dagangan yang rusak akibat lamanya antre jangan seperti yang terjadi di pelabuhan Merak. Akibat antrian panjang itu, beberapa sopir truk yang mulai kehabisan uang saku untuk biaya makan selama mengantri akhirnya terpaksa membayar tol dengan menitipkan barang yang dimiliki. Ini kan jelas merugikan rakyat, sementara keuntungan PT. Pelindo berlimpah. Apakah ini tidak merupakan perbuatan dzalim pemerintah terhadap rakyat? Akibat kelalaian ini seharusnya ada pihak yang diajukan ke pengadilan untuk dimintai pertanggungjawaban, jadi tidak bisa lepas tanggung jawab begitu saja.
Islam Mampu Mengatasi
Islam memandang bahwa kepemilikan umum adalah izin as-Syari’ (Allah SWT) kepada suatu komunitas untuk sama-sama memanfaatkan benda. Sedangkan benda-benda yang termasuk dalam kategori kepemilikan umum adalah benda-benda yang telah dinyatakan oleh As-Syari’ untuk suatu komunitas, di mana mereka masing-masing saling membutuhkan, dan melarang benda tersebut dikuasai hanya oleh seseorang atau sekelompok kecil orang. Dari pengertian di atas maka benda-benda yang termasuk dalam kepemilikan umum dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok : pertama, Fasilitas Umum, yaitu apa saja yang dianggap sebagai kepentingan manusia secara umum, di mana ketiadaan barang tersebut dalam suatu negeri atau dalam suatu komunitas, akan menyebabkan kesulitan dan dapat menimbulkan persengketaan dalam mencarinya. Dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi saw bersabda :
«النَّاسُ شُرَكَاءُ فِيْ ثَلاَثٍ: اَلْمَاءُ وَالْكَلاَءُ وَالنَّارُ»
“Manusia berserikat dalam tiga hal, yaitu air, padang rumput, dan api” (HR Abu Daud).
Anas r.a. juga meriwayatkan hadits dari Ibnu Abbas ra. tersebut dengan menambahkan: wa tsamanuhu haram (dan harganya haram), yang berarti dilarang untuk diperjualbelikan.
Kedua, Bahan tambang yang tidak terbatas (sangat besar). Bahan tambang dapat diklasifikasikan menjadi dua. Yakni, bahan tambang yang jumlahnya terbatas (sedikit) dan bahan tambang yang jumlahnya tidak terbatas. Bahan tambang yang jumlahnya sedikit dapat dimiliki secara pribadi. Hasil tambang seperti ini akan dikenai hukum rikaz (barang temuan) sehingga harus dikeluarkan 1/5 bagian darinya. Bahan tambang yang jumlahnya sangat besar terkategorikan sebagai milik umum, dan tidak boleh dimiliki secara pribadi.
Ketiga, Benda-benda yang sifat pembentukannya menghalangi untuk dimiliki secara perorangan. Benda-benda yang sifat pembentukannya mencegah individu untuk memilikinya, maka benda tersebut adalah benda yang termasuk kemanfaatan umum. Seperti: jalan, sungai, laut, danau, tanah-tanah umum, teluk, selat, dan sebagainya. Begitu juga seperti : masjid, sekolah milik negara, rumah sakit negara, lapangan, tempat-tempat penampungan, dan sebagainya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw.,
“Kota Mina adalah tempat parkir unta bagi orang yang lebih dulu (datang) (maksudnya tempat untuk umum).”
Barang-barang tambang seperti minyak bumi beserta turunannya seperti bensin, gas, dan lain-lain, termasuk juga listrik, hutan, air, padang rumput, api, jalan umum, sungai, dan laut semuanya telah ditetapkan syara’ sebagai kepemilikan umum. Negara mengatur produksi dan distribusi aset-aset tersebut untuk rakyat.
Sementara itu Pengelolaan kepemilikan umum oleh negara dapat dilakukan dengan dua cara, yakni: Pertama; Pemanfaatan secara langsung oleh masyarakat umum. Air, padang rumput, api, jalan umum, laut, samudera, dan sungai besar adalah benda-benda yang bisa dimanfaatkan secara langsung oleh setiap individu. Siapa saja dapat mengambil air dari sumur, mengalirkan air sungai untuk pengairan pertanian, juga menggembalakan hewan ternaknya di padang rumput milik umum. Bagi setiap individu juga diperbolehkan menggunakan berbagai peralatan yang dimilikinya untuk memanfaatkan sungai yang besar, untuk menyirami tanaman dan pepohonan. Karena sungai yang besar cukup luas untuk dimanfaatkan seluruh masyarakat dengan menggunakan peralatan khusus selama tidak membuat kemudharatan bagi individu lainnya. Setiap individu diperbolehkan memanfaatkan jalan-jalan umum secara individu, dengan tunggangan dan kendaraan. Juga diperbolehkan mengarungi lautan dan sungai serta danau-danau umum dengan perahu, kapal, dan sebagainya, sepanjang hal tersebut tidak membuat pihak lain yaitu seluruh kaum muslim dirugikan, tidak mempersempit jalan umum, laut, sungai, dan danau.
Kedua; Pemanfaatan di bawah pengelolaan negara. Kekayaan milik umum yang tidak dapat dengan mudah dimanfaatkan secara langsung oleh setiap individu masyarakat (karena membutuhkan keahlian, teknologi tinggi, serta biaya yang besar) seperti minyak bumi, gas alam, dan barang tambang lainnya, maka negara yang berhak untuk mengelola dan mengeksplorasi bahan tambang tersebut. Pengelolaan harta kepemilikan umum oleh Negara ini juga harus memenuhi ijin dan keinginan rakyat secara umum sebagai pemilik dari harta kepemilikan tersebut. Hasil pengelolaan terhadap harta kepemilikan umum tersebut tentunya dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk pelayanan kepada rakyat. Kepala Negara adalah pihak yang berwenang dalam pendistribusian hasil tambang dan pendapatannya sesuai dengan ijtihadnya demi kemashlahatan umat. Dalam mengelola kepemilikan tersebut, negara tidak boleh memperjualbelikan kepada rakyat dengan mendasarkan pada asas mencari keuntungan semata tanpa izin dari rakyat. Jika rakyat menghendaki bahwa hasil pengelolaan terhadap harta kepimilikan umum dijual dengan harga pokok produksi (seperti minyak) maka Negara harus menjualnya kepada rakyat dengan harga tersebut. Namun diperbolehkan pula bagi Negara untuk menjualnya kepada rakyat dengan mendapatkan keuntungan yang wajar. Sedangkan jika kepemilikan umum tersebut dijual kepada pihak luar negeri, maka diperbolehkan pemerintah mencari keuntungan. Hasil pengelolaan harta kepemilikan umum tersebut harus dikembalikan untuk pembiayaan kepentingan umum dan sarana umum, misalnya pembangunan sekolah-sekolah, rumah sakit-rumah sakit, jalan raya, terminal, pelabuhan, bandara, dan bentuk-bentuk sarana dan pelayanan umum lainnya secara maksimal.
Seperti halnya kasus di Merak, dermaga termasuk fasilitas umum yang pemanfaatannya wajib di bawah pengelolaan Negara, bukan pihak swasta. Negara boleh saja mengambil biaya atas semua pengelolaannya akan tetapi keuntungan diperoleh harus dikembalikan untuk kepentingan umum, misalnya memperluas dermaga atau membeli kapal roro, bukan untuk dibagi-bagikan kepada para komisaris dan direksi. Kalau sampai hal ini terjadi maka sudah bisa dipastikan pemerintah sudah mencederai kepercayaan umat ini dengan tidak menjalankan fungsi pelayanan terhadap umat dengan baik. Jika Islam diterapkan, sudah bisa dipastikan problem antrian seperti yang terjadi saat ini tidak akan terjadi. Pihak pemerintah dalam hal ini khususnya pihak pelabuhan, jika mereka lalai dalam melayani urusan rakyat maka dapat diajukan ke pengadilan untuk dimintai pertanggungjawaban.
