Assalamu'alaikum :) Anda adalah pengunjung ke

Website counter

Kamis, 30 Agustus 2012

Balasan Bagi Orang Yang Amanah dan Jujur

Dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah menyebutkan seorang laki-laki dari Bani Israil yang meminta orang Bani Israil lainnya agar memberinya hutang sebesar 1000 dinar. Lalu orang yang menghutanginya berkata, "Datangkanlah beberapa saksi agar mereka menyaksikan hutangmu ini." Ia menjawab, "Cukuplah Allah sebagai saksi bagiku!" Orang itu berkata, "Datangkanlah seseorang yang menjaminmu!" Ia menjawab, "Cukuplah Allah yang menjaminku!" Orang yang akan menghutangipun lalu berkata, "Engkau benar!" 

Maka uang itu diberikan kepadanya (untuk dibayar) pada waktu yang telah ditentukan. Setelah lama orang yang berhutang itupun berlayar untuk suatu keperluannya. Lalu ia mencari kapal yang bisa mengantarnya karena hutangnya telah jatuh tempo, tetapi ia tidak mendapatkan kapal tersebut. 

Maka iapun kemudian mengambil sebilah kayu yang kemudian ia lubangi, dan dimasukkannya uang 1000 dinar di dalamnya beserta surat kepada pemiliknya. Lalu ia meratakan kembali kayu tersebut dan memperbaiki letaknya. Selanjutnya ia pergi ke laut seraya berkata, "Ya Allah, sungguh Engkau telah mengetahui bahwa aku meminjam uang kepada si fulan sebanyak 1000 dinar. Ia meminta kepadaku seorang penjamin maka aku katakan waktu itu, 'Cukuplah Allah sebagai penjamin.' Dan ia memintaku seorang saksi, maka aku katakan juga, 'Cukuplah Allah sebagai saksi.' 

Kemudian iapun rela dengan uang yang aku pinjam itu. Sungguh aku telah berusaha keras mencari kapal untuk mengirimkan kepadanya uang yang telah aku pinjam karena telah tiba bagiku waktu untuk mengembalikannya, tetapi aku tidak mendapatkan kapal itu. Karena itu aku titipkan uang itu kepadaMu."
Lalu ia melemparnya ke laut dan pulang. 

Adapun orang yang memberi hutang itu, maka ia keluar mencari kapal yang datang ke negerinya. Iapun keluar rumah untuk melihat-lihat barangkali ada kapal yang membawa titipan uang untuknya. Tetapi tiba-tiba ia menemukan sepotong kayu. Ia lalu mengambilnya untuk keperluan kayu bakar istrinya. Namun ketika ia membelah kayu tersebut ia mendapatkan uang berikut sepucuk surat. 

Selang beberapa waktu datanglah orang yang berhutang sambil membawa uang 1000 dinar seraya berkata, "Demi Allah, aku terus berusaha untuk mendapatkan kapal agar bisa sampai kepadamu untuk mengantarkan uangmu, tetapi aku sama sekali tidak mendapatkan kapal sebelumnya kecuali yang aku tumpangi ini."
Orang yang menghutangi berkata, "Bukankah engkau telah mengirimkan uang itu melalui sesuatu?" Ia menjawab, "Memang aku telah memberitahukan kepadamu bahwa aku tidak mendapatkan kapal sebelum yang aku tumpangi sekarang ini" 

Orang yang menghutanginya berkata, "Sesungguhnya Allah telah menunaikan apa yang engkau kirimkan kepadaku melalui kayu. Karena itu bawalah uang 1000 dinarmu kembali dengan keberuntungan." [1]
Pelajaran Yang Dapat Dipetik:

1. Diperbolehkan menentukan batasan membayar hutang dan kewajiban melunasinya pada waktunya.

2. Anjuran untuk senantiasa menyerahkan diri dan bertawakkal kepada Allah dalam segala urusan dan kondisi.

3. Anjuran untuk berdagang. Dan bahwasanya transaksi jual beli ini sudah dikenal umat sejak dahulu. Diperbolehkan meminjam uang (berhutang) untuk modal dagang jika memang ia yakin dapat membayar hutangnya.

4. Dibolehkan menceritakan kisah-kisah yang terjadi pada Bani Israil dengan maksud untuk mengambil pelajaran, nasehat dan dijadikan teladan.

5. Diperbolehkan melakukan transaksi di laut dan berlayar dengan kapal.

6. Anjuran untuk berperangai baik seperti: jujur, amanah, menepati janji, merasa takut kepada Allah dan merasa senantiasa berada dalam pengawasanNya.

