Assalamu'alaikum :) Anda adalah pengunjung ke

Website counter

Minggu, 13 Mei 2012

DZIKIR ALA ROSULALLAH SAW

DZIKIR ALA ROSULALLAH SAW PDF Print E-mail


عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: «كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ

Dari Aisyah ra berkata : Nabi SAW berdzikir kepada Allah pada setiap waktunya (HR : Muslim. No : 373, Maktabah Syamilah)

Ibnu Hajar Al-asqolani dalam kitabnya “Fathulbari” menjelaskan : bahwa dzikir bisa bermakna mengucapkan ucapan yang dianjurkan syari’at seperti Albaqiyatusholihat (artinya amalan-amalan yang kekal dan baik, yakni :Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu akbar), Hauqallah (la haula wala quwwata illa billah), basmalah, hasballah (hasbiyallah wani’mal wakil) istighfar, dan do’a-do’a untuk kebaikan dunia dan akhirat. Selain itu sebenarnya, termasuk dzikir juga selalu menjaga amal-amal wajib dan sunnah seperti membaca : Alqur-an, hadits, mengkaji ilmu dan mengamalkan sholat sunnah.

Alhafidz menjelaskan juga bahwa dzikir  dengan lisan sudah dapat pahala walau sebatas terucap di lisan dan tidak menyertakan hati , asalkan tahu ma’na dari apa yang diucapkannya itu, tetapi apabila dzikir tersebut dengan menertakan hati , itu lebih baik lagi, apabila dzikir disertai dengan penghayatan terhadap ma’na dzikir yang diucapkan seperti menganungkan Allah ta’ala dan menghilangkan segala darinya, itu lebih baiklagi. Apabiladisertai  amal seperti jihad, sholat atau yang lainnya,itu lebih baik lagi.dan apabila ia betul-betul ikhlas dan hanya mengharap Allah SWT,itu adalah dzikir yang paling sempurna.
Mengutip penjelasan Fakhru Razi, bahwa dzikir itu bisa dengan hati ya’ni bertafakur, dengan lisa ya’ni mengucapkan bacaan yang disyari’atkan, atau dengan anggota badan ya’ni melaksanakan ketaatan, oleh karena itu sholat dalam Alqur-an disebut juga dzikir “Fas’au ila dzikrillah” (QS : Ajumu’ah : 9).

Imam Nawawi dalam salah satu kitabnya mengenai dzikir beliau menjelaskan :

اِعْلَمْ اَنَّ فَضِيْلَةَ الذِّكْرِ غَيْرَ مُنْحَصِرَةً فِى التَّسْبِيْحِ وَالتَّهْلِيْلِ وَالتَّهْمِيْدِ وَالتَّكْبِيْرِ وَنَحْوِهَا ، بَلْ كُلُّ عَامِلٍ لِلَهِ تَعَالَى بِطَاعَةٍ فَهُوَ ذَاكِرٌ لِلَّهِ تَعَالَى ، كَذَا قَالَهُ سَعِيْدُ بْنُ جُبَيْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَغَيْرُهُ مِنَ الْعُلَمَاءِ
Ketahuilah keutamaan dzikir itu tidak terbatas pada tasbih, tahlil,tahmid, takbir dan yang semacamnya, tetapi semua orang yang mengamalkan ketaatan, itu termasuk orang yang dzikir kepada Allah ta’ala, sebagaimana dinyatakan oleh Sa’id Ibnu Jubair dan para ulama lainnya. (Al-adzkar : 9)

Ketika menyinggung ayat “....dan laki-laki dan perempuan yang berdzikir kepada Allah dengan banyak, Allah menyediakan ampunan dan pahala yang besar bagi mereka” (QS : Al-Ahzab : 35), Imam Nawawi mengutip penjelasan dari Ibnu Abbas, Mujahid, Atho dan Abu Amr ibnu Sholah bahwa yang dimaksud adalah berdzikir sesudah sholat, diwaktu pagi dan petang, ketika hendak tidur, bangun tidur, keluar masuk rumah, melaksanakan sholat lima waktu dengan sebenarnya, selalu ingat keapada Allah disetiap saat, dan dzikir-dzikir yang ma’tsur (ada landasan dalilnya) disetiap waktunya baik siang atau malam, itu semua termasuk dalam pengertian ayat diatas (Al-adzkar : 7)

Penjelasan dari para ulama diatas bisa memperjelas maksud dari Nabi SAW berdzikir disetiap waktunya, bukan berarti Nabi SAW duduk terus menerus sepanjang harinya mengucap tasbih , tahmid, takbir dan semacamnya ; bukan pula Nabi SAW sebatas ingat saja tanpa mengucapkan ucapan-ucapan tertentu yang ma’tsur, melainkan dzikir dalampengertian yang sepenuhnya, tidak sepotong-sepotong, sebagaimana telah dijelaskan oleh para ulama diatas.

