Assalamu'alaikum :) Anda adalah pengunjung ke

Website counter

Sabtu, 31 Maret 2012

Memanjangkan Sujud Terakhir

Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir
Ustadz, ada sebagian ulama yang membolehkan membaca doa sewaktu sujud pada rakaat terakhir dengan pertimbangan pada saat sujud manusia dekat dengan Allah SWT. Namun, sebagian ulama melarang hal tersebut. Alasannya, hal itu akan menambah ritual baru dalam shalat. Bagaimana menyikapi masalah ini sesuai syariat, Ustadz?
La Ode, Tangerang
Jawaban :
Benar bahwa ketika sujud merupakan saat terbaik untuk berdoa. Seperti disebutkan dalam hadis Rasulullah, “Saat yang paling dekat antara seorang hamba dan Rabb-nya adalah ketika ia sujud, maka perbanyaklah doa ketika itu.” ( HR Muslim dari Abu Hurairah ). Jadi, membaca doa saat sujud dibolehkan, bahkan dianjurkan sebab waktu itulah seorang hamba berada pada momen terdekat dengan Allah.
Riwayat lain juga menjelaskan hal ini. Ibnu Abbas menyatakan, Nabi bersabda, “Ketahuilah, aku dilarang untuk membaca Al-Quran dalam keadaan rukuk atau sujud. Adapun saat rukuk, agungkanlah Rabb Azza wa Jalla, sedangkan kala sujud berusahalah bersungguh-sungguh dalam doa sehingga layak dikabulkan untukmu.” ( HR Muslim ).
Bahkan, para ulama berpendapat, doa yang berasal dari Al-Quran boleh dibaca waktu sujud selama diniatkan berdoa, bukan membaca Al-Quran. Ulama Syafi’iyah, al-Zarkasyi, berkata dalam kitabnya, Tuhfatul Muhtaj, “Yang terlarang  jika dimaksudkan membaca Al-Quran, namun jika yang dimaksudkan adalah doa tidak apa-apa, seperti seseorang boleh membaca qunut dengan beberapa ayat Al-Quran.”
Sebagian imam sering kali hanya memperpanjang sujud terakhir ketika shalat karena memperbanyak doa. Para ulama berpendapat, memanjangkan sujud itu pada umumnya diperbolehkan, khususnya bagi yang shalat sendirian, tetapi mengkhususkannya pada sujud terakhir itu tidak ada dalilnya. Diriwayatkan, dalam amalan shalat Nabi Muhammad, semua gerakan shalatnya lamanya hampir sama.
Al-Barra` bin ‘Azib berkata mengenai shalat Rasulullah, “Rukuk, bangkit dari rukuk, sujud, dan duduk di antara dua sujud, semuanya hampir sama ( lama dan tumaninahnya ).” ( HR Bukhari dan Muslim ).
Untuk imam, sebaiknya tidak terlalu memanjangkan pelaksanaan rukun-rukun shalat mengingat kondisi makmum yang berbagai macam.
Hal ini sesuai anjuran Nabi. Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, “Apabila salah seorang dari kamu mengimami orang banyak, maka hendaklan ia meringankannya karena di antara makmum itu ada yang lemah, sakit, dan sudah tua. Dan apabila ia shalat sendiri, maka hendaklah ia memanjangkan semaunya.” ( HR Malik, Bukhari, dan Muslim ).  Wallahu a’lam bish shawab ■
Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Jumat, 11 November 2011/15 Dzulhijjah 1432

Minggu, 25 Maret 2012

Berdo'a

Tata Cara dan Adab-Adab Berdo’a
1.      Menghadap kiblat.
2.      Diawali dengan berdzikir, bertaubat, dan mengucapkan puji-pujian kepada Allah SWT.
3.      Mengangkat tangan waktu berdo’a.
4.      Dengan suara yang lembut.
5.      Tidak bersajak.
6.      Yakin dikabulkan.
7.      Do’anya diulang tiga kali (HR. Bukhari dan Muslim).
8.      Berdo’a dengan sungguh-sungguh.
9.      Berdo’a denga singkat tetapi padat (mencakup).
10.  Berdo’a dalam keadaan apa saja (waktu senang, susah, kaya atau sedang miskin).
11.  Do’a diakhiri dengan membaca shalawat dan hamdalah.