Oleh karena itu, Islam merupakan satu-satunya solusi yang tepat dalam menyelesaikan segala permasalahan sistem transportasi saat ini. Islam juga sebagai solusi dari semua persoalaan yang dihadapi umat Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, karena telah terbukti membawa umat Islam dalam peradaban yang baik dan benar, serta dalam kemakmuran yang luar biasa. Wallahu ‘alam bishowab.
sumber : ISLAM OKEY (anonim)
Senin, 21 Mei 2012
MENUNAIKAN PUASA DI BULAN RAJAB
Sang waktu menghantarkan kita masuk pintu gerbang bulan Rajab setiap
tahunnya. Bulan Rajab dari beberapa pendapat merupakan salah satu bulan
yang sangat khusus dan istimewa karena merupakan bulan yang dikhususkan oleh
Allah (Ada 4 bulan muharam: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab). Disamping
itu ada beberapa keistimewaan lain yang ada pada bulan Rajab.
Selain
bulan Ramadhan maka pada bulan Rajab juga memiliki banyak keistimewaan, antara
lain anda bisa mendapatkan Ridha, kemuliaan, pahala yang berlipat,
permohonan doa akan dikabulkan serta akan diampuni segala dosa dan akan
digantikan dengan amal kebaikan. Luar biasa memang, sekarang semua tergantung
anda, apakah akan mengambil peluang emas ini, atau menyia-nyiakannya begitu
saja.
Dalam
salah satu Hadist, yang diriwayatkan oleh Mujibah al-Bahiliyah, Nabi Muhammad SAW telah bersabda, “Puasalah pada bulan-bulan haram (suci dan
mulya).” (Riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad). Sebagaimana diketahui ada
4 bulan Muharam yang mempunyai keistimewaan: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram,
dan Rajab.
Hadist
Rasulullah yang lainnya di Riwayatkan oleh al-Nasa’i dan Abu Dawud yang
kemudian disahihkan oleh Ibnu Huzaimah, Beliau bersabda: “Usamah berkata pada
Nabi Muhammad SAW, “Wahai Rasulullah, saya tak melihat Rasul melakukan puasa
(sunnah) sebanyak yang Rasul lakukan dalam bulan Sya’ban. Kemudian Rasulullah
menjawab: ‘Bulan Sya’ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadhan yang dilupakan
oleh kebanyakan orang.’” Dari hadist tersebut dijelaskan oleh al-Syaukani
(Naylul Authar, dalam konteks pembahasan puasa sunnah) dari ungkapan Nabi
“Bulan Sya’ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadhan yang dilupakan kebanyakan
orang” itu secara implisit menunjukkan bahwa bulan Rajab juga disunnahkan untuk
melakukan ibadah puasa.
Selain
hadist di atas masih terkait puasa bulan Rajab, maka cukup banyak hadist lain
yang menjelaskan tentang hal itu, namun kesahihanya masih dipertanyakan oleh
beberapa ulama, tentu hal demikian bisa menjadi bahan diskusi yang menarik bagi
kita. Hadist-hadist itu antara lain:
- Barang siapa yang berpuasa satu
hari dalam bulan ini dengan ikhlas, maka pasti ia mendapat keridhaan yang
besar dari ALLAH SWT,
Dan barang siapa berpuasa pada tgl 27 Rajab 1427/Isra Mi’raj akan mendapat pahala seperti 5 tahun berpuasa, - Barang siapa yang berpuasa dua hari di bulan Rajab maka akan mendapat kemuliaan di sisi ALLAH SWT,
- Barang siapa yang berpuasa tiga hari yaitu pada tgl 1, 2, dan 3 Rajab maka ALLAH akan memberikan pahala seperti 900 tahun berpuasa dan menyelamatkannya dari bahaya dunia, dan siksa akhirat,
- Barang siapa berpuasa lima hari dalam bulan ini, Insyaallah permintaannya akan dikabulkan,
- Barang siapa berpuasa tujuh hari dalam bulan ini, maka ditutupkan tujuh pintu neraka Jahanam dan barang siapa berpuasa delapan hari maka akan dibukakan delapan pintu syurga,
- Barang siapa berpuasa lima belas hari dalam bulan ini, maka ALLAH akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan menggantikan kesemua kejahatannya dengan kebaikan, dan barang siapa yang menambah (hari-hari puasa) maka ALLAH akan menambahkan pahalanya.”
- Pada malam Mi’raj, saya melihat sebuah sungai yang airnya lebih manis dari madu, lebih sejuk dari air batu dan lebih harum dari minyak wangi, lalu saya bertanya pada Jibril a.s.: “Wahai Jibril untuk siapakah sungai ini?” Maka berkata Jibrilb a.s.: “Ya Muhammad sungai ini adalah untuk orang yang membaca salawat untuk engkau dibulan Rajab ini”.
- Dalam salah satu riwayat lainya menceritakan bahwa Tsauban tengah bercerita : “Ketika kami berjalan bersama-sama Rasulullah SAW ke sebuah kubur, lalu Rasulullah berhenti dan beliau menangis dengan amat sedih, kemudian beliau berdoa kepada ALLAH SWT. Lalu saya bertanya kepada beliau:”Ya Rasulullah mengapakah engkau menangis?” Lalu beliau bersabda :”Wahai Tsauban, mereka itu sedang disiksa dalam kubur nya, dan saya berdoa kepada ALLAH, lalu ALLAH meringankan siksa atas mereka”. Dan lalu beliau bersabda lagi: “Wahai Tsauban, kalau mereka ini mau berpuasa satu hari dan beribadah satu malam saja di bulan Rajab niscaya mereka tidak akan disiksa di dalam kubur.” Lalu Tsauban bertanya: “Ya Rasulullah, apakah hanya berpuasa satu hari dan beribadah satu malam dalam bulan Rajab sudah dapat mengelakkan dari siksa kubur?” Sabda beliau: “Wahai Tsauban, demi ALLAH dzat yang telah mengutus saya sebagai nabi, tiada seorang muslim lelaki dan perempuan yang berpuasa satu hari dan mengerjakan sholat malam sekali dalam bulan Rajab dengan niat karena ALLAH, kecuali ALLAH mencatatkan baginya seperti berpuasa satu tahun dan mengerjakan sholat malam satu tahun.”
- Dalam Sabda beliau yang lain (mursal) Riwayat Abul Fath dari al-Hasan, Rasulullah mengatakan: “Sesungguhnya Rajab adalah bulannya ALLAH, Sya’ban adalah bulanku dan bulan Ramadhan adalah bulan umatku”. “Semua manusia akan berada dalam keadaan lapar pada hari kiamat, kecuali para nabi, keluarga nabi dan orang-orang yang berpuasa pada bulan Rajab, Sya’ban dan bulan Ramadhan. Maka sesungguhnya mereka kenyang, serta tidak akan merasa lapar dan haus bagi mereka.
Hadist-hadist
yang tersebut dengan poin di atas beberapa diantaranya dinilai dha’if (kurang
kuat) hal ini ditegaskan oleh Imam Suyuthi dalam kitab al-Haawi lil
Fataawi. Selain itu ditegaskan pula oleh Ibnu Hajar, dalam kitabnya “Tabyinun
Ujb”, yang menerangkan bahwa tidak ada hadist (baik sahih, hasan, maupun
dha’if) yang menerangkan tentang keutamaan pelaksanaan ibadah puasa di bulan
Rajab.
Pendapat
lain al-Syaukani, dalam Nailul Authar, bahwa Ibnu Subki meriwayatkan dari
Muhamad bin Manshur al-Sam’ani yang mengatakan bahwa tak ada hadis yang kuat
yang menunjukkan kesunnahan puasa Rajab secara khusus. Namun demikian, sesuai
pendapat al-Syaukani, bila semua hadis yang secara khusus menunjukkan sunnah
untuk puasa bulan Rajab, maka hadist yang umum cukup bisa dijadikan hujah
atau landasan.