Dzikir-dzikir yang ma’tsur telah banyak dikompilasikan oleh para ulama melalui berbagai kitab dan bukunya, yang di Indonesia lebih populer dengan istilah do’a, seperti dzikir bangun tidur, pergi ke WC, bercermin, berpakaian, sebelum dan sesudah makan, keluar dan masuk rumah, masuk dan keluar masjid, berkendaraan, ketika melihar fenomena alam, angin ribut, hujan besar,petir, sampai ketika hendak tidur lagi ataupun bersenggama. Semua dzikir  tersebut tentu tidak hanya dengan mengandalkan “ingat” saja, tetapi harus diucapkan.

Syaikh Abdurrozaq ibnu Abdl Muhsin Al-badr dalam kitabnya Fiqh alhidayah wal adzkar menjelaskan,bentuk amal dzikir sudah dijelaskan Allah SWT dalam salah satu firman-Nya, yaitu :

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ
Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, diwaktu pagi dan sore, dan janganlah kamu termasukorang-orang yang lalai (QS : Al’arof : 205)

Dari ayat diatas, menurut Albadr, setidaknya ada tujuh adab dan sekaligus kriteria dari dzikir yang disebutkan ayat tersebut sebagai amalan menyebut/mengingat Robb, yaitu : (1) di dalam hati, penuh keikhlasan, melibatkan emosi tidak hanya dilisan atau dalam lintasan pemikiran, (2) Tadlaorru : merendahkan diri, menjauhkan semua sifatkesombongan dan mengakui kerendahan diri dihadapan keagungan Allh. (3) penuh ketakutan : takut dzikir dan permohonannya tidakditerima Allah SWT, (4) tidak menjaharkan( mengeraskan ) suara , sebab merenung yang paling baik adalah dengan cara seperti ini , (5) Melibatkan lisan, tidak hanya hati, meski tidak sampai jahar . terambil dari firman Allah SWT  : Dunaljahri minalqaul , jadi adanya qaul, gerak lisan yang tidak sampai jahar. Terlebih memang Nabi SAW mencontohkan dalam berbagai haditsnya dzikir itu diucapkan oleh lisan, (6) di waktu pagi dan sore, dua waktu ini merupakan waktu istimewa untuk dzikir, bukan berarti hanya di dua waktu ini, melainkan waktu yang terbaik dan harus diprioritaskan, (7) tidak lalai dari dzikir, selalu merutinkannya walaupun sedikit (Fiqh Al-adiyah wal adzkar : 1 : 57 – 59).

Terkait waktu pagi dan sore , ada ulama yang menafsirkan sepanjang waktu dari pagi sampai sore, tetapi lebih banyak lagi yang menafsirkan adanya dzikir khusus di kedua waktu tersebut. Praktiknya bisa sesudah sholat shubuh dan ashar, sebab di hadits juga disebutkan dua waktu tersebutlah waktu pergantian malaikat siang dan malam (Shohih Muslim , no 1464 – 1465), bisa juga diluar sholat itu asalkan diwaktu pagi dan sore, seperti waktu sholat dluha ataupun qobla maghrib, salah satu hadits diantaranya menginformasikan jenis dzikir yang satu ini :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " مَنْ قَالَ: حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ يُمْسِي: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، مِائَةَ مَرَّةٍ، لَمْ يَأْتِ أَحَدٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ، إِلَّا أَحَدٌ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ أَوْ زَادَ عَلَيْهِ "
Dari Abi Hurairoh berkata : bersabda Rosulallah SAW : barang siapa ketika pagi dan sore, membaca do’a : Subhanallah wabihamdihi(maha suci Allah dan segala puji bagi-Nya) sebanyak seratus kali , maka pada hari kiamat tidak ada orang lain yang melebihi pahalanya kecuali orang yang juga pernah mengucapkan bacaan seperti itu atau lebih dari itu(HR : Muslim .no 2692)

Berkaitan dengan dzikir ini terdapat hadits yang menginformasikan adanya dzikir melalui satu majelis, seperti hadits berikut ini :

وَإِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَلَى حَلْقَةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ، فَقَالَ: «مَا أَجْلَسَكُمْ؟» قَالُوا: جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللهَ وَنَحْمَدُهُ عَلَى مَا هَدَانَا لِلْإِسْلَامِ، وَمَنَّ بِهِ عَلَيْنَا، قَالَ: «آللَّهِ مَا أَجْلَسَكُمْ إِلَّا ذَاكَ؟» قَالُوا: وَاللهِ مَا أَجْلَسَنَا إِلَّا ذَاكَ، قَالَ: «أَمَا إِنِّي لَمْ أَسْتَحْلِفْكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ، وَلَكِنَّهُ أَتَانِي جِبْرِيلُ فَأَخْبَرَنِي، أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِي بِكُمُ الْمَلَائِكَةَ»
Dan sesungguhnya Rosulallah SAW pernah keluar menemui sebuah kumpulan para shohabat, lalu beliau bertanya : apa yang membuat kalian duduk disini ? mereka menjawab : kami duduk untuk berdzikir kepada Allah dan memuji-Nya atas anugrah hidayah islam yang telah diberikan kepada kami, Nabi SAW bertanya : demi Allah, betulkah kalian tidak duduk kecuali untuk itu ? mereka menjawab : demi Allah, kami tidak duduk kecuali untuk itu, Nabi SAW bersabda: aku tidak meminta kalian bersumpah disebabkan meragukan kalian, tetapi Jibril tadi datang dan memberitahukan bahwa Allah ‘azz wajalla merasa bangga dengan kalian dihadapan Malaikat (HR: Muslim . dari Mu’awiyah. No : 2701)

