Assalamu'alaikum :) Anda adalah pengunjung ke

Website counter

Sabtu, 31 Maret 2012

Memanjangkan Sujud Terakhir

Oleh : Ustadz Bachtiar Nasir
Ustadz, ada sebagian ulama yang membolehkan membaca doa sewaktu sujud pada rakaat terakhir dengan pertimbangan pada saat sujud manusia dekat dengan Allah SWT. Namun, sebagian ulama melarang hal tersebut. Alasannya, hal itu akan menambah ritual baru dalam shalat. Bagaimana menyikapi masalah ini sesuai syariat, Ustadz?
La Ode, Tangerang
Jawaban :
Benar bahwa ketika sujud merupakan saat terbaik untuk berdoa. Seperti disebutkan dalam hadis Rasulullah, “Saat yang paling dekat antara seorang hamba dan Rabb-nya adalah ketika ia sujud, maka perbanyaklah doa ketika itu.” ( HR Muslim dari Abu Hurairah ). Jadi, membaca doa saat sujud dibolehkan, bahkan dianjurkan sebab waktu itulah seorang hamba berada pada momen terdekat dengan Allah.
Riwayat lain juga menjelaskan hal ini. Ibnu Abbas menyatakan, Nabi bersabda, “Ketahuilah, aku dilarang untuk membaca Al-Quran dalam keadaan rukuk atau sujud. Adapun saat rukuk, agungkanlah Rabb Azza wa Jalla, sedangkan kala sujud berusahalah bersungguh-sungguh dalam doa sehingga layak dikabulkan untukmu.” ( HR Muslim ).
Bahkan, para ulama berpendapat, doa yang berasal dari Al-Quran boleh dibaca waktu sujud selama diniatkan berdoa, bukan membaca Al-Quran. Ulama Syafi’iyah, al-Zarkasyi, berkata dalam kitabnya, Tuhfatul Muhtaj, “Yang terlarang  jika dimaksudkan membaca Al-Quran, namun jika yang dimaksudkan adalah doa tidak apa-apa, seperti seseorang boleh membaca qunut dengan beberapa ayat Al-Quran.”
Sebagian imam sering kali hanya memperpanjang sujud terakhir ketika shalat karena memperbanyak doa. Para ulama berpendapat, memanjangkan sujud itu pada umumnya diperbolehkan, khususnya bagi yang shalat sendirian, tetapi mengkhususkannya pada sujud terakhir itu tidak ada dalilnya. Diriwayatkan, dalam amalan shalat Nabi Muhammad, semua gerakan shalatnya lamanya hampir sama.
Al-Barra` bin ‘Azib berkata mengenai shalat Rasulullah, “Rukuk, bangkit dari rukuk, sujud, dan duduk di antara dua sujud, semuanya hampir sama ( lama dan tumaninahnya ).” ( HR Bukhari dan Muslim ).
Untuk imam, sebaiknya tidak terlalu memanjangkan pelaksanaan rukun-rukun shalat mengingat kondisi makmum yang berbagai macam.
Hal ini sesuai anjuran Nabi. Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, “Apabila salah seorang dari kamu mengimami orang banyak, maka hendaklan ia meringankannya karena di antara makmum itu ada yang lemah, sakit, dan sudah tua. Dan apabila ia shalat sendiri, maka hendaklah ia memanjangkan semaunya.” ( HR Malik, Bukhari, dan Muslim ).  Wallahu a’lam bish shawab ■
Sumber : Konsultasi Agama, Republika, Jumat, 11 November 2011/15 Dzulhijjah 1432

Minggu, 25 Maret 2012

Berdo'a

Tata Cara dan Adab-Adab Berdo’a
1.      Menghadap kiblat.
2.      Diawali dengan berdzikir, bertaubat, dan mengucapkan puji-pujian kepada Allah SWT.
3.      Mengangkat tangan waktu berdo’a.
4.      Dengan suara yang lembut.
5.      Tidak bersajak.
6.      Yakin dikabulkan.
7.      Do’anya diulang tiga kali (HR. Bukhari dan Muslim).
8.      Berdo’a dengan sungguh-sungguh.
9.      Berdo’a denga singkat tetapi padat (mencakup).
10.  Berdo’a dalam keadaan apa saja (waktu senang, susah, kaya atau sedang miskin).
11.  Do’a diakhiri dengan membaca shalawat dan hamdalah.

Syarat-syarat Diterimanya Do’a
1.      Dilakukan dengan hati yang ikhlas.
2.      Mengetahui dan memahami arti do’a yang disampaikan.
3.      Bertaqwa kepada Allah SWT.
4.      Dengan rasa penuh bakti dan penuh harap.
5.      Dengan khusyu’ (menghadirkan hati), tadharru’ dan suara yang lembut.
6.      Berdo’a untuk kebaikan, bukan untuk ma’shiat, dan tidak terburu-buru minta dikabulkan.
7.      Jika ingin makan, minum, dan berpakaian harus yang halal.

Saat-saat Mustajab Do’a
1.      Dalam bulan suci Ramadhan yang penuh barakah, rahmat, dan magfirah-Nya; tengah malam atau sepertiga malam terakhir, ketika suasana sunyi dan umumnya orang sedang tidur nyenyak, karena pada setiap sepertiga malam yang terakhir, Allah SWT turun ke langit dunia, seraya berkata, “Barangsiapa berdo’a kepada-Ku, tentu aku kabulkan. Dan barangsiapa meminta sesuatu kepada-Ku tentu Aku beri. Barangsiapa meminta ampunan kepada-Ku tentu Aku ampuni.” Demikian ditegaskan Rasulullah SAW. (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).
2.      Antara adzan dan iqamah.
3.      Pada saat Lailatul Qadr.
4.      Pada malam dan hari jum’at.
5.      Pada akhir waktu Ashar hari jum’at.
6.      Ketika Imam naik ke atas mimbar pada waktu akan berkhotbah Jum’at, hingga selesai Shalat Jum’at.
7.      Ketika menghatamkan bacaan Al-Qur’an.
8.      Pada setiap majelis ta’lim, waktu pengajiannya.
9.      Sesudah tiap-tiap shalat fardhu lima waktu.
10.  Ketika sujud.
11.  Pada waktu sahur.
12.  Pada hari Arafah (pada waktu haji).
13.  Malam pertama bulan Rajab, pertengahan bulan Sya’ban, malam Jum’at, malam Idul Fitri dan malam Idul Adha.

Minggu, 18 Maret 2012

Keutamaan Sholat Tahajud

>> Sholat malam merupakan bentuk pendekatan diri kepada Allah SWT dan Penghapus dosa.

Diriwayatkan dari Abu Umamah rodhiyallahu anha, Rasulullah sholallahu alaihi wasalam bersabda : " Kerjakanlah sholat malam (sholat tahajud), karena ia merupakan kebiasaan orang-orang shalih sebelum kalian, dan bentuk pendekatan diri kepada Robb kalian, penghapus dosa-dosa serta pencegah perbuatan dosa."
H.R Tirmidzi (3549) dan Hakim (I/308)

>> Sholat malam menyehatkan badan.

Rasulullah Sholallahu Alaihi Wasalam bersabda sebagaimana yang disebutkan dalam hadits riwayat Thobroni : " Kerjakanlah sholat malam (sholat tahajud), karena sesungguhnya ia akan mengusir penyakit dari dalam tubuh."

>> Orang yg disiplin sholat malam akan masuk surga dg kedamaian.

Thobroni meriwayatkan dengan sanad hasan dari Abdulloh Ibnu Umar r.a, bahwa nabi sholallahu alaihi wasalam bersabda, "Sesungguhnya di dalam surga itu terdapat sebuah istana, dimana bagian luarnya bisa dilihat dari dalam, dan bagian dalamnya bisa dilihat dari luar." Abu Malik Al-Asy'ari r.a bertanya, "Untuk siapakah istana itu, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Untuk orang yang berkata baik, memberikan makan, dan mengerjakan sholat malam (sholat tahajud)ketika orang-orang sedang tidur malam."

>> Sholat malam merupakan kemuliaan orang mukmin di dunia dan akhirat.

Thobroni meriwayatkan dg isnad hasan dari Sahl bin Sa'd r.a, bahwa ia berkata, "Jibril datang kepada nabi saw seraya berkata, "Wahai Muhammad, hiduplah sesuka hatimu, sesungguhnya engkau akan mati. Kerjakanlah sesukamu, sesungguhnya engkau akan diberi balasan atas tindakanmu itu. Cintailah orang yang engkau kehendaki, sesungguhnya engkau tetap akan berpisah dengannya. ketahuilah bahwa kemuliaan seorang mukmin itu terletak pada sholat malam yang dikerjakannya. Sedangkan kemuliaanya terletak pada kecukupannya dari (bantuan) orang lain."

>> Orang yang bangun malam untuk mengerjakan sholat tidak akan merugi.

Thobroni meriwayatkan dari Ibnu Mas'ud r.a, bahwa Rasulullah saw bersabda, "Allah tidak akan menjadikan rugi seseorang yang bangun tengah malam, lalu ia membaca surat Al Baqarah dan surat Ali Imron.

>> Orang yang mengerjakan sholat malam akan mendapatkan kedekatan dengan Allah Swt.

Tirmidzi meriwayatkan dari Amru bin 'Anbasah r.a, bahwa ia pernah mendengar Nabi saw bersabda, "Keadaan paling dekat seorang hamba dengan Robbnya adalah ditengah malam terakhir. Jika engkau bisa menjadi bagian dari orang yang berdzikrulloh ketika itu, lakukanlah."

>> Orang yang mengerjakan sholat malam akan dicatat sebagai golongan yang banyak menyebut nama Allah (berdzikir).

Rasulullah saw bersabda : " Jika seseorang membangunkan istrinya di tengah malam, lalu keduanya sholat malam dua rokaat secara berjamaah, maka keduanya dicatat sebagai bagian dari golongan laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir." HR. Abu Dawud

>> Mendapatkan Rahmat dan Ampunan dari Allah.

Rasulullah saw bersabda : "Semoga Allah merahmati seorang laki-laki yang bangun malam, kemudian mengerjakan sholat dan membangunkan istrinya (agar ikut mengerjakan sholat malam), lantas jika istrinya enggan, maka ia memerciki wajahnya dengan air. Semoga Allah merahmati seorang wanita yang bangun malam kemudian mengerjakan sholat malam dan membangunkan suaminya (agar mengerjakan sholat malam), lantas jika suaminya enggan, maka ia memerciki wajahnya dengan air." HR. Abu Dawud (1308) dan Ibnu Majah (1335).

Minggu, 11 Maret 2012

Kisah Kalimat Subhanallah


Alkisah. Suatu hari Imam Ahmad bin Hambal mengadakan perjalanan dakwah ke suatu daerah. Di daerah tersebut Imam Ahmad tidak memunyai teman. Hari sudah malam dan Imam tidak mendapatkan tempat untuk menginap. Akhirnya Imam pergi ke sebuah masjid, menggelar tikar untuk bermalam dan tidur di sana. Mungkin karena capek, mata pun segera terlelap. Baru saja sekejap mata terpejam, tiba-tiba seorang penjaga masjid datang dan membangunkannya. Penjaga masjid  tidak membolehkannya tidur di dalam masjid. Imam berkata: Aku ini adalah musafir yang tidak mendapatkan tempat untuk bermalam. Penjaga masjid itu tetap menolak dan tidak mengizinkan seseorang tidur di dalam masjid, dia tidak tahu kalau orang yang dilarang tidur di masjid itu adalah seorang ulama besar. Imam Ahmad diusir keluar, kerah bajunya ditarik hingga keluar dari pintu masjid. Pada saat sedang keluar dari masjid itulah lewat seseorang tukang roti, lalu menghampirinya dan ingin tahu apa yang sedang terjadi. “Apa yang terjadi pada Anda?” tanya tukang roti. Imam menjawab: “Saya tidak mendapatkan tempat untuk bermalam dan saya hendak tidur di masjid, tetapi penjaga masjid melarang saya tidur di masjid,” jawab Imam. Setelah tahu permasalahannya, tukang roti lalu mengajak Imam pulang dan bermalam di rumahnya.
Imam Ahmad dipersilakan tidur di sebuah kamar, sementara tukang roti melanjutkan pekerjaannya, yaitu membuat roti untuk dipasarkan besok pagi. Imam Ahmad tidak bisa tidur, dia memperhatikan apa yang dikerjakan oleh tukang roti. Di situlah Imam Ahmad terkagum-kagum melihat tukang roti banyak mengucapkan tasbih, “Subhanallah” sambil membuat roti. Imam Ahmad merasakan betapa agungnya apa yang dilakukan oleh tukang roti itu.
Pagi harinya Imam Ahmad bertanya: Apakah Anda sudah melihat dan merasakan suatu keberuntungan dari membaca tasbih?”
Tukang roti menjawab: “Ya. Demi Allah, semua yang aku mohonkan selalu dikabulkan Allah, kecuali satu yang hingga kini belum dikabulkan Allah.”
“Apa yang satu itu?” Tanya Imam Ahmad.
Jawab tukang roti: “Aku inginmelihat seorang ulama besar yaitu Imam Ahmad bin Hambal.”
Imam bekata: “Akulah Imam Ahmad bin Hambal. Demi Allah, Dia telah mengirimkan aku memenuhi permohonan anda. Sungguh doa anda telah dikabulkan Allah.”