7. Anjuran untuk mencatat hutang.

8. Anjuran untuk mendatangkan saksi dan meminta jaminan dalam hutang.

9. Anjuran untuk menghimpun modal dagang dari berbagai arah sekalipun sedikit jumlahnya.

10. Penetapan karamah para wali. Sebagaimana papan kayu yang berisi uang emas dapat mengapung di laut dan menuju suatu negeri sehingga diambil oleh orang yang menghutangi dan tidak jatuh ke tangan orang lain. Ini merupakan peristiwa aneh, yang terjadi bukan secara kebetulan.

[Sumber: Sittuna Qishshah Rawaha an-Nabi wash Shahabah al-Kiram, Muhammad bin Hamid Abdul Wahab, Edisi Indonesia, 61 KISAH PENGANTAR TIDUR Diriwayatkan Secara Shahih dari Rasulullah dan Para Sahabat, Pustaka Darul Haq, Jakarta

[1] [HR. al-Bukhari, 1498]

Jumat, 24 Agustus 2012

Keutamaan Puasa Enam Hari di Bulan Syawal

Abu Ayyub Al-Anshari radhiallahu ‘anhu meriwayatkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

 مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْر

“Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun.” (HR. Muslim).

Filosofi pahala puasa 6 hari di bulan Syawal setelah puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan sama dengan puasa setahun, karena setiap hasanah (kebaikan) diganjar sepuluh kali lipatnya.

Membiasakan puasa setelah Ramadhan memiliki banyak manfaat, di antaranya:
1. Puasa enam hari di bulan Syawal setelah Ramadhan, merupakan pelengkap dan penyempurna pahala dari puasa setahun penuh.
2. Puasa Syawal dan Sya’ban bagaikan shalat sunnah rawatib, berfungsi sebagai penyempurna dari kekurangan, karena pada hari Kiamat nanti perbuatan-perbuatan fardhu akan disempurnakan (dilengkapi) dengan perbuatan-perbuatan sunnah. Sebagaimana keterangan yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di berbagai riwayat. Mayoritas puasa fardhu yang dilakukan kaum muslimin memiliki kekurangan dan ketidaksempurnaan, maka hal itu membutuhkan sesuatu yang menutupi dan menyempurnakannya.
3. Membiasakan puasa setelah Ramadhan menandakan diterimanya puasa Ramadhan, karena apabila Allah Taala menerima amal seorang hamba, pasti Dia menolongnya dalam meningkatkan perbuatan baik setelahnya. Sebagian orang bijak mengatakan: “Pahala amal kebaikan adalah kebaikan yang ada sesudahnya.” Oleh karena itu barangsiapa mengerjakan kebaikan kemudian melanjutkannya dengan kebaikan lain, maka hal itu merupakan tanda atas terkabulnya amal pertama. Demikian pula sebaliknya, jika seseorang melakukan suatu kebaikan lalu diikuti dengan yang buruk maka hal itu merupakan tanda tertolaknya amal yang pertama.
4. Puasa Ramadhan – sebagaimana disebutkan di muka – dapat mendatangkan maghfirah atas dosa-dosa masa lain. Orang yang berpuasa Ramadhan akan mendapatkan pahalanya pada hari Raya ‘ldul Fitri yang merupakan hari pembagian hadiah, maka membiasakan puasa setelah ‘Idul Fitri merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat ini. Dan sungguh tak ada nikmat yang lebih agung dari pengampunan dosa-dosa.
5. Dan di antara manfaat puasa enam hari bulan Syawal adalah amal-amal yang dikerjakan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya pada bulan Ramadhan tidak terputus dengan berlalunya bulan mulia ini, selama ia masih hidup.

Sebaiknya orang yang memiliki utang puasa Ramadhan memulai membayarnya di bulan Syawal, karena hal itu mempercepat proses pembebasan dirinya dari tanggungan utangnya. Kemudian dilanjutkan dengan enam hari puasa Syawal, dengan demikian ia telah melakukan puasa Ramadhan dan mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal.