Akan tetapi syaikh Utsaimin enegaskan : jangan langsung dipahami bahwa majelis dzikir para shohabat ini adalah dengan suara keras dan bacaan yang diseragamkan, sebab tidak ada satupun keterangan bahwa generasi salaf (terdahulu) mempraktikkan dzikir berjama’ah seperti kaum sufi/tasawuf saat ini, dzikir disini hanya sebatas mengingat-ingat ni’mat Allah SWT, tidak lebih dari itu (syarah Riadlu sholihin 4 : 25-26) imam Nawawi dalam hal ini mengutip penjelasan Atho :

مَجَالِسُ الذِّكْرِ هَيَ مَجَالِسُ الْحَلَالِ وَالْحَرَامِ ، كَيْفَ تَشْتَرِي وَتَبِيْعُ وَتُصَلِّى وَتَصُوْمُ وَتَنْكِحُ وَتُطَلِّقُ وَتَحُجُّ وَاَشْبَاهُ هَذَا 
Majelis-majelis dzikir itu adalah majelis-majelis yang membahas hukum halal dan haram, bagaimana cara jual beli, sholat, shaum, nikah, thalaq, haji dan semacamnya (Al-adzkar : 7)

Maka dari itu imam Nawawi dalam kitabna Riyadlu sholihin, memasukan juga dalam bab majelis dzikir ini hadits tentang majelis ta’lim dan kajian Alqur-an.
Terlebih khobar yang disampaikan Ibnu Mas’ud sangat jelas untuk menyanggah adanya majelis-majelis dzikir buatn yang tidak ma’tsur dari Nabi SAW , tatkala mendengar ada beberapa halaqoh (kumpulan) orang-orang yang berdzikir berjama’ah dipandu oleh seseorang dengan menggunakan batu kerikil sebagai alat menghitungnya , ibnu Mas’ud langsung datang ke Masjid tersebut dan berkata dengan keras:

«مَا هَذَا الَّذِي أَرَاكُمْ تَصْنَعُونَ؟» قَالُوا: يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ حصًا نَعُدُّ بِهِ التَّكْبِيرَ وَالتَّهْلِيلَ وَالتَّسْبِيحَ. قَالَ: «فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ، فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لَا يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَيْءٌ وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ، مَا أَسْرَعَ هَلَكَتَكُمْ هَؤُلَاءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَوَافِرُونَ، وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ، وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أوْ مُفْتَتِحُو بَابِ ضَلَالَةٍ» . قَالُوا: وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ، مَا أَرَدْنَا إِلَّا الْخَيْرَ. قَالَ: «وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ، إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَنَا أَنَّ» قَوْمًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ "، وَايْمُ اللَّهِ مَا أَدْرِي لَعَلَّ أَكْثَرَهُمْ مِنْكُمْ، ثُمَّ تَوَلَّى عَنْهُمْ.
Celaka kalian hai umat Muhammad, alngkah cepatnya kalian binasa , padahal para shohabat masih banyak , baju Rosul belum musnah, bejana-bejananya belum hancur (maksudnya belum lama Rosulallah SAW wafat). Demi Allah , apakah kalian mengira ada dalam millah yang lebih bagus daripada millah Muhammad, ataukah justru kalian membuka pintu kesesatan ? mereka menjawab : hai Abu Abdirrahman , maksud kami baik. Jawab Ibnu Mas’ud : bukankah banyak dari orang-orang yang bermaksud baik tapi ia tidak mencapai kebaikan!?, sesungguhnya Rosulallah SAW sudah mengingatkan kita akan adanya sekelompok orang yang mereka membaca Alqur-an , tapi tidak bisa melewati tenggorokan mereka, Demi Allah , aku tidak tahu, bisa jadi  kebanyakan dari  kalian termasuk dari mereka (Sunan Addarimi : 210)

Maksud dari “kelompok yang membaca Alqur-an , tapi tidak melewati tenggorokan” adalah kelompok sesat yang diinformasikan Nabi SAW akan datang dimasa sesudah Nabi SAW. Ciri mereka membaca Alqur-an, tapi hanya sekedar suara saja, tidak mengkaji dan memahami apa maksudnya.

sumber : http://www.fiqhsunnah.com/fiqh/dzikir-ala-rosulallah-saw.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar