Assalamu'alaikum :) Anda adalah pengunjung ke

Website counter

Senin, 21 Mei 2012

MENUNAIKAN PUASA DI BULAN RAJAB


Sang waktu menghantarkan kita masuk pintu gerbang bulan Rajab setiap tahunnya. Bulan Rajab dari beberapa pendapat merupakan salah satu bulan yang sangat khusus dan istimewa karena merupakan bulan yang dikhususkan oleh Allah (Ada 4 bulan muharam: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab). Disamping itu ada beberapa keistimewaan lain yang ada pada bulan Rajab.

Selain bulan Ramadhan maka pada bulan Rajab juga memiliki banyak keistimewaan, antara lain anda bisa mendapatkan Ridha, kemuliaan,  pahala yang berlipat, permohonan doa akan dikabulkan serta akan diampuni segala dosa dan akan digantikan dengan amal kebaikan. Luar biasa memang, sekarang semua tergantung anda, apakah akan mengambil peluang emas ini, atau menyia-nyiakannya begitu saja.

Dalam salah satu Hadist, yang diriwayatkan oleh Mujibah al-Bahiliyah, Nabi Muhammad SAW telah bersabda, “Puasalah pada bulan-bulan haram (suci dan mulya).” (Riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad). Sebagaimana diketahui ada 4 bulan Muharam yang mempunyai keistimewaan: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.

Hadist Rasulullah yang lainnya di Riwayatkan oleh al-Nasa’i dan Abu Dawud yang kemudian disahihkan oleh Ibnu Huzaimah, Beliau bersabda: “Usamah berkata pada Nabi Muhammad SAW, “Wahai Rasulullah, saya tak melihat Rasul melakukan puasa (sunnah) sebanyak yang Rasul lakukan dalam bulan Sya’ban. Kemudian Rasulullah menjawab: ‘Bulan Sya’ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadhan yang dilupakan oleh kebanyakan orang.’” Dari hadist tersebut dijelaskan oleh al-Syaukani (Naylul Authar, dalam konteks pembahasan puasa sunnah) dari ungkapan Nabi “Bulan Sya’ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadhan yang dilupakan kebanyakan orang” itu secara implisit menunjukkan bahwa bulan Rajab juga disunnahkan untuk melakukan ibadah puasa.

Selain hadist di atas masih terkait puasa bulan Rajab, maka cukup banyak hadist lain yang menjelaskan tentang hal itu, namun kesahihanya masih dipertanyakan oleh beberapa ulama, tentu hal demikian bisa menjadi bahan diskusi yang menarik bagi kita. Hadist-hadist itu antara lain:
  • Barang siapa yang berpuasa satu hari dalam bulan ini dengan ikhlas, maka pasti ia mendapat keridhaan yang besar dari ALLAH SWT,
    Dan barang siapa berpuasa pada tgl 27 Rajab 1427/Isra Mi’raj akan mendapat pahala seperti 5 tahun berpuasa,
  • Barang siapa yang berpuasa dua hari di bulan Rajab maka akan mendapat kemuliaan di sisi ALLAH SWT,
  • Barang siapa yang berpuasa tiga hari yaitu pada tgl 1, 2, dan 3 Rajab maka ALLAH akan memberikan pahala seperti 900 tahun berpuasa dan menyelamatkannya dari bahaya dunia, dan siksa akhirat,
  • Barang siapa berpuasa lima hari dalam bulan ini, Insyaallah permintaannya akan dikabulkan,
  • Barang siapa berpuasa tujuh hari dalam bulan ini, maka ditutupkan tujuh pintu neraka Jahanam dan barang siapa berpuasa delapan hari maka akan dibukakan delapan pintu syurga,
  • Barang siapa berpuasa lima belas hari dalam bulan ini, maka ALLAH akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan menggantikan kesemua kejahatannya dengan kebaikan, dan barang siapa yang menambah (hari-hari puasa) maka ALLAH akan menambahkan pahalanya.”
  • Pada malam Mi’raj, saya melihat sebuah sungai yang airnya lebih manis dari madu, lebih sejuk dari air batu dan lebih harum dari minyak wangi, lalu saya bertanya pada Jibril a.s.: “Wahai Jibril untuk siapakah sungai ini?” Maka berkata Jibrilb a.s.: “Ya Muhammad sungai ini adalah untuk orang yang membaca salawat untuk engkau dibulan Rajab ini”.
  • Dalam salah satu riwayat lainya menceritakan bahwa Tsauban tengah bercerita : “Ketika kami berjalan bersama-sama Rasulullah SAW ke sebuah kubur, lalu Rasulullah berhenti dan beliau menangis dengan amat sedih, kemudian beliau berdoa kepada ALLAH SWT. Lalu saya bertanya kepada beliau:”Ya Rasulullah mengapakah engkau menangis?” Lalu beliau bersabda :”Wahai Tsauban, mereka itu sedang disiksa dalam kubur nya, dan saya berdoa kepada ALLAH, lalu ALLAH meringankan siksa atas mereka”. Dan lalu beliau bersabda lagi: “Wahai Tsauban, kalau mereka ini mau berpuasa satu hari dan beribadah satu malam saja di bulan Rajab niscaya mereka tidak akan disiksa di dalam kubur.” Lalu Tsauban bertanya: “Ya Rasulullah, apakah hanya berpuasa satu hari dan beribadah satu malam dalam bulan Rajab sudah dapat mengelakkan dari siksa kubur?” Sabda beliau: “Wahai Tsauban, demi ALLAH dzat yang telah mengutus saya sebagai nabi, tiada seorang muslim lelaki dan perempuan yang berpuasa satu hari dan mengerjakan sholat malam sekali dalam bulan Rajab dengan niat karena ALLAH, kecuali ALLAH mencatatkan baginya seperti berpuasa satu tahun dan mengerjakan sholat malam satu tahun.”
  • Dalam Sabda beliau yang lain (mursal) Riwayat Abul Fath dari al-Hasan, Rasulullah mengatakan: “Sesungguhnya Rajab adalah bulannya ALLAH, Sya’ban adalah bulanku dan bulan Ramadhan adalah bulan umatku”. “Semua manusia akan berada dalam keadaan lapar pada hari kiamat, kecuali para nabi, keluarga nabi dan orang-orang yang berpuasa pada bulan Rajab, Sya’ban dan bulan Ramadhan. Maka sesungguhnya mereka kenyang, serta tidak akan merasa lapar dan haus bagi mereka.
Hadist-hadist yang tersebut dengan poin di atas beberapa diantaranya dinilai dha’if (kurang kuat) hal ini  ditegaskan oleh Imam Suyuthi dalam kitab al-Haawi lil Fataawi. Selain itu ditegaskan pula oleh Ibnu Hajar, dalam kitabnya “Tabyinun Ujb”, yang menerangkan bahwa tidak ada hadist (baik sahih, hasan, maupun dha’if) yang menerangkan tentang keutamaan pelaksanaan ibadah puasa di bulan Rajab.
Pendapat lain al-Syaukani, dalam Nailul Authar, bahwa Ibnu Subki meriwayatkan dari Muhamad bin Manshur al-Sam’ani yang mengatakan bahwa tak ada hadis yang kuat yang menunjukkan kesunnahan puasa Rajab secara khusus. Namun demikian, sesuai pendapat al-Syaukani, bila semua hadis yang secara khusus menunjukkan sunnah untuk puasa bulan Rajab, maka  hadist yang umum cukup bisa dijadikan hujah atau landasan.

Dalam Islam dikenal pula ilmu mushthola al-hadits, yang menjelaskan tentang berbagai kedudukan hadits. Salah satu hal penting untuk diketahui adalah: sebuah hadits dha'if ternyata bisa digunakan sebagai dasar dalam pelaksanaan suatu amalan, yang tidak boleh adalah hadist dha'if  tersebut digunakan sebagai dasar penetapan suatu hukum syara’. Jadi wilayah fungsinya sebagi sumber motivasi dalam ibadah saja, maka tidak menjadi masalah.

Demikian semoga para muslimin dan muslimat bisa segera mengambil manfaat dari waktu yang disisakan oleh Allah untuk kehidupan kita. Keikhlasan untuk mejalankan perintahnya semoga merupakan puncak ibadah yang membahagiakan. Aamiin.


Sumber: (shalimow.com, pesantren virtual.com, ikwanti.wordpress.com, dan sumber lainnya).

Minggu, 13 Mei 2012

Berbuat Kebaikan itu Mudah dan Ringan (repost)

Dalam kajian Hadits Arba’in nomor 26 telah disebutkan bahwa Rasulullah saw begitu bersemangat dalam menunjukkan dan membuka setiap peluang kebaikan bagi umatnya. Beliau saw juga selalu berupaya menepis dan menutup munculnya sifat putus asa dan rasa tidak mampu dari dalam diri umatnya saat mereka dihadapkan pada berbagai amal keagamaan yang mereka anggap berat.

Perbuatan ringan bernilai sedekah

Rasulullah saw menjelaskan bahwa, “Pada diri manusia terdapat 360 ruas tulang, maka hendaklah ia bersedekah melalui setiap ruas ini.” Mendengar hal itu, spontan saja para sahabat bertanya, “Siapakah yang mampu melakukannya, wahai Nabi Allah?”

Spontanitas para sahabat ini wajar saja. Betapa tidak, bagi kebanyakan para sahabat yang sederhana, mungkinkah setiap hari bersedekah sebanyak 360 kali? Lebih tidak mungkin lagi adalah bahwa sedekah yang 360 kali itu hendaknya dilakukan oleh setiap ruas tulang!

Melihat bahwa para sahabatnya – juga umatnya – keberatan atas hal ini, maka Rasulullah menjelaskan jalan keluarnya. Beliau kemudian bersabda, “Engkau meludah di masjid dan menguruk (atau menimbun dengan pasir karena di zaman itu lantai masjid masih berupa pasir), sesuatu yang ada di jalan yang engkau singkirkan…”

Penjelasan seperti itu membuat sahabat mengerti bahwa bersedekah 360 kali, setiap hari dan atas nama setiap ruas tulang, ternyata bisa diwujudkan melalui pekerjaan-pekerjaan ringan. Begitu mudahnya hingga siapa saja, baik tua atau muda, kaya atau miskin, besar atau kecil, asal bersedia, dapat melakukannya.

Siapakah yang tidak mampu menguruk ludahnya dengan pasir atau kerikil atau semacamnya setelah ia meludah? Siapakah yang tidak mampu menyingkirkan sesuatu yang berpotensi membahayakan orang yang lewat dari tengah jalan? Siapakah yang keberatan untuk mengucapkan tasbih (subhanallah), tahmid (alhamdulillah), takbir (Allahu Akbar), istighfar (astaghfirullah) dan semacamnya?

Kenapa manusia tidak tertarik membantu saudaranya yang sedang mengangkat atau menjinjing barangnya? Siapakah yang merasa keberatan memberi petunjuk arah yang benar saat melihat orang kehilangan arah dalam suatu perjalanan? Dan yang lebih ringan lagi adalah, siapakah yang tidak mampu menahan dirinya agar tidak menyakiti orang lain?

Dalam penjelasan selanjutnya, beliau saw bersabda, "Jika tidak mampu, maka dua rakaat Dhuha cukup sebagai gantinya” (Hadits shahih lighairihi diriwayatkan oleh Ahmad [5/354, 359] dan Abu Daud hadits no. 5242). Jadi, bahkan sedekah pun dapat diganti dengan ‘hanya’ mengerjakan shalat Dhuha.

Rasulullah pun mencontohkan perbuatan ringan lainnya yang bernilai sedekah. Beliau bersabda, "Kalian tidak akan masuk surga sehingga beriman, dan tidak beriman sehingga saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang jika kalian melakukannya niscaya kalian akan saling mencintai? Maka. sebarkanlah salam di antara sesama kalian" (hadits shahih, diriwayatkan oleh Muslim no. 106).

Di bagian awal hadits ini, ada kesan ancaman. Sebab dinyatakan oleh beliau para sahabat tidak akan dapat masuk surga. Namun Rasulullah memberi jalan keluar agar para sahabat – dan umatnya – bisa masuk surga, yaitu dengan cara: beriman. Rupanya, beriman pun dianggap sulit. Maka, Rasulullah memberi jalan keluar lainnya, yaitu dengan keharusan saling mencintai sesama mukmin. Lalu beliau saw menunjukkan rahasia untuk saling mencintai, yaitu menyebarluaskan salam.

Sifat-sifat Rasulullah saw
Contoh-contoh tersebut menegaskan bahwa Rasulullah saw, sebagaimana tercantum dalam QS At-Taubah: 128, adalah seorang Rasul yang merasakan beratnya penderitaan yang dialami umatnya, yang sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagi umatnya dan yang penyantun serta penyayang terhadap orang-orang yang beriman.

Sifat-sifat Rasulullah tersebut merupakan suri teladan bagi umatnya, dalam konteks ini khususnya untuk para guru, pendidik dan pemimpin. Dalam rangka meneladani Rasulullah dalam perkara ini, para pakar pendidikan Islam menjelaskan, di antara adab seorang guru kepada muridnya hendaklah:

Memberi bimbingan kepada sang murid agar ia mencapai kemaslahatannya. Bersikap sayang dan lembut kepada sang murid. Membantunya sekuat kemampuannya agar sang murid mendapatkan ilmu. Memotivasinya agar selalu semangat dalam belajar. Senantiasa mengingatkan sang murid akan keutamaan ilmu, sebab yang demikian itu akan meningkatkan semangatnya. Memerhatikan kemaslahatan sang murid sebagaimana ia memerhatikan kemaslahatan anak dan dirinya sendiri. Mencintai sang murid sebagaimana ia mencintai diri sendiri. Menjauhkan sang murid dari hal-hal yang tidak disukainya sebagaimana ia menjauhkan hal itu dari dirinya (lihat At-Tibyan fi Adab Hamalatil Qur'an, karya Imam Nawawi, hal. 39 – 40).

Kemudian dengan memerhatikan teladan Rasulullah tersebut, maka terkait dengan pemimpin, para ulama pun mengatakan bahwa di antara adab pemimpin adalah:

Bersikap sayang dan lembut kepada rakyat. Mengambil hak dari mereka dan menyerahkannya kepada yang berhak. Menutup celah-celah yang membahayakan mereka. Mengamankan jalan. Menegakkan keadilan dengan cara menindak yang zalim dan membela yang terzalimi. Mengupayakan agar si kuat membela si lemah (lihat Al-Jauhar an-Nafis fi Siyasat Ar-Rais, hal. 133).

Adab-adab seperti ini, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama adab (pendidikan) dan ulama-ulama siyasah (politik), adalah hasil kajian dan penelusuran mereka kepada cara-cara Rasulullah saw dalam mendidik dan memimpin, yang semuanya mengacu kepada QS At-Taubah: 128, sebagaimana telah dijelaskan di atas.

Inilah butir-butir pelajaran yang dapat digali dari hadits Arba'in An-Nawawiyyah ke-26. Semoga Allah swt memberi taufik, hidayah dan kekuatan kepada kita dan menjadikan kita hamba-hamba yang mendengarkan perkataan-perkataan yang terbaik, lalu mengikuti dan mengamalkannya. Amiin.

(sumber : http://ummi-online.com/berita-56-berbuat-kebaikan-itu-mudah-dan-ringan.html )

DZIKIR ALA ROSULALLAH SAW

DZIKIR ALA ROSULALLAH SAW PDF Print E-mail


عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: «كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ

Dari Aisyah ra berkata : Nabi SAW berdzikir kepada Allah pada setiap waktunya (HR : Muslim. No : 373, Maktabah Syamilah)

Ibnu Hajar Al-asqolani dalam kitabnya “Fathulbari” menjelaskan : bahwa dzikir bisa bermakna mengucapkan ucapan yang dianjurkan syari’at seperti Albaqiyatusholihat (artinya amalan-amalan yang kekal dan baik, yakni :Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu akbar), Hauqallah (la haula wala quwwata illa billah), basmalah, hasballah (hasbiyallah wani’mal wakil) istighfar, dan do’a-do’a untuk kebaikan dunia dan akhirat. Selain itu sebenarnya, termasuk dzikir juga selalu menjaga amal-amal wajib dan sunnah seperti membaca : Alqur-an, hadits, mengkaji ilmu dan mengamalkan sholat sunnah.

Alhafidz menjelaskan juga bahwa dzikir  dengan lisan sudah dapat pahala walau sebatas terucap di lisan dan tidak menyertakan hati , asalkan tahu ma’na dari apa yang diucapkannya itu, tetapi apabila dzikir tersebut dengan menertakan hati , itu lebih baik lagi, apabila dzikir disertai dengan penghayatan terhadap ma’na dzikir yang diucapkan seperti menganungkan Allah ta’ala dan menghilangkan segala darinya, itu lebih baiklagi. Apabiladisertai  amal seperti jihad, sholat atau yang lainnya,itu lebih baik lagi.dan apabila ia betul-betul ikhlas dan hanya mengharap Allah SWT,itu adalah dzikir yang paling sempurna.
Mengutip penjelasan Fakhru Razi, bahwa dzikir itu bisa dengan hati ya’ni bertafakur, dengan lisa ya’ni mengucapkan bacaan yang disyari’atkan, atau dengan anggota badan ya’ni melaksanakan ketaatan, oleh karena itu sholat dalam Alqur-an disebut juga dzikir “Fas’au ila dzikrillah” (QS : Ajumu’ah : 9).

Imam Nawawi dalam salah satu kitabnya mengenai dzikir beliau menjelaskan :

اِعْلَمْ اَنَّ فَضِيْلَةَ الذِّكْرِ غَيْرَ مُنْحَصِرَةً فِى التَّسْبِيْحِ وَالتَّهْلِيْلِ وَالتَّهْمِيْدِ وَالتَّكْبِيْرِ وَنَحْوِهَا ، بَلْ كُلُّ عَامِلٍ لِلَهِ تَعَالَى بِطَاعَةٍ فَهُوَ ذَاكِرٌ لِلَّهِ تَعَالَى ، كَذَا قَالَهُ سَعِيْدُ بْنُ جُبَيْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَغَيْرُهُ مِنَ الْعُلَمَاءِ
Ketahuilah keutamaan dzikir itu tidak terbatas pada tasbih, tahlil,tahmid, takbir dan yang semacamnya, tetapi semua orang yang mengamalkan ketaatan, itu termasuk orang yang dzikir kepada Allah ta’ala, sebagaimana dinyatakan oleh Sa’id Ibnu Jubair dan para ulama lainnya. (Al-adzkar : 9)

Ketika menyinggung ayat “....dan laki-laki dan perempuan yang berdzikir kepada Allah dengan banyak, Allah menyediakan ampunan dan pahala yang besar bagi mereka” (QS : Al-Ahzab : 35), Imam Nawawi mengutip penjelasan dari Ibnu Abbas, Mujahid, Atho dan Abu Amr ibnu Sholah bahwa yang dimaksud adalah berdzikir sesudah sholat, diwaktu pagi dan petang, ketika hendak tidur, bangun tidur, keluar masuk rumah, melaksanakan sholat lima waktu dengan sebenarnya, selalu ingat keapada Allah disetiap saat, dan dzikir-dzikir yang ma’tsur (ada landasan dalilnya) disetiap waktunya baik siang atau malam, itu semua termasuk dalam pengertian ayat diatas (Al-adzkar : 7)

Penjelasan dari para ulama diatas bisa memperjelas maksud dari Nabi SAW berdzikir disetiap waktunya, bukan berarti Nabi SAW duduk terus menerus sepanjang harinya mengucap tasbih , tahmid, takbir dan semacamnya ; bukan pula Nabi SAW sebatas ingat saja tanpa mengucapkan ucapan-ucapan tertentu yang ma’tsur, melainkan dzikir dalampengertian yang sepenuhnya, tidak sepotong-sepotong, sebagaimana telah dijelaskan oleh para ulama diatas.

Dzikir-dzikir yang ma’tsur telah banyak dikompilasikan oleh para ulama melalui berbagai kitab dan bukunya, yang di Indonesia lebih populer dengan istilah do’a, seperti dzikir bangun tidur, pergi ke WC, bercermin, berpakaian, sebelum dan sesudah makan, keluar dan masuk rumah, masuk dan keluar masjid, berkendaraan, ketika melihar fenomena alam, angin ribut, hujan besar,petir, sampai ketika hendak tidur lagi ataupun bersenggama. Semua dzikir  tersebut tentu tidak hanya dengan mengandalkan “ingat” saja, tetapi harus diucapkan.

Syaikh Abdurrozaq ibnu Abdl Muhsin Al-badr dalam kitabnya Fiqh alhidayah wal adzkar menjelaskan,bentuk amal dzikir sudah dijelaskan Allah SWT dalam salah satu firman-Nya, yaitu :

وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ
Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, diwaktu pagi dan sore, dan janganlah kamu termasukorang-orang yang lalai (QS : Al’arof : 205)

Dari ayat diatas, menurut Albadr, setidaknya ada tujuh adab dan sekaligus kriteria dari dzikir yang disebutkan ayat tersebut sebagai amalan menyebut/mengingat Robb, yaitu : (1) di dalam hati, penuh keikhlasan, melibatkan emosi tidak hanya dilisan atau dalam lintasan pemikiran, (2) Tadlaorru : merendahkan diri, menjauhkan semua sifatkesombongan dan mengakui kerendahan diri dihadapan keagungan Allh. (3) penuh ketakutan : takut dzikir dan permohonannya tidakditerima Allah SWT, (4) tidak menjaharkan( mengeraskan ) suara , sebab merenung yang paling baik adalah dengan cara seperti ini , (5) Melibatkan lisan, tidak hanya hati, meski tidak sampai jahar . terambil dari firman Allah SWT  : Dunaljahri minalqaul , jadi adanya qaul, gerak lisan yang tidak sampai jahar. Terlebih memang Nabi SAW mencontohkan dalam berbagai haditsnya dzikir itu diucapkan oleh lisan, (6) di waktu pagi dan sore, dua waktu ini merupakan waktu istimewa untuk dzikir, bukan berarti hanya di dua waktu ini, melainkan waktu yang terbaik dan harus diprioritaskan, (7) tidak lalai dari dzikir, selalu merutinkannya walaupun sedikit (Fiqh Al-adiyah wal adzkar : 1 : 57 – 59).

Terkait waktu pagi dan sore , ada ulama yang menafsirkan sepanjang waktu dari pagi sampai sore, tetapi lebih banyak lagi yang menafsirkan adanya dzikir khusus di kedua waktu tersebut. Praktiknya bisa sesudah sholat shubuh dan ashar, sebab di hadits juga disebutkan dua waktu tersebutlah waktu pergantian malaikat siang dan malam (Shohih Muslim , no 1464 – 1465), bisa juga diluar sholat itu asalkan diwaktu pagi dan sore, seperti waktu sholat dluha ataupun qobla maghrib, salah satu hadits diantaranya menginformasikan jenis dzikir yang satu ini :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " مَنْ قَالَ: حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ يُمْسِي: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، مِائَةَ مَرَّةٍ، لَمْ يَأْتِ أَحَدٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ، إِلَّا أَحَدٌ قَالَ مِثْلَ مَا قَالَ أَوْ زَادَ عَلَيْهِ "
Dari Abi Hurairoh berkata : bersabda Rosulallah SAW : barang siapa ketika pagi dan sore, membaca do’a : Subhanallah wabihamdihi(maha suci Allah dan segala puji bagi-Nya) sebanyak seratus kali , maka pada hari kiamat tidak ada orang lain yang melebihi pahalanya kecuali orang yang juga pernah mengucapkan bacaan seperti itu atau lebih dari itu(HR : Muslim .no 2692)

Berkaitan dengan dzikir ini terdapat hadits yang menginformasikan adanya dzikir melalui satu majelis, seperti hadits berikut ini :

وَإِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَلَى حَلْقَةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ، فَقَالَ: «مَا أَجْلَسَكُمْ؟» قَالُوا: جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللهَ وَنَحْمَدُهُ عَلَى مَا هَدَانَا لِلْإِسْلَامِ، وَمَنَّ بِهِ عَلَيْنَا، قَالَ: «آللَّهِ مَا أَجْلَسَكُمْ إِلَّا ذَاكَ؟» قَالُوا: وَاللهِ مَا أَجْلَسَنَا إِلَّا ذَاكَ، قَالَ: «أَمَا إِنِّي لَمْ أَسْتَحْلِفْكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ، وَلَكِنَّهُ أَتَانِي جِبْرِيلُ فَأَخْبَرَنِي، أَنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِي بِكُمُ الْمَلَائِكَةَ»
Dan sesungguhnya Rosulallah SAW pernah keluar menemui sebuah kumpulan para shohabat, lalu beliau bertanya : apa yang membuat kalian duduk disini ? mereka menjawab : kami duduk untuk berdzikir kepada Allah dan memuji-Nya atas anugrah hidayah islam yang telah diberikan kepada kami, Nabi SAW bertanya : demi Allah, betulkah kalian tidak duduk kecuali untuk itu ? mereka menjawab : demi Allah, kami tidak duduk kecuali untuk itu, Nabi SAW bersabda: aku tidak meminta kalian bersumpah disebabkan meragukan kalian, tetapi Jibril tadi datang dan memberitahukan bahwa Allah ‘azz wajalla merasa bangga dengan kalian dihadapan Malaikat (HR: Muslim . dari Mu’awiyah. No : 2701)

Akan tetapi syaikh Utsaimin enegaskan : jangan langsung dipahami bahwa majelis dzikir para shohabat ini adalah dengan suara keras dan bacaan yang diseragamkan, sebab tidak ada satupun keterangan bahwa generasi salaf (terdahulu) mempraktikkan dzikir berjama’ah seperti kaum sufi/tasawuf saat ini, dzikir disini hanya sebatas mengingat-ingat ni’mat Allah SWT, tidak lebih dari itu (syarah Riadlu sholihin 4 : 25-26) imam Nawawi dalam hal ini mengutip penjelasan Atho :

مَجَالِسُ الذِّكْرِ هَيَ مَجَالِسُ الْحَلَالِ وَالْحَرَامِ ، كَيْفَ تَشْتَرِي وَتَبِيْعُ وَتُصَلِّى وَتَصُوْمُ وَتَنْكِحُ وَتُطَلِّقُ وَتَحُجُّ وَاَشْبَاهُ هَذَا 
Majelis-majelis dzikir itu adalah majelis-majelis yang membahas hukum halal dan haram, bagaimana cara jual beli, sholat, shaum, nikah, thalaq, haji dan semacamnya (Al-adzkar : 7)

Maka dari itu imam Nawawi dalam kitabna Riyadlu sholihin, memasukan juga dalam bab majelis dzikir ini hadits tentang majelis ta’lim dan kajian Alqur-an.
Terlebih khobar yang disampaikan Ibnu Mas’ud sangat jelas untuk menyanggah adanya majelis-majelis dzikir buatn yang tidak ma’tsur dari Nabi SAW , tatkala mendengar ada beberapa halaqoh (kumpulan) orang-orang yang berdzikir berjama’ah dipandu oleh seseorang dengan menggunakan batu kerikil sebagai alat menghitungnya , ibnu Mas’ud langsung datang ke Masjid tersebut dan berkata dengan keras:

«مَا هَذَا الَّذِي أَرَاكُمْ تَصْنَعُونَ؟» قَالُوا: يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ حصًا نَعُدُّ بِهِ التَّكْبِيرَ وَالتَّهْلِيلَ وَالتَّسْبِيحَ. قَالَ: «فَعُدُّوا سَيِّئَاتِكُمْ، فَأَنَا ضَامِنٌ أَنْ لَا يَضِيعَ مِنْ حَسَنَاتِكُمْ شَيْءٌ وَيْحَكُمْ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ، مَا أَسْرَعَ هَلَكَتَكُمْ هَؤُلَاءِ صَحَابَةُ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُتَوَافِرُونَ، وَهَذِهِ ثِيَابُهُ لَمْ تَبْلَ، وَآنِيَتُهُ لَمْ تُكْسَرْ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّكُمْ لَعَلَى مِلَّةٍ هِيَ أَهْدَى مِنْ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أوْ مُفْتَتِحُو بَابِ ضَلَالَةٍ» . قَالُوا: وَاللَّهِ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ، مَا أَرَدْنَا إِلَّا الْخَيْرَ. قَالَ: «وَكَمْ مِنْ مُرِيدٍ لِلْخَيْرِ لَنْ يُصِيبَهُ، إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدَّثَنَا أَنَّ» قَوْمًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ "، وَايْمُ اللَّهِ مَا أَدْرِي لَعَلَّ أَكْثَرَهُمْ مِنْكُمْ، ثُمَّ تَوَلَّى عَنْهُمْ.
Celaka kalian hai umat Muhammad, alngkah cepatnya kalian binasa , padahal para shohabat masih banyak , baju Rosul belum musnah, bejana-bejananya belum hancur (maksudnya belum lama Rosulallah SAW wafat). Demi Allah , apakah kalian mengira ada dalam millah yang lebih bagus daripada millah Muhammad, ataukah justru kalian membuka pintu kesesatan ? mereka menjawab : hai Abu Abdirrahman , maksud kami baik. Jawab Ibnu Mas’ud : bukankah banyak dari orang-orang yang bermaksud baik tapi ia tidak mencapai kebaikan!?, sesungguhnya Rosulallah SAW sudah mengingatkan kita akan adanya sekelompok orang yang mereka membaca Alqur-an , tapi tidak bisa melewati tenggorokan mereka, Demi Allah , aku tidak tahu, bisa jadi  kebanyakan dari  kalian termasuk dari mereka (Sunan Addarimi : 210)

Maksud dari “kelompok yang membaca Alqur-an , tapi tidak melewati tenggorokan” adalah kelompok sesat yang diinformasikan Nabi SAW akan datang dimasa sesudah Nabi SAW. Ciri mereka membaca Alqur-an, tapi hanya sekedar suara saja, tidak mengkaji dan memahami apa maksudnya.

sumber : http://www.fiqhsunnah.com/fiqh/dzikir-ala-rosulallah-saw.html

Sabtu, 12 Mei 2012

KESAKSIAN IBLIS


Dari Muadz bin Jabal dari Ibn Abbas

Ketika kami sedang bersama Rasulullah SAW di kediaman seorang sahabat Anshar, terdengar panggilan seorang dari luar rumah, ”Wahai penghuni rumah, bolehkah aku masuk? Sebab kalian akan membutuhkanku”. Rasulullah bersabda, “Tahukah kalian siapa yang memanggil?” Kami menjawab: “Allah dan rasulNya yang lebih tahu”. Beliau melanjutkan, “Itu iblis, laknat Allah bersamanya.” Umar bin Khattab berkata, “Izinkan aku membunuhnya wahai Rasullulah”. Nabi menahannya, “Sabar wahai Umar, bukankah kamu tahu bahwa Allah memberinya kesempatan hingga hari kiamat? Lebih bukakan pintu untuknya, sebab dia telah diperintahkan untuk ini, pahamilah apa hendak ia katakan dan dengarkan dengan baik”.

Pintu lalu dibuka, ternyata dia seperti seorang kakek yang cacat satu matanya. Di janggutnya terdapat 7 helai rambut seperti rambut kuda, taringnya terlihat seperti taring babi, bibirnya seperti bibir sapi.
Iblis berkata, “Salam untukmu Muhammad. Salam untukmu para hadirin.” Rasulullah SAW lalu menjawab, “Salam hanya milik Allah SWT. Sebagai makhluk terlaknat, apa keperluanmu?”
Iblis menjawab, “Wahai Muhammad, aku datang kesini bukan atas kemauanku, namun karena terpaksa”.
“Siapa yang memaksamu?”
“Seorang malaikat utusan Allah mendatangiku dan berkata: ‘Allah SWT memerintahkanmu untuk mendatangi Muhammad sambil menundukan diri. Beritahu Muhammad tentang caramu dalam menggoda manusia. Jawablah dengan jujur semua pertanyaannya. Demi kebesaran Allah, andai kau berdusta satu kali saja, maka Allah akan jadikan dirimu debu yang ditiup angin.’ Oleh karena itu aku sekarang mendatangimu. Tanyalah apa yang hendak kau tanyakan. Jika aku berdusta, aku akan dicaci oleh setiap musuhku. Tidak ada sesuatu pun yang paling besar menimpaku daripada cacian musuh.”

Orang yang dibenci Iblis
Rasulullah SAW lalu bertannya kepada iblis, “Kalau kau benar jujur, siapakah manusia yang paling kau benci?”
Iblis segera menjawab, “Kamu, kamu dan orang sepertimu adalah makhluk Allah yang paling aku benci.”
“Siapa selanjutnya?” tanya Rasulullah.
“Pemuda yang bertaqwa memberikan dirinya mengabdi kepada Allah SWT.”
“Lalu Siapa lagi?”
“Orang alim dan wara’ (loyal).”
“Lalu siapa lagi?”
“Orang yang selalu bersuci.”
“Siapa lagi?”
“Seorang yang fakir yang sabar dan tak pernah mengeluhkan kesulitannya kepada orang lain?”
“Apa tanda kesabarannya?”
“Wahai Muhammad, jika ia tidak mengeluhkan kesulitannya kepada orang lain selama 3 hari, Allah akan memberi pahala orang-orang yang sabar”.
“Selanjutnya apa?”
“Orang yang bersyukur”
“Apa tanda kesyukurannya ?”
“Ia mengambil kekayaannya dari tempatnya dan mengeluarkannya juga dari tempatnya”.
“Orang seperti Abu Bakar, menurutmu?”
“Ia tidak menurutiku di masa jahiliyah, apalagi dalam Islam.”
“Umar bin Khattab?”
“Demi Allah setiap berjumpa dengannya aku pasti kabur.”
“Usman bin Affan?”
“Aku malu kepada orang yang malaikat pun malu kepadanya.”
“Ali bin Abi Thalib?”
“Aku berharap darinya agar kepalaku selamat, dan berharap ia melepaskanku dan aku melepaskannya. Tetapi ia tak akan mau melakukan itu.” (karena Ali Abi Thalib selalu berdzikir terhadap Allah SWT).

Amalan yang Dapat Menyakiti Iblis
“Apa yang kau rasakan jika melihat seseorang dari umatku yang hendak shalat ?”
“Aku merasa panas dingin dan gemetar.”
“Kenapa ?”
“Sebab, setiap seorang hamba bersujud 1x kepada Allah, Allah mengangkatnya 1 derajat.”
“Jika seorang umatku berpuasa?”
“Tubuhku terasa terikat hingga ia berbuka.”
“Jika ia berhaji?”
“Aku seperti orang gila.”
“Jika ia membaca Al-Qur’an?”
“Aku merasa meleleh laksana timah di atas api.”
“Jika ia bersedekah”
“Itu sama saja orang tersebut membelah tubuhku dengan gergaji.”
“Mengapa bisa begitu?”
“Sebab dalam sedekah ada 4 keuntungan baginya. Yaitu keberkahan dalam hartanya, hidupnya disukai, sedekah itu kelak akan menjadi hijab antara dirinya dengan api neraka dan segala macam musibah akan terhalau dari dirinya.”
“Apa yang dapat mematahkan pinggangmu?”
“Suara kuda perang di jalan Allah.”
“Apa yang dapat melelehkan tubuhmu ?”
“Taubat orang bertaubat.”
“Apa yang dapat membakar hatimu?”
“Istighfar diwaktu siang dan malam.”
“Apa yang dapat mencoreng wajahmu ?”
“Sedekah yang diam-diam.”
“Apa yang dapat merusak wajahmu?”
“Shalat fajar.”
“Apa yang dapat memukul kepalamu?”
“Shalat berjama’ah.”
“Apa yang paling mengganggumu?”
“Majelis para ulama.”
“Bagaimana cara makanmu?”
“Dengan tangan kiri dan jariku.”
“Dimana kah kau menaungi anak-anakmu di musim panas?”
“Di bawah kuku manusia.”

Manusia Yang Menjadi Teman Iblis
Nabi lalu bertanya, “Siapa temanmu wahai Iblis?”
“Pemakan riba”
“Siapa sahabatmu?”
“Pezina.”
“Siapa teman tidurmu?”
“Pemabuk.”
“Siapa utusanmu?”
“Tukang sihir.”
“Apa yang membuatmu gembira?”
“Bersumpah dengan cerai.”
“Siapa kekasihmu?”
“Orang yang meninggalkan shalat jum’at.”
“Siapa manusia yang paling membahagiakanmu?”
“Orang yang meninggalkan shalatnya dengan sengaja.”

Iblis Tidak Berdaya Dihadapan Orang yang Ikhlas
Rasullullah SAW lalu bersabda, “Segala puji bagi Allah yang telah membahagiakan umatku dan menyengsarakanmu.”
“Iblis segera menimpali, “Tidak. Tak akan ada kebahagiaan selama aku hidup hingga hari akhir. Bagaimana kau bisa berbahagia dengan umatmu, sementara aku bisa masuk ke dalam aliran darah mereka dan mereka tak bisa melihatku. Demi yang menciptakan diriku dan memberikanku kesempatan hingga hari akhir, aku akan menyesatkan mereka semua. Baik yang bodoh, atau yang pintar, yang bisa membaca dan tidak bisa membaca, yang durjana dan yang sholeh, kecuali hamba Allah yang ikhlas.”
“Siapa orang yang ikhlas menurutmu?”
“Tidaklah kau tahu wahai Muhammad, bahwa barang siapa yang menyukai emas dan perak, ia bukan orang yang ikhlas. Jika kau lihat orang yang tidak menyukai dinar dan dirham, tidak suka pujian dan sanjungan, aku bisa pastikan bahwa ia orang yang ikhlas, maka aku meninggalkannya. Selama seorang hamba masih menyukai harta dan sanjungan dan hatinya selalu terikat dengan kesenangan dunia, ia sangat patuh padaku.”

Iblis Dibantu oleh 70.000 Anak-anaknya
Tahukah kamu Muhammad, bahwa aku mempunyai 70.000 anak dan setiap anak memilki 70.000 syaitan. Sebagian ada yang aku tugaskan untuk mengganggu ulama. Sebagian untuk mengganggu anak-anak muda, sebagian untuk mengganggu orang tua sebagian untuk mengganggu wanita tua, sebagian anakku juga aku tugaskan kepada para zahid.
Aku punya anak yang suka mengencingi telinga manusia sehingga ia tidur pada shalat berjama’ah. Tanpanya manusia tidak akan mengantuk pada waktu shalat berjama’ah. Aku punya anak yang suka menaburkan sesuatu di mata orang yang sedang mendengarkan ceramah ulama hingga mereka tertidur hingga pahalanya terhapus. Aku punya anak yang senang berada di lidah manusia. Jika seseorang melakukan kebajikan lalu ia beberkan kepada manusia, maka 99% pahalanya akan terhapus. Pada setiap seseorang wanita yang berjalan, anakku dan syaitan duduk di pinggul dan pahanya, lalu menghiasinya agar setiap orang memandanginya. Syaitan juga berkata, ”Keluarkan tanganmu”, lalu ia mengeluarkan tangannya lalu syaitan pun menghiasi kukunya. Mereka, anak-anakku selalu menyusup dan berubah ke satu kondisi ke kondisi lainnya, dari satu pintu ke pintu lainnya untuk menggoda manusia hingga mereka terhempas dari keikhlasan mereka. Akhirnya mereka menyembah allah tanpa ikhlas, namun mereka tidak merasa.
Tahukah kamu, Muhammad? Bahwa ada rahib yang telah beribadat kepada Allah selama 70 tahun. Setiap orang sakit yang didoakan olehnya sembuh seketika. Aku terus meggodanya hingga ia berzina, membunuh dan kufur.

Cara Iblis Menggoda
Tahukah kau Muhammad, dusta berasal dari diriku? Aku lah mahluk pertama yang berdusta. Pendusta adalah sahabatku. Barang siapa bersumpah dengan berdusta, ia kekasihku.
Tahukah kau Muhammad? Aku bersumpah kepada Adam dan Hawa derngan nama Allah bahwa aku benar-benar menasihatinya. Sumpah dusta adalah kegemaranku. Ghibah (gosip) dan Namimah (adu domba) kesenanganku. Kesaksian palsu kegembiraanku. Orang yang bersumpah untuk menceraikan istrinya, ia berada di pinggir dosa walau hanya sekali dan walaupun ia benar. Sebab barang siapa membiasakan dengan kata-kata cerai, istrinya menjadi haram baginya. Kemudian ia akan beranak cucu hingga hari kiamat. Jadi semua anak-anak zina dan ia masuk neraka hanya karena satu kalimat, Cerai.
Wahai Muhammad, umatmu ada yang suka mengulur-ulur shalat. Setiap ia hendak berdiri untuk shalat, aku bisikkan padanya waktu masih lama, kamu masih sibuk, lalu ia menundanya hingga ia melaksanakan shalat di luar waktu, maka shalat itu dipukulkannya ke mukanya.
Jika ia berhasil mengalahkanku, aku biarkan ia shalat. Namun aku bisikkan ke telinganya lihat kiri dan kananmu, ia pun menoleh. Pada saat itu aku usap dengan tanganku dan kucium keningnya serta aku ucapkan ‘shalatmu tidak sah’. Bukankah kamu tahu Muhammad, orang yang banyak menoleh dalam shalatnya akan dipukul.
Jika ia shalat sendirian, aku suruh dia untuk bergegas. Ia pun shalat seperti ayam yang mematuk beras.
Jika ia berhasil mengalahkanku dan ia shalat berjama’ah, aku ikat lehernya dengan tali, hingga ia mengangkat kepalanya sebelum imam, atau meletakkan sebelum imam. Kamu tahu bahwa melakukan itu batal shalatnya dan wajahnya akan dirubah menjadi wajah keledai.
Jika ia berhasil mengalahkanku, aku tiup hidungnya hingga ia menguap dalam shalat. Jika ia tidak menutup mulutnya ketika menguap, syaitan akan masuk ke dalam dirinya, dan membuatnya menjadi bertambah serakah dan gila dunia. Dan ia pun semakin taat padaku.
Kebahagiaan apa untukmu, sedangkan aku memerintahkan orang miskin agar meninggalkan shalat. Aku katakan padanya, “Kamu tidak wajib shalat, shalat hanya wajib untuk orang yang berkecukupan dan sehat. Orang sakit dan miskin tidak. Jika kehidupanmu telah berubah baru kau shalat.” Ia pun mati dalam kekafiran. Jika ia mati sambil meninggalkan shalat maka Allah akan menemuinya dalam kemurkaan.
Wahai Muhammad, “Apakah engkau akan bergembira dengan umatmu padahal aku mengeluarkan seperenam mereka dari Islam?”