Syarat-syarat Diterimanya Do’a
1.      Dilakukan dengan hati yang ikhlas.
2.      Mengetahui dan memahami arti do’a yang disampaikan.
3.      Bertaqwa kepada Allah SWT.
4.      Dengan rasa penuh bakti dan penuh harap.
5.      Dengan khusyu’ (menghadirkan hati), tadharru’ dan suara yang lembut.
6.      Berdo’a untuk kebaikan, bukan untuk ma’shiat, dan tidak terburu-buru minta dikabulkan.
7.      Jika ingin makan, minum, dan berpakaian harus yang halal.

Saat-saat Mustajab Do’a
1.      Dalam bulan suci Ramadhan yang penuh barakah, rahmat, dan magfirah-Nya; tengah malam atau sepertiga malam terakhir, ketika suasana sunyi dan umumnya orang sedang tidur nyenyak, karena pada setiap sepertiga malam yang terakhir, Allah SWT turun ke langit dunia, seraya berkata, “Barangsiapa berdo’a kepada-Ku, tentu aku kabulkan. Dan barangsiapa meminta sesuatu kepada-Ku tentu Aku beri. Barangsiapa meminta ampunan kepada-Ku tentu Aku ampuni.” Demikian ditegaskan Rasulullah SAW. (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).
2.      Antara adzan dan iqamah.
3.      Pada saat Lailatul Qadr.
4.      Pada malam dan hari jum’at.
5.      Pada akhir waktu Ashar hari jum’at.
6.      Ketika Imam naik ke atas mimbar pada waktu akan berkhotbah Jum’at, hingga selesai Shalat Jum’at.
7.      Ketika menghatamkan bacaan Al-Qur’an.
8.      Pada setiap majelis ta’lim, waktu pengajiannya.
9.      Sesudah tiap-tiap shalat fardhu lima waktu.
10.  Ketika sujud.
11.  Pada waktu sahur.
12.  Pada hari Arafah (pada waktu haji).
13.  Malam pertama bulan Rajab, pertengahan bulan Sya’ban, malam Jum’at, malam Idul Fitri dan malam Idul Adha.

Minggu, 18 Maret 2012

Keutamaan Sholat Tahajud

>> Sholat malam merupakan bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT dan Penghapus dosa.

Diriwayatkan dari Abu Umamah rodhiyallahu anha, Rasulullah sholallahu alaihi wasalam bersabda : " Kerjakanlah sholat malam (sholat tahajud), karena ia merupakan kebiasaan orang-orang shalih sebelum kalian, dan bentuk pendekatan diri kepada Robb kalian, penghapus dosa-dosa serta pencegah perbuatan dosa."
H.R Tirmidzi (3549) dan Hakim (I/308)

>> Sholat malam menyehatkan badan.

Rasulullah Sholallahu Alaihi Wasalam bersabda sebagaimana yang disebutkan dalam hadits riwayat Thobroni : " Kerjakanlah sholat malam (sholat tahajud), karena sesungguhnya ia akan mengusir penyakit dari dalam tubuh."

>> Orang yg disiplin sholat malam akan masuk surga dg kedamaian.

Thobroni meriwayatkan dengan sanad hasan dari Abdulloh Ibnu Umar r.a, bahwa nabi sholallahu alaihi wasalam bersabda, "Sesungguhnya di dalam surga itu terdapat sebuah istana, dimana bagian luarnya bisa dilihat dari dalam, dan bagian dalamnya bisa dilihat dari luar." Abu Malik Al-Asy'ari r.a bertanya, "Untuk siapakah istana itu, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Untuk orang yang berkata baik, memberikan makan, dan mengerjakan sholat malam (sholat tahajud)ketika orang-orang sedang tidur malam."

>> Sholat malam merupakan kemuliaan orang mukmin di dunia dan akhirat.

Thobroni meriwayatkan dg isnad hasan dari Sahl bin Sa'd r.a, bahwa ia berkata, "Jibril datang kepada nabi saw seraya berkata, "Wahai Muhammad, hiduplah sesuka hatimu, sesungguhnya engkau akan mati. Kerjakanlah sesukamu, sesungguhnya engkau akan diberi balasan atas tindakanmu itu. Cintailah orang yang engkau kehendaki, sesungguhnya engkau tetap akan berpisah dengannya. ketahuilah bahwa kemuliaan seorang mukmin itu terletak pada sholat malam yang dikerjakannya. Sedangkan kemuliaanya terletak pada kecukupannya dari (bantuan) orang lain."

>> Orang yang bangun malam untuk mengerjakan sholat tidak akan merugi.

Thobroni meriwayatkan dari Ibnu Mas'ud r.a, bahwa Rasulullah saw bersabda, "Allah tidak akan menjadikan rugi seseorang yang bangun tengah malam, lalu ia membaca surat Al Baqarah dan surat Ali Imron.

>> Orang yang mengerjakan sholat malam akan mendapatkan kedekatan dengan Allah Swt.

Tirmidzi meriwayatkan dari Amru bin 'Anbasah r.a, bahwa ia pernah mendengar Nabi saw bersabda, "Keadaan paling dekat seorang hamba dengan Robbnya adalah ditengah malam terakhir. Jika engkau bisa menjadi bagian dari orang yang berdzikrulloh ketika itu, lakukanlah."

>> Orang yang mengerjakan sholat malam akan dicatat sebagai golongan yang banyak menyebut nama Allah (berdzikir).

Rasulullah saw bersabda : " Jika seseorang membangunkan istrinya di tengah malam, lalu keduanya sholat malam dua rokaat secara berjamaah, maka keduanya dicatat sebagai bagian dari golongan laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir." HR. Abu Dawud

>> Mendapatkan Rahmat dan Ampunan dari Allah.

Rasulullah saw bersabda : "Semoga Allah merahmati seorang laki-laki yang bangun malam, kemudian mengerjakan sholat dan membangunkan istrinya (agar ikut mengerjakan sholat malam), lantas jika istrinya enggan, maka ia memerciki wajahnya dengan air. Semoga Allah merahmati seorang wanita yang bangun malam kemudian mengerjakan sholat malam dan membangunkan suaminya (agar mengerjakan sholat malam), lantas jika suaminya enggan, maka ia memerciki wajahnya dengan air." HR. Abu Dawud (1308) dan Ibnu Majah (1335).

Minggu, 11 Maret 2012

Kisah Kalimat Subhanallah


Alkisah. Suatu hari Imam Ahmad bin Hambal mengadakan perjalanan dakwah ke suatu daerah. Di daerah tersebut Imam Ahmad tidak memunyai teman. Hari sudah malam dan Imam tidak mendapatkan tempat untuk menginap. Akhirnya Imam pergi ke sebuah masjid, menggelar tikar untuk bermalam dan tidur di sana. Mungkin karena capek, mata pun segera terlelap. Baru saja sekejap mata terpejam, tiba-tiba seorang penjaga masjid datang dan membangunkannya. Penjaga masjid  tidak membolehkannya tidur di dalam masjid. Imam berkata: Aku ini adalah musafir yang tidak mendapatkan tempat untuk bermalam. Penjaga masjid itu tetap menolak dan tidak mengizinkan seseorang tidur di dalam masjid, dia tidak tahu kalau orang yang dilarang tidur di masjid itu adalah seorang ulama besar. Imam Ahmad diusir keluar, kerah bajunya ditarik hingga keluar dari pintu masjid. Pada saat sedang keluar dari masjid itulah lewat seseorang tukang roti, lalu menghampirinya dan ingin tahu apa yang sedang terjadi. “Apa yang terjadi pada Anda?” tanya tukang roti. Imam menjawab: “Saya tidak mendapatkan tempat untuk bermalam dan saya hendak tidur di masjid, tetapi penjaga masjid melarang saya tidur di masjid,” jawab Imam. Setelah tahu permasalahannya, tukang roti lalu mengajak Imam pulang dan bermalam di rumahnya.
Imam Ahmad dipersilakan tidur di sebuah kamar, sementara tukang roti melanjutkan pekerjaannya, yaitu membuat roti untuk dipasarkan besok pagi. Imam Ahmad tidak bisa tidur, dia memperhatikan apa yang dikerjakan oleh tukang roti. Di situlah Imam Ahmad terkagum-kagum melihat tukang roti banyak mengucapkan tasbih, “Subhanallah” sambil membuat roti. Imam Ahmad merasakan betapa agungnya apa yang dilakukan oleh tukang roti itu.
Pagi harinya Imam Ahmad bertanya: Apakah Anda sudah melihat dan merasakan suatu keberuntungan dari membaca tasbih?”
Tukang roti menjawab: “Ya. Demi Allah, semua yang aku mohonkan selalu dikabulkan Allah, kecuali satu yang hingga kini belum dikabulkan Allah.”
“Apa yang satu itu?” Tanya Imam Ahmad.
Jawab tukang roti: “Aku inginmelihat seorang ulama besar yaitu Imam Ahmad bin Hambal.”
Imam bekata: “Akulah Imam Ahmad bin Hambal. Demi Allah, Dia telah mengirimkan aku memenuhi permohonan anda. Sungguh doa anda telah dikabulkan Allah.”  

Jumat, 10 Februari 2012

Jin Ifrit Dikalahkan Ayat Kursi

Ayat kursi memiliki banyak fadilah atau keutamaan. Salah satunya adalah bisa untuk menaklukkan makhluk halus. Hal ini seperti yang dilakukan oleh Saudagar kaya raya bernama Ka'ab yang membunuh Jin Ifrit dengan bacaan Ayat Kursi.

Pada Suatu hari, seorang pedagang bernama Ka'ab melakukan perjalanan ke negeri Basrah.
Ia membawa barang dagangannya untuk dijual. Setelah Ka'ab sampai di Basrah, dia mencari tempat penginapan, akan tetapi semua penginapan pada hari itu ternyata tidak ada yang kosong.
Semua telah dipesan oleh pedagang yang lebih dahulu datang sebelum Ka'ab.

Karena kehabisan penginapan, Ka'ab berinisiatif mencari tempat istirahat. Ia kemudian menemukan sebuah rumah kosong yang pada dindingnya terdapat banyak sarang laba-laba. Ka'ab akhirnya berhasil menemui pemiliknya. Ia bermaksud menyewa rumah itu selama kurang lebih satu minggu.
"Rumah ini aneh sekali, selalu menjadi pembicaraan masyarakat disini," kata si pemilik rumah.
"Apa yang terjadi pada rumahmu in?" tanya Ka'ab.
"Kata beberapa orang, rumah ini didiami oleh Jin Ifrit. Sudah banyak orang yang mencoba menempatinya, namun akhirnya mereka semua binasa," jelas si pemilik rumah.


Merasa terpaksa karena tidak menemukan penginapan, akhirnya Ka'ab bersedia menempati rumah kosong itu.
"Meskipun orang lain berkata demikian, saya sanggup tinggal disini asalkan Tuan mengizinkan saya," pinta Ka'ab.
"Baiklah, saya tidak keberatan dan saya tidak akan meminta bayaran sedikitpun," jawab si pemilik rumah.