Dalam
Islam dikenal pula ilmu mushthola al-hadits, yang menjelaskan tentang
berbagai kedudukan hadits. Salah satu hal penting untuk diketahui adalah:
sebuah hadits dha'if ternyata bisa digunakan sebagai dasar dalam pelaksanaan
suatu amalan, yang tidak boleh adalah hadist dha'if tersebut digunakan
sebagai dasar penetapan suatu hukum syara’. Jadi wilayah fungsinya sebagi
sumber motivasi dalam ibadah saja, maka tidak menjadi masalah.
Demikian
semoga para muslimin dan muslimat bisa segera mengambil manfaat dari waktu yang
disisakan oleh Allah untuk kehidupan kita. Keikhlasan untuk mejalankan
perintahnya semoga merupakan puncak ibadah yang membahagiakan. Aamiin.
Sumber:
(shalimow.com, pesantren virtual.com, ikwanti.wordpress.com, dan sumber lainnya).
Minggu, 13 Mei 2012
Berbuat Kebaikan itu Mudah dan Ringan (repost)
Dalam kajian Hadits Arba’in nomor 26 telah disebutkan bahwa Rasulullah saw begitu bersemangat dalam menunjukkan dan membuka setiap peluang kebaikan bagi umatnya. Beliau saw juga selalu berupaya menepis dan menutup munculnya sifat putus asa dan rasa tidak mampu dari dalam diri umatnya saat mereka dihadapkan pada berbagai amal keagamaan yang mereka anggap berat.
Perbuatan ringan bernilai sedekah
Rasulullah saw menjelaskan bahwa, “Pada diri manusia terdapat 360 ruas tulang, maka hendaklah ia bersedekah melalui setiap ruas ini.” Mendengar hal itu, spontan saja para sahabat bertanya, “Siapakah yang mampu melakukannya, wahai Nabi Allah?”
Spontanitas para sahabat ini wajar saja. Betapa tidak, bagi kebanyakan para sahabat yang sederhana, mungkinkah setiap hari bersedekah sebanyak 360 kali? Lebih tidak mungkin lagi adalah bahwa sedekah yang 360 kali itu hendaknya dilakukan oleh setiap ruas tulang!
Melihat bahwa para sahabatnya – juga umatnya – keberatan atas hal ini, maka Rasulullah menjelaskan jalan keluarnya. Beliau kemudian bersabda, “Engkau meludah di masjid dan menguruk (atau menimbun dengan pasir karena di zaman itu lantai masjid masih berupa pasir), sesuatu yang ada di jalan yang engkau singkirkan…”
Penjelasan seperti itu membuat sahabat mengerti bahwa bersedekah 360 kali, setiap hari dan atas nama setiap ruas tulang, ternyata bisa diwujudkan melalui pekerjaan-pekerjaan ringan. Begitu mudahnya hingga siapa saja, baik tua atau muda, kaya atau miskin, besar atau kecil, asal bersedia, dapat melakukannya.
Siapakah yang tidak mampu menguruk ludahnya dengan pasir atau kerikil atau semacamnya setelah ia meludah? Siapakah yang tidak mampu menyingkirkan sesuatu yang berpotensi membahayakan orang yang lewat dari tengah jalan? Siapakah yang keberatan untuk mengucapkan tasbih (subhanallah), tahmid (alhamdulillah), takbir (Allahu Akbar), istighfar (astaghfirullah) dan semacamnya?
Kenapa manusia tidak tertarik membantu saudaranya yang sedang mengangkat atau menjinjing barangnya? Siapakah yang merasa keberatan memberi petunjuk arah yang benar saat melihat orang kehilangan arah dalam suatu perjalanan? Dan yang lebih ringan lagi adalah, siapakah yang tidak mampu menahan dirinya agar tidak menyakiti orang lain?
Dalam penjelasan selanjutnya, beliau saw bersabda, "Jika tidak mampu, maka dua rakaat Dhuha cukup sebagai gantinya” (Hadits shahih lighairihi diriwayatkan oleh Ahmad [5/354, 359] dan Abu Daud hadits no. 5242). Jadi, bahkan sedekah pun dapat diganti dengan ‘hanya’ mengerjakan shalat Dhuha.
Rasulullah pun mencontohkan perbuatan ringan lainnya yang bernilai sedekah. Beliau bersabda, "Kalian tidak akan masuk surga sehingga beriman, dan tidak beriman sehingga saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang jika kalian melakukannya niscaya kalian akan saling mencintai? Maka. sebarkanlah salam di antara sesama kalian" (hadits shahih, diriwayatkan oleh Muslim no. 106).
Di bagian awal hadits ini, ada kesan ancaman. Sebab dinyatakan oleh beliau para sahabat tidak akan dapat masuk surga. Namun Rasulullah memberi jalan keluar agar para sahabat – dan umatnya – bisa masuk surga, yaitu dengan cara: beriman. Rupanya, beriman pun dianggap sulit. Maka, Rasulullah memberi jalan keluar lainnya, yaitu dengan keharusan saling mencintai sesama mukmin. Lalu beliau saw menunjukkan rahasia untuk saling mencintai, yaitu menyebarluaskan salam.
Sifat-sifat Rasulullah saw
Contoh-contoh tersebut menegaskan bahwa Rasulullah saw, sebagaimana tercantum dalam QS At-Taubah: 128, adalah seorang Rasul yang merasakan beratnya penderitaan yang dialami umatnya, yang sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagi umatnya dan yang penyantun serta penyayang terhadap orang-orang yang beriman.
Sifat-sifat Rasulullah tersebut merupakan suri teladan bagi umatnya, dalam konteks ini khususnya untuk para guru, pendidik dan pemimpin. Dalam rangka meneladani Rasulullah dalam perkara ini, para pakar pendidikan Islam menjelaskan, di antara adab seorang guru kepada muridnya hendaklah:
Memberi bimbingan kepada sang murid agar ia mencapai kemaslahatannya. Bersikap sayang dan lembut kepada sang murid. Membantunya sekuat kemampuannya agar sang murid mendapatkan ilmu. Memotivasinya agar selalu semangat dalam belajar. Senantiasa mengingatkan sang murid akan keutamaan ilmu, sebab yang demikian itu akan meningkatkan semangatnya. Memerhatikan kemaslahatan sang murid sebagaimana ia memerhatikan kemaslahatan anak dan dirinya sendiri. Mencintai sang murid sebagaimana ia mencintai diri sendiri. Menjauhkan sang murid dari hal-hal yang tidak disukainya sebagaimana ia menjauhkan hal itu dari dirinya (lihat At-Tibyan fi Adab Hamalatil Qur'an, karya Imam Nawawi, hal. 39 – 40).
Kemudian dengan memerhatikan teladan Rasulullah tersebut, maka terkait dengan pemimpin, para ulama pun mengatakan bahwa di antara adab pemimpin adalah:
Bersikap sayang dan lembut kepada rakyat. Mengambil hak dari mereka dan menyerahkannya kepada yang berhak. Menutup celah-celah yang membahayakan mereka. Mengamankan jalan. Menegakkan keadilan dengan cara menindak yang zalim dan membela yang terzalimi. Mengupayakan agar si kuat membela si lemah (lihat Al-Jauhar an-Nafis fi Siyasat Ar-Rais, hal. 133).
Adab-adab seperti ini, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama adab (pendidikan) dan ulama-ulama siyasah (politik), adalah hasil kajian dan penelusuran mereka kepada cara-cara Rasulullah saw dalam mendidik dan memimpin, yang semuanya mengacu kepada QS At-Taubah: 128, sebagaimana telah dijelaskan di atas.
Inilah butir-butir pelajaran yang dapat digali dari hadits Arba'in An-Nawawiyyah ke-26. Semoga Allah swt memberi taufik, hidayah dan kekuatan kepada kita dan menjadikan kita hamba-hamba yang mendengarkan perkataan-perkataan yang terbaik, lalu mengikuti dan mengamalkannya. Amiin.