Dan perlu diingat pula bahwa shalat-shalat dan puasa sunnah serta sedekah yang dipergunakan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah Taala pada bulan Ramadhan adalah disyariatkan sepanjang tahun, karena hal itu mengandung berbagai macam manfaat, di antaranya: ia sebagai pelengkap dari kekurangan yang terdapat pada fardhu, merupakan salah satu faktor yang mendatangkan mahabbah (kecintaan) Allah kepada hamba-Nya, sebab terkabulnya doa, demikian pula sebagai sebab dihapusnya dosa dan dilipatgandakannya pahala kebaikan dan ditinggikannya kedudukan.
Hanya kepada Allah tempat memohon pertolongan, shalawat dan salam semoga tercurahkan selalu ke haribaan Nabi, segenap keluarga dan sahabatnya.

Minggu, 19 Agustus 2012

Ragam Tradisi Lebaran di Sejumlah Negara

Setiap negara muslim di seluruh dunia memiliki tradisi yang berbeda dalam merayakan lebaran.

Hari ini, umat muslim di seluruh dunia tengah bahagia dan bersuka cita dalam merayakan tibanya hari raya Idul Fitri setelah satu bulan lamanya menjalankan ibadah puasa.

Dalam merayakan hari yang istimewa ini, setiap negara muslim di seluruh dunia tentunya memiliki ragam tradisi tradisi yang berbeda dan menjadi keunikan tersendiri.

Redaksi Berisatu.com mencoba menelusuri sejumlah tradisi lebaran yang biasa dilakukan oleh umat muslim di berbagai belahan dunia dalam menyambut datangnya hari raya kemenangan.

Seperti dikutip dari berbagai sumber, berikut adalah sejumlah tradisi khas lebaran di berbagai belahan dunia:

Iran
Meski termasuk negara Islam yang cukup besar, perayaan Idul Fitri di negara ini tidak semeriah di Indonesia. Hal ini dikarenakan kaum muslim di Iran kebanyakan pengikut ajaran Syiah, yang lebih memilih Idul Fitri sebagai perayaan personal sehingga kurang semarak.

Setelah selesai menjalankan shalat berjamaah di masjid atau lapangan terbuka, perayaan biasanya dilanjutkan dengan acara silaturahmi keluarga yang diselingi dengan pemberian makanan atau uang dari keluarga kaya untuk masyarakat yang tidak berpunya.

Suriname
Negara ini bisa dikata memiliki kedekatan psikologis dengan Indonesia karena sebagian penduduk Suriname merupakan keturunan suku Jawa yang dikirim ke negeri itu sebagai kuli kontrak pada masa penjajahan Belanda. 

Tradisi ied mubarok (lebaran) di negara ini bisa dibilang sangat unik karena penetapan hari Lebaran dilakukan berdasarkan perhitungan mereka sendiri dengan menggunakan prajangka atau perhitungan ala primbon Jawa peninggalan nenek moyang sejak ratusan tahun lalu.

Arab Saudi
Masyarakat di Arab Saudi, memiliki kebiasaan untuk mendekorasi ulang rumah mereka takala Idul Fitri tiba. Selain itu, sejumlah perayaan juga digelar untuk menyambut datangnya hari kemenangan.

Sebagai bentuk tanda syukur, aneka macam hadiah dibagikan, dimana orang yang lebih tua memberikan hadiah kepada mereka yang lebih muda.

Soal menu Lebaran, umat Islam di sana menyantap daging domba yang dicampur nasi dan sayuran tradisional sehabis menjalankan ibadah salat id di pagi hari.

Turki
Lebaran di Turki dikenal dengan istilah Bayram, yang ditandai dengan silaturahmi, mengenakan baju baru dan saling mengunjungi selama tiga hari berturut-turut.

Masyarakat Turki juga mengenal tradisi sungkeman, yang dilakukan oleh kalangan muda untuk menghormati orang tua dengan memberikan kecupan ambil mengucap doa lebaran.

Nigeria
Umat Islam di Nigeria merayakan Idul Fitri dengan sebutan 'Barka da Sallah' yang secara artian sama dengan 'Salam Sejahtera di Hari Raya' untuk saling menyapa diantara kaum muslim. 

Saat perayaan lebaran, Nigeria menetapkan hari raya in sebagai salah satu hari libur nasional selama dua hari berturut-turut yang ditandai dengan banyak keluarga muslim yang pulang ke kampung halaman masing-masing untuk mengunjungi keluarga dan kerabat.

China
Dengan lebih dari satu miliar penduduk, China memiliki 56 suku atau masyarakat etnis yang resmi diakui oleh negara dengan 10 diantaranya menganut ajaran agama Islam.

Kaum muslim di China yang jumlahnya sekitar 48 juta jiwa, merayakan lebaran secara meriah, dimana kaum pria mengenakan jas khas dan kopiah putih, sementara wanita memakai baju hangat dan kerudung setengah tertutup.

Malaysia
Tradisi merayakan Lebaran di negeri tetangga, bisa dikatakan hampir mirip atau tidak jauh berbeda dari masyarakat Indonesia. Untuik hidangan lebaran, masyarakat Malaysia menyajikan ketupat, lemang, lontong, dan rendang.

Setelah shalat Id, mereka berziarah ke makam kerabat. Di rumah, anak-anak akan memberikan hormat kepada orangtua. Orang yang sudah dewasa dan berpenghasilan memberikan uang kepada kerabat yang lebih muda.

Australia
Meski negara non-Muslim, umat Islam di Australia mendapat kebebasan untuk menjalankan agama mereka dengan fasilitas libur khusus bagi pegawai beragama Islam untuk mengambil cuti.

Bahkan, tradisi Idul Fitri di Australia di meriahkan dengan festival multi kultur di kota Sydney yang melibatkan ribuan kaum Muslim dan non-Muslim.

Afrika Selatan
Setiap tahun orang-orang akan berkumpul di Green Point, Cape Town, untuk menyaksikan datangnya hari terakhir Ramadhan bersama kerabat sambil berbuka puasa.

Setelah maghrib, biasanya diumumkan tentang datangnya hari raya lebaran dan masyarakat berkesempatan untuk melaksanakan shalat Id yang dilanjutkan dengan berkunjung ke rumah sanak saudara.

India
Pemeluk islam di India biasanya akan berkumpul di Jama Masjid yang terletak di New Delhi untuk melakukan shalat Id.

Masjid ini menjadi pusat perayaan Idul Fitri di New Delhi, ibu kota India. Mereka juga menyiapkan hidangan khusus yang disebut dengan siwaiyaan, yakni campuran bihun manis dengan buah kering dan susu. Siwaiyaan hadir dalam beragam bentuk dan warna.

Fiji
Di negara kecil Fiji pun terdapat tradisi serupa. Negara tersebut memang mayoritas non-Muslim. Namun, ada tradisi unik dalam perayaan Idul Fitri.

Hidangan spesial khas Idul Fitri adalah samai, mi manis yang dicampur dengan susu. Samai disajikan bersama samosas, sejenis kari ayam atau daging. Uniknya, hanya kaum pria yang datang ke masjid untuk shalat Id.

Amerika Serikat
Seperti dikutip dari laman VOA, komunitas masyarakat muslim yang ada di negara ini  menginformasikan datangnya hari raya lebaran melalui sambungan telepon ataupun internet (e-mail).

Uniknya, karena mayoritas muslim disana merupakan kalangan imigran, maka pakaian yang dikenakan berwarna-warni sesuai dengan negara asalnya. Selesai shalat, dilanjutkan dengan saling mengucapkan Happy Eid atau Eid Mubarak antarsesama jemaah Shalat Id, para kenalan dekat dan kaum kerabat






Penulis  : Feriawan Hidayat
Sumber : http://www.beritasatu.com/food-travel/66887-ragam-tradisi-lebaran-di-sejumlah-negara.html

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433H :D

assalamu'alaikum pembaca setia blog Rosil..

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433H :D Minal aidin wal faidzin. Taqabbalallahu minna wa minkum, mohon maaf lahir dan batin.. semoga ibadah kita diterima oleh Allah SWT dan kita menjadi muslim yang jauh lebih baik kedepannya. aamiin..

selamat lebaran dan liburan, jangan lupa baca postan2 selanjutnya yaa :)

Minggu, 15 Juli 2012

Bulan Ramadhan Bulan Kemenangan

Sahabat sahabat yang dicintai Allah, bagaimana kabarnya? sudah lama ya kita tidak bersua. Nah, tak terasa yah ternyata sebentar lagi kita sebagai umat muslim akan memasuki bulan suci Ramadhan, dimana bulan tersebut juga sering dikenal sebagai bulan kemenanganMenjadi fakta sejarah bulan Ramadhan merupakan bulan kemenangan bagi umat Islam.Beragam kemenangan diraih pada bulan ini.Bermula dari kemenangan medan Badar hingga Perang Arab-Israel Oktober 1973.