Ka'ab akhirnya tinggal di rumah kosong yang angker itu. Pada malam itu, tidak ada hal ganjil yang dialaminya. Keesokan harinya Ka'ab berkeliling untuk menjual barang dagangannya, dan ketika matahari hampir terbenam, ia kembali pulang. Malam itu Ka'ab mengalami beberapa keanehan. Matanya sulit sekali untuk dipejamkan.

Kemudian dalam kondisi yang sepi, tiba-tiba ia dikejutkan dengan sosok bayangan hitam yang memiliki dua mata menyala-nyala seperti bara api yang mendekatinya. Maka secara spontan, Ka'ab terjaga dan membaca ayat Kursi. Akan tetapi bayang-bayang itu tidak menghilang, malah sosok hitam itu turut mengikuti apa yang dibaca oleh Ka'ab, hingga hampir sampai pada akhir ayat Kursi.

Akan tetapi setelah Ka'ab membaca akhir ayat Kursi Walaa Yauuduhu hifzuhumaa wa huwal aliyyul 'adziim, bayang-bayang hitam itu lenyap dan suaranya sudah tidak terdengar lagi.
Ka'ab heran dan ia terus mengulangi bacaannya hingga ayat Kursi yang terakhir untuk memastikan bayang-bayang hitam itu benar-benar hilang. Lenyapnya Jin Ifrit itu disertai bau seperti barang yang terbakar.

Keesokan paginya, Ka'ab mendapati di salah satu sudut rumah itu terdapat bekas-bekas abu seperti ada sesuatu yang telah terbakar. Di saat itu, Ka'ab mendengar suara gaib,
"Hai Ka'ab, engkau telah membakar Jin Ifrit yang kuat."
"Dengan apa aku membakarnya?" tanya Ka'ab.
"Dengan firman Allah, walaa Yauuduhu hifzuhumaa wa huwal aliyyul 'adziim,"jawab suara gaib itu.

Demikian kisah Tewasnya Jin Ifrit oleh Ayat Kursi.
Seperti diketahui, Ayat Kursi diwahyukan kepada Rasulullah SAW diiringi oleh ribuan malaikat karena kebesaran dan kesucian ayat tersebut. Karena itu, Jin Ifrit yang kuat pun tidak mampu menahan kehebatan Ayat Kursi.

(kisahislamiah.blogspot.com)

Kisah Siti Masyitoh

“Apa, di dalam kerajaanku sendiri ada pengikut Musa?” Teriak Fir’aun dengan amarah yang membara setelah mendengar cerita putrinya perihal keimanan Siti Masyitoh. Hal ini bermula ketika suatu hari Siti Masyitoh sedang menyisir rambut putri Fir’aun, tiba-tiba sisir itu terjatuh, seketika Siti Masyitoh mengucap Astagfirullah. Sehingga terbongkarlah keimanan Siti Masyitoh yang selama ini disembunyikannya.

“Baru saja aku menerima laporan dari Hamman, mentriku, bahwa pengikut Musa terus bertambah setiap hari. Kini pelayanku sendiri ada yang berani memeluk agama yang dibawa Musa. Kurang ajar si Masyitoh itu,” umpat Fir’aun.

“Panggil Masyitoh kemari,” perintah Fir’aun pada pengawalnya. Masyitoh datang menghadap Fir’aun dengan tenang. Tidak ada secuil pun perasaan takut di hatinya. Ia yakin Allah senantiasa menyertainya.
“Masyitoh, apakah benar kamu telah memeluk agama yang dibawa Musa?”. Tanya Fir’aun pada Masyitoh dengan amarah yang semakin meledak.

“Benar,” jawab Masyitoh mantap.
“Kamu tahu akibatnya? Kamu sekeluarga akan saya bunuh,” bentak Fir’aun, telunjuknya mengarah pada Siti Masyitoh.
“Saya memutuskan untuk memeluk agama Allah, maka saya telah siap pula menanggung segala akibatnya.”
“Masyitoh, apa kamu sudah gila! Kamu tidak sayang dengan nyawamu, suamimu, dan anak-anakmu.”
“Lebih baik mati daripada hidup dalam kemusyrikan.”