(sumber : http://ummi-online.com/berita-56-berbuat-kebaikan-itu-mudah-dan-ringan.html )
Perbuatan ringan bernilai sedekah
Rasulullah saw menjelaskan bahwa, “Pada diri manusia terdapat 360 ruas tulang, maka hendaklah ia bersedekah melalui setiap ruas ini.” Mendengar hal itu, spontan saja para sahabat bertanya, “Siapakah yang mampu melakukannya, wahai Nabi Allah?”
Spontanitas para sahabat ini wajar saja. Betapa tidak, bagi kebanyakan para sahabat yang sederhana, mungkinkah setiap hari bersedekah sebanyak 360 kali? Lebih tidak mungkin lagi adalah bahwa sedekah yang 360 kali itu hendaknya dilakukan oleh setiap ruas tulang!
Melihat bahwa para sahabatnya – juga umatnya – keberatan atas hal ini, maka Rasulullah menjelaskan jalan keluarnya. Beliau kemudian bersabda, “Engkau meludah di masjid dan menguruk (atau menimbun dengan pasir karena di zaman itu lantai masjid masih berupa pasir), sesuatu yang ada di jalan yang engkau singkirkan…”
Penjelasan seperti itu membuat sahabat mengerti bahwa bersedekah 360 kali, setiap hari dan atas nama setiap ruas tulang, ternyata bisa diwujudkan melalui pekerjaan-pekerjaan ringan. Begitu mudahnya hingga siapa saja, baik tua atau muda, kaya atau miskin, besar atau kecil, asal bersedia, dapat melakukannya.
Siapakah yang tidak mampu menguruk ludahnya dengan pasir atau kerikil atau semacamnya setelah ia meludah? Siapakah yang tidak mampu menyingkirkan sesuatu yang berpotensi membahayakan orang yang lewat dari tengah jalan? Siapakah yang keberatan untuk mengucapkan tasbih (subhanallah), tahmid (alhamdulillah), takbir (Allahu Akbar), istighfar (astaghfirullah) dan semacamnya?
Kenapa manusia tidak tertarik membantu saudaranya yang sedang mengangkat atau menjinjing barangnya? Siapakah yang merasa keberatan memberi petunjuk arah yang benar saat melihat orang kehilangan arah dalam suatu perjalanan? Dan yang lebih ringan lagi adalah, siapakah yang tidak mampu menahan dirinya agar tidak menyakiti orang lain?
Dalam penjelasan selanjutnya, beliau saw bersabda, "Jika tidak mampu, maka dua rakaat Dhuha cukup sebagai gantinya” (Hadits shahih lighairihi diriwayatkan oleh Ahmad [5/354, 359] dan Abu Daud hadits no. 5242). Jadi, bahkan sedekah pun dapat diganti dengan ‘hanya’ mengerjakan shalat Dhuha.
Rasulullah pun mencontohkan perbuatan ringan lainnya yang bernilai sedekah. Beliau bersabda, "Kalian tidak akan masuk surga sehingga beriman, dan tidak beriman sehingga saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang jika kalian melakukannya niscaya kalian akan saling mencintai? Maka. sebarkanlah salam di antara sesama kalian" (hadits shahih, diriwayatkan oleh Muslim no. 106).
Di bagian awal hadits ini, ada kesan ancaman. Sebab dinyatakan oleh beliau para sahabat tidak akan dapat masuk surga. Namun Rasulullah memberi jalan keluar agar para sahabat – dan umatnya – bisa masuk surga, yaitu dengan cara: beriman. Rupanya, beriman pun dianggap sulit. Maka, Rasulullah memberi jalan keluar lainnya, yaitu dengan keharusan saling mencintai sesama mukmin. Lalu beliau saw menunjukkan rahasia untuk saling mencintai, yaitu menyebarluaskan salam.
Sifat-sifat Rasulullah saw
Contoh-contoh tersebut menegaskan bahwa Rasulullah saw, sebagaimana tercantum dalam QS At-Taubah: 128, adalah seorang Rasul yang merasakan beratnya penderitaan yang dialami umatnya, yang sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagi umatnya dan yang penyantun serta penyayang terhadap orang-orang yang beriman.
Sifat-sifat Rasulullah tersebut merupakan suri teladan bagi umatnya, dalam konteks ini khususnya untuk para guru, pendidik dan pemimpin. Dalam rangka meneladani Rasulullah dalam perkara ini, para pakar pendidikan Islam menjelaskan, di antara adab seorang guru kepada muridnya hendaklah:
Memberi bimbingan kepada sang murid agar ia mencapai kemaslahatannya. Bersikap sayang dan lembut kepada sang murid. Membantunya sekuat kemampuannya agar sang murid mendapatkan ilmu. Memotivasinya agar selalu semangat dalam belajar. Senantiasa mengingatkan sang murid akan keutamaan ilmu, sebab yang demikian itu akan meningkatkan semangatnya. Memerhatikan kemaslahatan sang murid sebagaimana ia memerhatikan kemaslahatan anak dan dirinya sendiri. Mencintai sang murid sebagaimana ia mencintai diri sendiri. Menjauhkan sang murid dari hal-hal yang tidak disukainya sebagaimana ia menjauhkan hal itu dari dirinya (lihat At-Tibyan fi Adab Hamalatil Qur'an, karya Imam Nawawi, hal. 39 – 40).
Kemudian dengan memerhatikan teladan Rasulullah tersebut, maka terkait dengan pemimpin, para ulama pun mengatakan bahwa di antara adab pemimpin adalah:
Bersikap sayang dan lembut kepada rakyat. Mengambil hak dari mereka dan menyerahkannya kepada yang berhak. Menutup celah-celah yang membahayakan mereka. Mengamankan jalan. Menegakkan keadilan dengan cara menindak yang zalim dan membela yang terzalimi. Mengupayakan agar si kuat membela si lemah (lihat Al-Jauhar an-Nafis fi Siyasat Ar-Rais, hal. 133).
Adab-adab seperti ini, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama adab (pendidikan) dan ulama-ulama siyasah (politik), adalah hasil kajian dan penelusuran mereka kepada cara-cara Rasulullah saw dalam mendidik dan memimpin, yang semuanya mengacu kepada QS At-Taubah: 128, sebagaimana telah dijelaskan di atas.
Inilah butir-butir pelajaran yang dapat digali dari hadits Arba'in An-Nawawiyyah ke-26. Semoga Allah swt memberi taufik, hidayah dan kekuatan kepada kita dan menjadikan kita hamba-hamba yang mendengarkan perkataan-perkataan yang terbaik, lalu mengikuti dan mengamalkannya. Amiin.
(sumber : http://ummi-online.com/berita-56-berbuat-kebaikan-itu-mudah-dan-ringan.html )
DZIKIR ALA ROSULALLAH SAW
| DZIKIR ALA ROSULALLAH SAW | |
|
|
عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: «كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ
Dari Aisyah ra berkata : Nabi SAW berdzikir kepada Allah pada setiap waktunya (HR : Muslim. No : 373, Maktabah Syamilah)
Ibnu
Hajar Al-asqolani dalam kitabnya “Fathulbari” menjelaskan : bahwa
dzikir bisa bermakna mengucapkan ucapan yang dianjurkan syari’at seperti
Albaqiyatusholihat (artinya amalan-amalan yang kekal dan baik, yakni
:Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu akbar), Hauqallah (la haula wala
quwwata illa billah), basmalah, hasballah (hasbiyallah wani’mal wakil)
istighfar, dan do’a-do’a untuk kebaikan dunia dan akhirat. Selain itu
sebenarnya, termasuk dzikir juga selalu menjaga amal-amal wajib dan
sunnah seperti membaca : Alqur-an, hadits, mengkaji ilmu dan mengamalkan
sholat sunnah.
Alhafidz menjelaskan juga bahwa
dzikir dengan lisan sudah dapat pahala walau sebatas terucap di lisan
dan tidak menyertakan hati , asalkan tahu ma’na dari apa yang
diucapkannya itu, tetapi apabila dzikir tersebut dengan menertakan hati ,
itu lebih baik lagi, apabila dzikir disertai dengan penghayatan
terhadap ma’na dzikir yang diucapkan seperti menganungkan Allah ta’ala
dan menghilangkan segala darinya, itu lebih baiklagi. Apabiladisertai
amal seperti jihad, sholat atau yang lainnya,itu lebih baik lagi.dan
apabila ia betul-betul ikhlas dan hanya mengharap Allah SWT,itu adalah
dzikir yang paling sempurna.
Mengutip
penjelasan Fakhru Razi, bahwa dzikir itu bisa dengan hati ya’ni
bertafakur, dengan lisa ya’ni mengucapkan bacaan yang disyari’atkan,
atau dengan anggota badan ya’ni melaksanakan ketaatan, oleh karena itu
sholat dalam Alqur-an disebut juga dzikir “Fas’au ila dzikrillah” (QS :
Ajumu’ah : 9).
Imam Nawawi dalam salah satu kitabnya mengenai dzikir beliau menjelaskan :
اِعْلَمْ
اَنَّ فَضِيْلَةَ الذِّكْرِ غَيْرَ مُنْحَصِرَةً فِى التَّسْبِيْحِ
وَالتَّهْلِيْلِ وَالتَّهْمِيْدِ وَالتَّكْبِيْرِ وَنَحْوِهَا ، بَلْ كُلُّ
عَامِلٍ لِلَهِ تَعَالَى بِطَاعَةٍ فَهُوَ ذَاكِرٌ لِلَّهِ تَعَالَى ،
كَذَا قَالَهُ سَعِيْدُ بْنُ جُبَيْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَغَيْرُهُ مِنَ
الْعُلَمَاءِ
Ketahuilah keutamaan
dzikir itu tidak terbatas pada tasbih, tahlil,tahmid, takbir dan yang
semacamnya, tetapi semua orang yang mengamalkan ketaatan, itu termasuk
orang yang dzikir kepada Allah ta’ala, sebagaimana dinyatakan oleh Sa’id
Ibnu Jubair dan para ulama lainnya. (Al-adzkar : 9)
Ketika menyinggung ayat “....dan
laki-laki dan perempuan yang berdzikir kepada Allah dengan banyak,
Allah menyediakan ampunan dan pahala yang besar bagi mereka” (QS :
Al-Ahzab : 35), Imam Nawawi mengutip penjelasan dari Ibnu Abbas,
Mujahid, Atho dan Abu Amr ibnu Sholah bahwa yang dimaksud adalah
berdzikir sesudah sholat, diwaktu pagi dan petang, ketika hendak tidur,
bangun tidur, keluar masuk rumah, melaksanakan sholat lima waktu dengan
sebenarnya, selalu ingat keapada Allah disetiap saat, dan dzikir-dzikir
yang ma’tsur (ada landasan dalilnya) disetiap waktunya baik siang atau
malam, itu semua termasuk dalam pengertian ayat diatas (Al-adzkar : 7)
Dzikir-dzikir
yang ma’tsur telah banyak dikompilasikan oleh para ulama melalui
berbagai kitab dan bukunya, yang di Indonesia lebih populer dengan
istilah do’a, seperti dzikir bangun tidur, pergi ke WC, bercermin,
berpakaian, sebelum dan sesudah makan, keluar dan masuk rumah, masuk dan
keluar masjid, berkendaraan, ketika melihar fenomena alam, angin ribut,
hujan besar,petir, sampai ketika hendak tidur lagi ataupun bersenggama.
Semua dzikir tersebut tentu tidak hanya dengan mengandalkan “ingat”
saja, tetapi harus diucapkan.
Syaikh
Abdurrozaq ibnu Abdl Muhsin Al-badr dalam kitabnya Fiqh alhidayah wal
adzkar menjelaskan,bentuk amal dzikir sudah dijelaskan Allah SWT dalam
salah satu firman-Nya, yaitu :
وَاذْكُرْ
رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ
الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ
Dan
sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa
takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, diwaktu pagi dan sore, dan
janganlah kamu termasukorang-orang yang lalai (QS : Al’arof : 205)
Dari
ayat diatas, menurut Albadr, setidaknya ada tujuh adab dan sekaligus
kriteria dari dzikir yang disebutkan ayat tersebut sebagai amalan
menyebut/mengingat Robb, yaitu : (1) di dalam hati, penuh keikhlasan,
melibatkan emosi tidak hanya dilisan atau dalam lintasan pemikiran, (2)
Tadlaorru : merendahkan diri, menjauhkan semua sifatkesombongan dan
mengakui kerendahan diri dihadapan keagungan Allh. (3) penuh ketakutan :
takut dzikir dan permohonannya tidakditerima Allah SWT, (4) tidak
menjaharkan( mengeraskan ) suara , sebab merenung yang paling baik
adalah dengan cara seperti ini , (5) Melibatkan lisan, tidak hanya hati,
meski tidak sampai jahar . terambil dari firman Allah SWT : Dunaljahri minalqaul
, jadi adanya qaul, gerak lisan yang tidak sampai jahar. Terlebih
memang Nabi SAW mencontohkan dalam berbagai haditsnya dzikir itu
diucapkan oleh lisan, (6) di waktu pagi dan sore, dua waktu ini
merupakan waktu istimewa untuk dzikir, bukan berarti hanya di dua waktu
ini, melainkan waktu yang terbaik dan harus diprioritaskan, (7) tidak
lalai dari dzikir, selalu merutinkannya walaupun sedikit (Fiqh Al-adiyah
wal adzkar : 1 : 57 – 59).
Terkait
waktu pagi dan sore , ada ulama yang menafsirkan sepanjang waktu dari
pagi sampai sore, tetapi lebih banyak lagi yang menafsirkan adanya
dzikir khusus di kedua waktu tersebut. Praktiknya bisa sesudah sholat
shubuh dan ashar, sebab di hadits juga disebutkan dua waktu tersebutlah
waktu pergantian malaikat siang dan malam (Shohih Muslim , no 1464 –
1465), bisa juga diluar sholat itu asalkan diwaktu pagi dan sore,
seperti waktu sholat dluha ataupun qobla maghrib, salah satu hadits
diantaranya menginformasikan jenis dzikir yang satu ini :
عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: " مَنْ قَالَ: حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ يُمْسِي: سُبْحَانَ اللهِ
وَبِحَمْدِهِ، مِائَةَ مَرَّةٍ، لَمْ يَأْتِ أَحَدٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ،
بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ، إِلَّا أَحَدٌ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ أَوْ
زَادَ عَلَيْهِ "
Dari
Abi Hurairoh berkata : bersabda Rosulallah SAW : barang siapa ketika
pagi dan sore, membaca do’a : Subhanallah wabihamdihi(maha suci Allah
dan segala puji bagi-Nya) sebanyak seratus kali , maka pada hari kiamat
tidak ada orang lain yang melebihi pahalanya kecuali orang yang juga
pernah mengucapkan bacaan seperti itu atau lebih dari itu(HR : Muslim .no 2692)
Berkaitan
dengan dzikir ini terdapat hadits yang menginformasikan adanya dzikir
melalui satu majelis, seperti hadits berikut ini :
وَإِنَّ
رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَلَى حَلْقَةٍ
مِنْ أَصْحَابِهِ، فَقَالَ: «مَا أَجْلَسَكُمْ؟» قَالُوا: جَلَسْنَا
نَذْكُرُ اللهَ وَنَحْمَدُهُ عَلَى مَا هَدَانَا لِلْإِسْلَامِ، وَمَنَّ
بِهِ عَلَيْنَا، قَالَ: «آللَّهِ مَا أَجْلَسَكُمْ إِلَّا ذَاكَ؟» قَالُوا:
وَاللهِ مَا أَجْلَسَنَا إِلَّا ذَاكَ، قَالَ: «أَمَا إِنِّي لَمْ
أَسْتَحْلِفْكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ، وَلَكِنَّهُ أَتَانِي جِبْرِيلُ
فَأَخْبَرَنِي، أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِي بِكُمُ الْمَلَائِكَةَ»
Dan
sesungguhnya Rosulallah SAW pernah keluar menemui sebuah kumpulan para
shohabat, lalu beliau bertanya : apa yang membuat kalian duduk disini ?
mereka menjawab : kami duduk untuk berdzikir kepada Allah dan memuji-Nya
atas anugrah hidayah islam yang telah diberikan kepada kami, Nabi SAW
bertanya : demi Allah, betulkah kalian tidak duduk kecuali untuk itu ?
mereka menjawab : demi Allah, kami tidak duduk kecuali untuk itu, Nabi
SAW bersabda: aku tidak meminta kalian bersumpah disebabkan meragukan
kalian, tetapi Jibril tadi datang dan memberitahukan bahwa Allah ‘azz
wajalla merasa bangga dengan kalian dihadapan Malaikat (HR: Muslim .
dari Mu’awiyah. No : 2701)
Akan
tetapi syaikh Utsaimin enegaskan : jangan langsung dipahami bahwa
majelis dzikir para shohabat ini adalah dengan suara keras dan bacaan
yang diseragamkan, sebab tidak ada satupun keterangan bahwa generasi
salaf (terdahulu) mempraktikkan dzikir berjama’ah seperti kaum
sufi/tasawuf saat ini, dzikir disini hanya sebatas mengingat-ingat
ni’mat Allah SWT, tidak lebih dari itu (syarah Riadlu sholihin 4 :
25-26) imam Nawawi dalam hal ini mengutip penjelasan Atho :
مَجَالِسُ
الذِّكْرِ هَيَ مَجَالِسُ الْحَلَالِ وَالْحَرَامِ ، كَيْفَ تَشْتَرِي
وَتَبِيْعُ وَتُصَلِّى وَتَصُوْمُ وَتَنْكِحُ وَتُطَلِّقُ وَتَحُجُّ
وَاَشْبَاهُ هَذَا
Majelis-majelis
dzikir itu adalah majelis-majelis yang membahas hukum halal dan haram,
bagaimana cara jual beli, sholat, shaum, nikah, thalaq, haji dan
semacamnya (Al-adzkar : 7)
Maka
dari itu imam Nawawi dalam kitabna Riyadlu sholihin, memasukan juga
dalam bab majelis dzikir ini hadits tentang majelis ta’lim dan kajian
Alqur-an.
Terlebih
khobar yang disampaikan Ibnu Mas’ud sangat jelas untuk menyanggah
adanya majelis-majelis dzikir buatn yang tidak ma’tsur dari Nabi SAW ,
tatkala mendengar ada beberapa halaqoh (kumpulan) orang-orang yang
berdzikir berjama’ah dipandu oleh seseorang dengan menggunakan batu
kerikil sebagai alat menghitungnya , ibnu Mas’ud langsung datang ke
Masjid tersebut dan berkata dengan keras:
«مَا
هَذَا الَّذِي أَرَاكُمْ تَصْنَعُونَ؟» قَالُوا: يَا أَبَا عَبْدِ
الرَّحْمَنِ حصًا نَعُدُّ بِهِ التَّكْبِيرَ وَالتَّهْلِيلَ
وَالتَّسْبِيحَ. قَالَ: «فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ، فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ
لَا يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَيْءٌ وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ،
مَا أَسْرَعَ هَلَكَتَكُمْ هَؤُلَاءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَوَافِرُونَ، وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ،
وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّكُمْ لَعَلَى
مِلَّةٍ هِيَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ أوْ مُفْتَتِحُو بَابِ ضَلَالَةٍ» . قَالُوا: وَاللَّهِ يَا
أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ، مَا أَرَدْنَا إِلَّا الْخَيْرَ. قَالَ: «وَكَمْ
مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ، إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَنَا أَنَّ» قَوْمًا يَقْرَءُونَ
الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ "، وَايْمُ اللَّهِ مَا أَدْرِي
لَعَلَّ أَكْثَرَهُمْ مِنْكُمْ، ثُمَّ تَوَلَّى عَنْهُمْ.
Celaka
kalian hai umat Muhammad, alngkah cepatnya kalian binasa , padahal para
shohabat masih banyak , baju Rosul belum musnah, bejana-bejananya belum
hancur (maksudnya belum lama Rosulallah SAW wafat). Demi Allah , apakah
kalian mengira ada dalam millah yang lebih bagus daripada millah
Muhammad, ataukah justru kalian membuka pintu kesesatan ? mereka
menjawab : hai Abu Abdirrahman , maksud kami baik. Jawab Ibnu Mas’ud :
bukankah banyak dari orang-orang yang bermaksud baik tapi ia tidak
mencapai kebaikan!?, sesungguhnya Rosulallah SAW sudah mengingatkan kita
akan adanya sekelompok orang yang mereka membaca Alqur-an , tapi tidak
bisa melewati tenggorokan mereka, Demi Allah , aku tidak tahu, bisa
jadi kebanyakan dari kalian termasuk dari mereka (Sunan Addarimi :
210)
Maksud
dari “kelompok yang membaca Alqur-an , tapi tidak melewati tenggorokan”
adalah kelompok sesat yang diinformasikan Nabi SAW akan datang dimasa
sesudah Nabi SAW. Ciri mereka membaca Alqur-an, tapi hanya sekedar suara
saja, tidak mengkaji dan memahami apa maksudnya.
sumber : http://www.fiqhsunnah.com/fiqh/dzikir-ala-rosulallah-saw.html
|
Sabtu, 12 Mei 2012
KESAKSIAN IBLIS
Dari Muadz bin Jabal dari Ibn Abbas
Ketika kami sedang
bersama Rasulullah SAW di kediaman seorang sahabat Anshar, terdengar panggilan
seorang dari luar rumah, ”Wahai penghuni rumah, bolehkah aku masuk? Sebab
kalian akan membutuhkanku”. Rasulullah bersabda, “Tahukah kalian siapa yang
memanggil?” Kami menjawab: “Allah dan rasulNya yang lebih tahu”. Beliau melanjutkan,
“Itu iblis, laknat Allah bersamanya.” Umar bin Khattab berkata, “Izinkan aku
membunuhnya wahai Rasullulah”. Nabi menahannya, “Sabar wahai Umar, bukankah
kamu tahu bahwa Allah memberinya kesempatan hingga hari kiamat? Lebih bukakan
pintu untuknya, sebab dia telah diperintahkan untuk ini, pahamilah apa hendak
ia katakan dan dengarkan dengan baik”.
Pintu
lalu dibuka, ternyata dia seperti seorang kakek yang cacat satu matanya. Di
janggutnya terdapat 7 helai rambut seperti rambut kuda, taringnya terlihat
seperti taring babi, bibirnya seperti bibir sapi.
Iblis berkata, “Salam untukmu
Muhammad. Salam untukmu para hadirin.” Rasulullah SAW lalu menjawab, “Salam
hanya milik Allah SWT. Sebagai makhluk terlaknat, apa keperluanmu?”
Iblis menjawab, “Wahai Muhammad, aku datang kesini bukan atas kemauanku, namun karena terpaksa”.
Iblis menjawab, “Wahai Muhammad, aku datang kesini bukan atas kemauanku, namun karena terpaksa”.
“Siapa yang memaksamu?”
“Seorang malaikat utusan Allah
mendatangiku dan berkata: ‘Allah SWT memerintahkanmu untuk mendatangi Muhammad
sambil menundukan diri. Beritahu Muhammad tentang caramu dalam menggoda
manusia. Jawablah dengan jujur semua pertanyaannya. Demi kebesaran Allah, andai
kau berdusta satu kali saja, maka Allah akan jadikan dirimu debu yang ditiup
angin.’ Oleh karena itu aku sekarang mendatangimu. Tanyalah apa yang hendak kau
tanyakan. Jika aku berdusta, aku akan dicaci oleh setiap musuhku. Tidak ada
sesuatu pun yang paling besar menimpaku daripada cacian musuh.”
Orang yang dibenci Iblis
Rasulullah SAW lalu bertannya kepada
iblis, “Kalau kau benar jujur, siapakah manusia yang paling kau benci?”
Iblis segera menjawab, “Kamu, kamu
dan orang sepertimu adalah makhluk Allah yang paling aku benci.”
“Siapa selanjutnya?” tanya
Rasulullah.
“Pemuda yang bertaqwa memberikan
dirinya mengabdi kepada Allah SWT.”
“Lalu Siapa lagi?”
“Orang alim dan wara’ (loyal).”
“Lalu siapa lagi?”
“Orang yang selalu bersuci.”
“Siapa lagi?”
“Seorang yang fakir yang sabar dan
tak pernah mengeluhkan kesulitannya kepada orang lain?”
“Apa tanda kesabarannya?”
“Wahai Muhammad, jika ia tidak mengeluhkan
kesulitannya kepada orang lain selama 3 hari, Allah akan memberi pahala orang-orang
yang sabar”.
“Selanjutnya apa?”
“Orang yang bersyukur”
“Apa tanda kesyukurannya ?”
“Ia mengambil kekayaannya dari
tempatnya dan mengeluarkannya juga dari tempatnya”.
“Orang seperti Abu Bakar,
menurutmu?”
“Ia tidak menurutiku di masa jahiliyah,
apalagi dalam Islam.”
“Umar bin Khattab?”
“Demi Allah setiap berjumpa
dengannya aku pasti kabur.”
“Usman bin Affan?”
“Aku malu kepada orang yang malaikat
pun malu kepadanya.”
“Ali bin Abi Thalib?”
“Aku berharap darinya agar kepalaku
selamat, dan berharap ia melepaskanku dan aku melepaskannya. Tetapi ia tak akan
mau melakukan itu.” (karena Ali Abi Thalib selalu berdzikir terhadap Allah
SWT).
Amalan yang Dapat Menyakiti Iblis
“Apa yang kau rasakan jika melihat
seseorang dari umatku yang hendak shalat ?”
“Aku merasa panas dingin dan
gemetar.”
“Kenapa ?”
“Sebab, setiap seorang hamba bersujud
1x kepada Allah, Allah mengangkatnya 1 derajat.”
“Jika seorang umatku berpuasa?”
“Tubuhku terasa terikat hingga ia
berbuka.”
“Jika ia berhaji?”
“Aku seperti orang gila.”
“Jika ia membaca Al-Qur’an?”
“Aku merasa meleleh laksana timah di
atas api.”
“Jika ia bersedekah”
“Itu sama saja orang tersebut membelah
tubuhku dengan gergaji.”
“Mengapa bisa begitu?”
“Sebab dalam sedekah ada 4
keuntungan baginya. Yaitu keberkahan dalam hartanya, hidupnya disukai, sedekah
itu kelak akan menjadi hijab antara dirinya dengan api neraka dan segala macam
musibah akan terhalau dari dirinya.”
“Apa yang dapat mematahkan
pinggangmu?”
“Suara kuda perang di jalan Allah.”
“Apa yang dapat melelehkan tubuhmu
?”
“Taubat orang bertaubat.”
“Apa yang dapat membakar hatimu?”
“Istighfar diwaktu siang dan malam.”
“Apa yang dapat mencoreng wajahmu ?”
“Sedekah yang diam-diam.”
“Apa yang dapat merusak wajahmu?”
“Shalat fajar.”
“Apa yang dapat memukul kepalamu?”
“Shalat berjama’ah.”
“Apa yang paling mengganggumu?”
“Majelis para ulama.”
“Bagaimana cara makanmu?”
“Dengan tangan kiri dan jariku.”
“Dimana kah kau menaungi anak-anakmu
di musim panas?”
“Di bawah kuku manusia.”
Manusia Yang Menjadi Teman Iblis
Nabi lalu bertanya, “Siapa temanmu
wahai Iblis?”
“Pemakan riba”
“Siapa sahabatmu?”
“Pezina.”
“Siapa teman tidurmu?”
“Pemabuk.”
“Siapa utusanmu?”
“Tukang sihir.”
“Apa yang membuatmu gembira?”
“Bersumpah dengan cerai.”
“Siapa kekasihmu?”
“Orang yang meninggalkan shalat
jum’at.”
“Siapa manusia yang paling
membahagiakanmu?”
“Orang yang meninggalkan shalatnya
dengan sengaja.”
Iblis Tidak Berdaya Dihadapan Orang
yang Ikhlas
Rasullullah SAW lalu bersabda, “Segala
puji bagi Allah yang telah membahagiakan umatku dan menyengsarakanmu.”
“Iblis segera menimpali, “Tidak. Tak akan ada kebahagiaan selama aku hidup hingga hari akhir. Bagaimana kau bisa berbahagia dengan umatmu, sementara aku bisa masuk ke dalam aliran darah mereka dan mereka tak bisa melihatku. Demi yang menciptakan diriku dan memberikanku kesempatan hingga hari akhir, aku akan menyesatkan mereka semua. Baik yang bodoh, atau yang pintar, yang bisa membaca dan tidak bisa membaca, yang durjana dan yang sholeh, kecuali hamba Allah yang ikhlas.”
“Iblis segera menimpali, “Tidak. Tak akan ada kebahagiaan selama aku hidup hingga hari akhir. Bagaimana kau bisa berbahagia dengan umatmu, sementara aku bisa masuk ke dalam aliran darah mereka dan mereka tak bisa melihatku. Demi yang menciptakan diriku dan memberikanku kesempatan hingga hari akhir, aku akan menyesatkan mereka semua. Baik yang bodoh, atau yang pintar, yang bisa membaca dan tidak bisa membaca, yang durjana dan yang sholeh, kecuali hamba Allah yang ikhlas.”
“Siapa orang yang ikhlas menurutmu?”
“Tidaklah kau tahu wahai Muhammad,
bahwa barang siapa yang menyukai emas dan perak, ia bukan orang yang ikhlas.
Jika kau lihat orang yang tidak menyukai dinar dan dirham, tidak suka pujian
dan sanjungan, aku bisa pastikan bahwa ia orang yang ikhlas, maka aku
meninggalkannya. Selama seorang hamba masih menyukai harta dan sanjungan dan
hatinya selalu terikat dengan kesenangan dunia, ia sangat patuh padaku.”
Iblis Dibantu oleh 70.000 Anak-anaknya
Tahukah kamu Muhammad, bahwa aku
mempunyai 70.000 anak dan setiap anak memilki 70.000 syaitan. Sebagian ada yang
aku tugaskan untuk mengganggu ulama. Sebagian untuk mengganggu anak-anak muda,
sebagian untuk mengganggu orang tua sebagian untuk mengganggu wanita tua,
sebagian anakku juga aku tugaskan kepada para zahid.
Aku punya anak yang suka mengencingi
telinga manusia sehingga ia tidur pada shalat berjama’ah. Tanpanya manusia tidak
akan mengantuk pada waktu shalat berjama’ah. Aku punya anak yang suka
menaburkan sesuatu di mata orang yang sedang mendengarkan ceramah ulama hingga
mereka tertidur hingga pahalanya terhapus. Aku punya anak yang senang berada di
lidah manusia. Jika seseorang melakukan kebajikan lalu ia beberkan kepada
manusia, maka 99% pahalanya akan terhapus. Pada setiap seseorang wanita yang
berjalan, anakku dan syaitan duduk di pinggul dan pahanya, lalu menghiasinya
agar setiap orang memandanginya. Syaitan juga berkata, ”Keluarkan tanganmu”,
lalu ia mengeluarkan tangannya lalu syaitan pun menghiasi kukunya. Mereka,
anak-anakku selalu menyusup dan berubah ke satu kondisi ke kondisi lainnya,
dari satu pintu ke pintu lainnya untuk menggoda manusia hingga mereka terhempas
dari keikhlasan mereka. Akhirnya mereka menyembah allah tanpa ikhlas, namun mereka
tidak merasa.
Tahukah kamu, Muhammad? Bahwa ada
rahib yang telah beribadat kepada Allah selama 70 tahun. Setiap orang sakit
yang didoakan olehnya sembuh seketika. Aku terus meggodanya hingga ia berzina,
membunuh dan kufur.
Cara Iblis Menggoda
Tahukah kau Muhammad, dusta berasal
dari diriku? Aku lah mahluk pertama yang berdusta. Pendusta adalah sahabatku.
Barang siapa bersumpah dengan berdusta, ia kekasihku.
Tahukah kau Muhammad? Aku bersumpah
kepada Adam dan Hawa derngan nama Allah bahwa aku benar-benar menasihatinya.
Sumpah dusta adalah kegemaranku. Ghibah (gosip) dan Namimah (adu domba)
kesenanganku. Kesaksian palsu kegembiraanku. Orang yang bersumpah untuk
menceraikan istrinya, ia berada di pinggir dosa walau hanya sekali dan walaupun
ia benar. Sebab barang siapa membiasakan dengan kata-kata cerai, istrinya
menjadi haram baginya. Kemudian ia akan beranak cucu hingga hari kiamat. Jadi
semua anak-anak zina dan ia masuk neraka hanya karena satu kalimat, Cerai.
Wahai Muhammad, umatmu ada yang suka
mengulur-ulur shalat. Setiap ia hendak berdiri untuk shalat, aku bisikkan
padanya waktu masih lama, kamu masih sibuk, lalu ia menundanya hingga ia
melaksanakan shalat di luar waktu, maka shalat itu dipukulkannya ke mukanya.
Jika ia berhasil mengalahkanku, aku
biarkan ia shalat. Namun aku bisikkan ke telinganya lihat kiri dan kananmu, ia
pun menoleh. Pada saat itu aku usap dengan tanganku dan kucium keningnya serta
aku ucapkan ‘shalatmu tidak sah’. Bukankah kamu tahu Muhammad, orang yang
banyak menoleh dalam shalatnya akan dipukul.
Jika ia shalat sendirian, aku suruh
dia untuk bergegas. Ia pun shalat seperti ayam yang mematuk beras.
Jika ia berhasil mengalahkanku dan
ia shalat berjama’ah, aku ikat lehernya dengan tali, hingga ia mengangkat
kepalanya sebelum imam, atau meletakkan sebelum imam. Kamu tahu bahwa melakukan
itu batal shalatnya dan wajahnya akan dirubah menjadi wajah keledai.
Jika ia berhasil mengalahkanku, aku
tiup hidungnya hingga ia menguap dalam shalat. Jika ia tidak menutup mulutnya
ketika menguap, syaitan akan masuk ke dalam dirinya, dan membuatnya menjadi bertambah
serakah dan gila dunia. Dan ia pun semakin taat padaku.
Kebahagiaan apa untukmu, sedangkan
aku memerintahkan orang miskin agar meninggalkan shalat. Aku katakan padanya,
“Kamu tidak wajib shalat, shalat hanya wajib untuk orang yang berkecukupan dan
sehat. Orang sakit dan miskin tidak. Jika kehidupanmu telah berubah baru kau
shalat.” Ia pun mati dalam kekafiran. Jika ia mati sambil meninggalkan shalat
maka Allah akan menemuinya dalam kemurkaan.
Wahai Muhammad, “Apakah engkau akan
bergembira dengan umatmu padahal aku mengeluarkan seperenam mereka dari Islam?”
10
Permintaan Iblis Kepada Allah SWT
“Berapa yang kau pinta dari
Tuhanmu?”
“10 macam.”
“Apa saja?”
“Aku minta agar Allah membiarkanku
berbagi dalam harta dan anak manusia, Allah mengizinkan. Allah berfirman, ‘Berbagilah
dengan manusia dalam harta dan anak. Dan janjikan lah mereka, tidaklah janji
syaitan kecuali tipuan.” (QS.Al-Isra’:64). Harta yang tidak dizakatkan, aku
makan darinya. Aku juga makan dari makanan haram dan bercampur dengan riba. Aku
juga makan dari makanan yang tidak dibacakan nama Allah. Aku minta agar Allah
membiarkanku ikut bersama dengan orang yang berhubungan dengan istrinya tanpa
berlindung dengan Allah. Maka setan ikut bersamanya dan anak yang dilahirkan
akan sangat patuh kepada syaitan.
Aku minta agar bersama dengan orang yang menaiki kendaraan bukan untuk tujuan yang halal. Aku minta agar Allah menjadikan kamar mandi sebagai rumahku. Aku minta agar Allah menjadikan pasar sebagai masjidku. Aku minta agar Allah menjadikan syair sebagai Quranku. Aku minta agar Allah memberikan saudaraku, maka ia jadikan orang yang membelanjakan hartanya untuk maksiat sebagai saudaraku. Allah berfirman, “ Orang – orang boros adalah saudara-saudara syaitan.” (QS.Al-Isra’:27).
Aku minta agar bersama dengan orang yang menaiki kendaraan bukan untuk tujuan yang halal. Aku minta agar Allah menjadikan kamar mandi sebagai rumahku. Aku minta agar Allah menjadikan pasar sebagai masjidku. Aku minta agar Allah menjadikan syair sebagai Quranku. Aku minta agar Allah memberikan saudaraku, maka ia jadikan orang yang membelanjakan hartanya untuk maksiat sebagai saudaraku. Allah berfirman, “ Orang – orang boros adalah saudara-saudara syaitan.” (QS.Al-Isra’:27).
“Wahai Muhammad, aku minta agar
Allah membuatku bisa melihat manusia sementara mereka tidak bisa melihatku. Dan
aku minta agar Allah memberiku kemampuan untuk mengalir dalam aliran darah
manusia. Allah menjawab, ‘Silahkan’, aku bangga dengan hal itu hingga hari
kiamat. Sebagian besar manusia bersamaku di hari kiamat.
“Wahai Muhammad, aku tak bisa
meyesatkan orang sedikitpun, aku hanya bisa membisikkan dan menggoda. Jika aku
bisa menyesatkan, tak akan tersisa seorang pun. Sebagaimana dirimu, kamu tidak
bisa memberi hidayah sedikitpun, engkau hanya Rasul yang menyampaikan amanah.
Jika kau bisa memberi hidayah, tak akan ada seorang kafir pun di muka bumi ini.
Kau hanya bisa menjadi penyebab untuk orang telah ditentukan sengsara. Orang
yang bahagia adalah orang yang telah ditulis bahagia sejak diperut ibunya. Dan
orang yang sengsara adalah orang yang telah ditulis sengsara semenjak dalam kandungan
ibunya.
Rasulullah
SAW lalu membaca ayat, “Mereka akan terus berselisih, kecuali orang yang
dirahmati oleh Allah SWT.” (QS.Hud:118-119). Juga membaca, “Sesungguhnya
ketentuan Allah pasti berlaku.” (QS.Al-Ahzab:38).
Iblis lalu berkata, “Wahai Rasul
Allah takdir telah ditentukan dan pena takdir telah kering. Maha suci Allah
yang menjadikanmu pemimpin para Nabi dan Rasul, pemimpin penduduk surga, dan
yang telah menjadikan aku pemimpin makhluk-makhluk celaka dan pemimpin penduduk
neraka. Aku si celaka yang terusir. Ini akhir yang ingin aku sampaikan kepadamu.
Dan aku tak berbohong.”
Langganan:
Postingan (Atom)