10 Permintaan Iblis Kepada Allah SWT
“Berapa yang kau pinta dari Tuhanmu?”
“10 macam.”
“Apa saja?”
“Aku minta agar Allah membiarkanku berbagi dalam harta dan anak manusia, Allah mengizinkan. Allah berfirman, ‘Berbagilah dengan manusia dalam harta dan anak. Dan janjikan lah mereka, tidaklah janji syaitan kecuali tipuan.” (QS.Al-Isra’:64). Harta yang tidak dizakatkan, aku makan darinya. Aku juga makan dari makanan haram dan bercampur dengan riba. Aku juga makan dari makanan yang tidak dibacakan nama Allah. Aku minta agar Allah membiarkanku ikut bersama dengan orang yang berhubungan dengan istrinya tanpa berlindung dengan Allah. Maka setan ikut bersamanya dan anak yang dilahirkan akan sangat patuh kepada syaitan.
Aku minta agar bersama dengan orang yang menaiki kendaraan bukan untuk tujuan yang halal. Aku minta agar Allah menjadikan kamar mandi sebagai rumahku. Aku minta agar Allah menjadikan pasar sebagai masjidku. Aku minta agar Allah menjadikan syair sebagai Quranku. Aku minta agar Allah memberikan saudaraku, maka ia jadikan orang yang membelanjakan hartanya untuk maksiat sebagai saudaraku. Allah berfirman, “ Orang – orang boros adalah saudara-saudara syaitan.” (QS.Al-Isra’:27).
“Wahai Muhammad, aku minta agar Allah membuatku bisa melihat manusia sementara mereka tidak bisa melihatku. Dan aku minta agar Allah memberiku kemampuan untuk mengalir dalam aliran darah manusia. Allah menjawab, ‘Silahkan’, aku bangga dengan hal itu hingga hari kiamat. Sebagian besar manusia bersamaku di hari kiamat.
“Wahai Muhammad, aku tak bisa meyesatkan orang sedikitpun, aku hanya bisa membisikkan dan menggoda. Jika aku bisa menyesatkan, tak akan tersisa seorang pun. Sebagaimana dirimu, kamu tidak bisa memberi hidayah sedikitpun, engkau hanya Rasul yang menyampaikan amanah. Jika kau bisa memberi hidayah, tak akan ada seorang kafir pun di muka bumi ini. Kau hanya bisa menjadi penyebab untuk orang telah ditentukan sengsara. Orang yang bahagia adalah orang yang telah ditulis bahagia sejak diperut ibunya. Dan orang yang sengsara adalah orang yang telah ditulis sengsara semenjak dalam kandungan ibunya.

Rasulullah SAW lalu membaca ayat, “Mereka akan terus berselisih, kecuali orang yang dirahmati oleh Allah SWT.” (QS.Hud:118-119). Juga membaca, “Sesungguhnya ketentuan Allah pasti berlaku.” (QS.Al-Ahzab:38).
Iblis lalu berkata, “Wahai Rasul Allah takdir telah ditentukan dan pena takdir telah kering. Maha suci Allah yang menjadikanmu pemimpin para Nabi dan Rasul, pemimpin penduduk surga, dan yang telah menjadikan aku pemimpin makhluk-makhluk celaka dan pemimpin penduduk neraka. Aku si celaka yang terusir. Ini akhir yang ingin aku sampaikan kepadamu. Dan aku tak berbohong.”

Sumber: Kitab Sajaratul Kaun oleh Muhyidin Ibnu Arabi / Darul ‘Ilmi al–Munawar asy-Syamsiyah, Madinah.

Rabu, 02 Mei 2012

KEUTAMAAN DAN KEBERKAHAN HARI SENIN DAN KAMIS


1.  Diantara keutamaan dan keberkahannya, bahwa pintu-pintu surga dibuka pada dua hari tersebut, yaitu Senin dan Kamis. Pada saat inilah orang-orang Mukmin diampuni, kecuali dua orang Mukmin yang sedang bermusuhan.
Dalil yang menguatkan hal ini adalah hadits yang termaktub dalam shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda:
Pintu-pintu Surga di buka pada hari Senin dan Kamis. Maka semua hamba yang tidak menyekutukan Alloh dengan sesuatu apapun akan diampuni dosa-dosanya, kecuali seseorang yang antara dia dan saudaranya terjadi permusuhan. Lalu dikatakan, ‘Tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengampunan terhadap orang ini sampai keduanya berdamai.” (HR. Muslim)
Keutamaan dan keberkahan berikutnya, bahwa amal-amal manusia diperiksa di hadapan Alloh pada kedua hari ini. Sebagaimana yang terdapat dalam shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dari Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam. Beliau bersabda:
Amal-amal manusia diperiksa di hadapan Alloh dalam setiap pekan (Jumu’ah) dua kali, yaitu pada hari Senin dan Kamis. Maka semua hamba yang beriman terampuni dosanya, kecuali seorang hamba yang di antara dia dan saudaranya terjadi permusuhan…” (HR. Muslim)
Karena itu, selayaknya bagi seorang Muslim untuk menjauhkan diri dari memusuhi saudaranya sesame Muslim, atau memutuskan hubungan dengannya, ataupun tidak memperdulikannya dan sifat-sifat tercela lainnya, sehingga kebaikan yang besar dari Allah Ta’ala ini tidak luput darinya.

2.    Keutamaan hari Senin dan Kamis yang lainnya, bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam sangat antusias berpuasa pada kedua hari ini.
Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, ia mengatakan,
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam sangat antusias dan bersungguh-sungguh dalam melakukan puasa pada hari Senin dan Kamis”. (HR. Tirmidzi, an-Nasa-i, Ibnu Majah, Imam Ahmad)
Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam menyampaikan alasan puasanya pada kedua hari ini dengan sabdanya,
Amal-amal manusia diperiksa pada setiap hari senin dan Kamis, maka aku menyukai amal perbuatanku diperiksa sedangkan aku dalam keadaan berpuasa.” (HR. At Tirmidzi dan lainnya)
Dalam shahih Muslim dari hadits Abu Qatadah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam pernah ditanya tentang puasa hari Senin, beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab,
Hari tersebut merupakan hari aku dilahirkan, dan hari aku diutus atau diturunkannya Al-Qur’an kepadaku pada hari tersebut.” (HR.Muslim)
Ash-Shan’ani rahimahullah berkata, “Tidak ada kontradiksi antara dua alasan tersebut.” (Lihat Subulus Salam)
Berdasarkan hadits-hadits di atas maka di sunnahkan bagi seorang Muslim untuk berpuasa pada dua hari ini, sebagai puasa tathawwu’ (sunnah).

3. Keutamaan lain yang dimiliki hari Kamis, bahwa kebanyakan perjalanan (safar) Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam terjadi pada hari Kamis ini.
Beliau menyukai keluar untuk bepergian pada hari Kamis. Sebagaimana tercantum dalam Shahih Bukhari bahwa Ka’ab bin Malik radhiallahu ‘anhu mengatakan:
Sangat jarang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam keluar (untuk melakukan perjalanan) kecuali pada hari Kamis.”
Dalam riwayat lain juga dari Ka’ab bin Malik radhiallahu ‘anhu:
Bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam keluar pada hari Kamis di peperangan Tabuk, dan (menang) beliau suka keluar (untuk melakukan perjalanan) pada hari Kamis.” (HR.Bukhori)

Dikutip dari Kitab “Amalan dan Waktu yang Diberkahi”, penulis: Dr. Nashir bin Abdirrahman bin Muhammad al-Juda’i, penerbit Pustaka Ibnu Katsir.