Melihat sikap Masyitoh yang tetap teguh memegang keimanannya, Fir’aun memerintahkan kepada para pengawalnya agar menghadapkan semua keluarga Masyitoh kepadanya.
“Siapkan sebuah belanga besar, isi dengan air, dan masak hingga mendidih,” perintah Fir’aun lagi.
Ketika semua keluarga Siti Masyitoh telah berkumpul, Fir’aun memulai pengadilannya.

“Masyitoh, kamu lihat belanga besar di depanmu itu. Kamu dan keluargamu akan saya rebus. Saya berikan kesempatan sekali lagi, tinggalkan agama yang dibawa Musa dan kembalilah untuk menyembahku. Kalaulah kamu tidak sayang dengan nyawamu, paling tidak fikirkanlah keselamatan bayimu itu. Apakah kamu tidak kasihan padanya.”

Mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Fir’aun, Siti Masyitoh sempat bimbang. Tidak ada yang dikhawatirkannya dengan dirinya, suami, dan anak-anaknya yang lain, selain anak bungsunya yang masih bayi. Naluri keibuannnya muncul. Ditatapnya bayi mungil dalam gendongannya. “Yakinlah Masyitoh, Allah pasti menyertaimu.” Sisi batinnya yang lain mengucap.

Ketika itu, terjadilah suatu keajaiban. Bayi yang masih menyusu itu berbicara kepada ibunya, “Ibu, janganlah engkau bimbang. Yakinlah dengan janji Allah.” Melihat bayinya dapat berkata-kata dengan fasih, menjadi teguhlah iman Siti Masyitoh. Ia yakin hal ini merupakan tanda bahwa Allah tidak meninggalkannya.

Allah pun membuktikan janji-Nya pada hamba-hamba-Nya yang memegang teguh (istiqamah) keimanannya. Ketika Siti Masyitoh dan keluarganya dilemparkan satu persatu pada belanga itu, Allah telah terlebih dahulu mencabut nyawa mereka, sehingga tidak merasakan panasnya air dalam belanga itu.

Demikianlah kisah seorang wanita shalihah bernama Siti Masyitoh, yang tetap teguh memegang keimanannya walaupun dihadapkan pada bahaya yang akan merenggut nyawanya dan keluarganya.

Ketika Nabi Muhammad Saw. isra dari Masjidil Haram di Mekkah ke Masjidil Aqsa di Palestina, beliau mencium aroma wangi yang berasal dari sebuah kuburan. “Kuburan siapa itu, Jibril?” tanya baginda Nabi.
“Itu adalah kuburan seorang wanita shalihah yang bernama Siti Masyitoh,” jawab Jibril.

(http://ahmadriyadhmz.wordpress.com)

RASULULLAH S.A.W. DAN PENGEMIS YAHUDI BUTA

Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta hari demi hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata "Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya". Setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah SAW melakukannya hingga menjelang Beliau SAW wafat. Setelah kewafatan Rasulullah tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu.

Suatu hari Abubakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.ha. Beliau bertanya kepada anaknya, "anakku adakah sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan", Aisyah r.ha menjawab pertanyaan ayahnya, "Wahai ayah engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja". "Apakah Itu?", tanya Abubakar r.a. Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana", kata Aisyah r.ha.

Keesokan harinya Abubakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abubakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepada nya. Ketika Abubakar r.a. mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, "siapakah kamu ?". Abubakar r.a menjawab, "aku orang yang biasa". "Bukan !, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku", jawab si pengemis buta itu. Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia berikan pada ku dengan mulutnya sendiri", pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Abubakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW. Setelah pengemis itu mendengar cerita Abubakar r.a. ia pun menangis dan kemudian berkata, benarkah demikian?, selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia.... Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abubakar r.a.

(http://beritaelektronik.blogspot.com)