Diantara makna puasa adalah menahan diri dari makan dan minum.Secara lahiriah,akibat langsung dari ibadah ini adalah menurunnya kekuatan fisik yang biasanya makan tiga kali sehari semalam,di bulan ramadhan kebiasaan itu berkurang.Makan hanya dilakukan sebelum matahari terbit dan setelah ternbenam.Hal ini tentu akan berpengaruh pada kekuatan fisik seseorang.Logikanya dalam keadaan seperti ini orang yang berpuasa tidak produktif dan tidak bisa melakukan banyak hal.Namun kenyataan tidak demikian.Berbagai kemenngan dan prestasi justru banyak diraih kaum Muslimin dibulan Ramadhan.

Perang  Badar misalnya.Menurut Ibnu Hisyam dalam Sirah-nya,perang Badar terjadi pada bulan Ramadhan merupakan kemenangan pertama yang menentukan kedudukan udan umat islam dalam menghadapi kekuatan kemusyirikan dan kebatilan.Allah SWT mengutus malaikat untuk membantu kaum mislimin.

Enam tahun kemudian di bulan yang sama pada 8 hijriah,kaum muslimin berhasil menaklukkan Mekkah.Pada peristiwa ini lebih dari 2000 orang memeluk Islam yang sebelumnya merupakan musuh utama kaum Muslimin.

Perang Tabuk juga terjadi pada bulan Ramadhan 9 Hijriah.Penyebaran Islam ke Yaman di bawah pimpinan Ali bin Abi Thalib juga terjadi pada RAMADHAN 10 Hijriah.Beberapa peristiwa lainnya juga terjadi dibulan suci ini.Di antaranya,kemenangan tertara Islam di Pulau Rhodes (Ramadhan 53 Hijriah),pendaratan pasukan Islam di Pantai Andalusia Spanyol(Ramadhan 91 Hijriah) dan kemenangan Panglima Thariq bin Ziyad atas Raja Frederick dalam Perang Fashillah(Ramadhan 92 Hijriah).

Kemenangan bangsa Arab dalam perang  melawan Israel pada 1973,juga terukir pada bulan Ramadhan.Penarikan mundur pasukan Rusia dari Afghanistan juga terjadi pada bulan Ramadhan.Berhentinya peperangan di Bosnia-Herzegovina,sehingga umat Islam dapat hidup relative tenang itupun terjadi pada bulan Ramadhan.Proklamasi Negara kita,Republik Indonesia pun terjadi pada 17 Agustus 1945.

Kemenangan umat Islam yang sering terjadi pada bulan Ramadhan tentu menuntut penjelasan tersendiri.Sebab,secara lahiriyah hal ini bertolak belakang dengan hukum alam.Ketika berpuasa keadaan kaum Muslimin seharusnya lemah secara fisik tapi justru mereka berhasil merengkuh beragam kemenangan.

Dianatara penjelasannya,pada bulan Ramadhan umat Islam melaksanakn ibadah puasa sebagai bukti keimanan.Ketika berpuasa umat Islam mampu menegendalikan diri(self control) untuk senantiasa berbuat amal shalih dan menghindari kemaksiatan.Amal shalih itulah yang mengundang datangnya pertolongan Alla SWT.Jika pertolongan Allah sudah tiba maka tak ada yang bisa menghalanginya,walaupun jumlah pasukan musuh jauh lebih banyak.Inilah yang mendatangkan kemenangan.

Kepribadian Muslim dibentuk denagn ibadah puasa.Puas bukan hanya menahan diri dari makan dan minum tetapi juga menahan diri dari semua dorongan hawa nafsu.Dengan demikian,Umat Islam akan jaya dan memperoleh kemenangan jika berjuang penuh keimanan,keikhlasan,kesucian hati dan diri,sehingga pertolongan Allah pun tiba sebagaimana dijanjikan-Nya.Kemenangan adalah milik mereka yang mengabdikan kehidupannya kepada Allah SWT dengan mematuhi perintah dan menjauhi Larangan-Nya.

Diposkan oleh 

Rabu, 20 Juni 2012

Jangan Galau, Allah Selalu Menyertaimu!

 
MENGELUH, hampir menjadi fenomena di negeri mayoritas Muslim ini. Ironisnya mengeluh itu menimpa hampir semua tingkatan usia; mulai remaja sampai dewasa juga pria dan wanita. Akibatnya tidak banyak yang bisa dilakukan oleh mereka yang suka mengeluh, kecuali hal-hal yang akan semakin membuat jiwa dan akalnya terus melemah. Sehari-hari waktu yang dilalui hanya diisi curhat dari satu orang ke orang lain dengan memaparkan beragam masalah yang sedang membelitnya.

Padahal waktu dan kesempatan datang setiap hari. Bahkan sekiranya mereka mau membaca firman Allah (Al-Qur’an) tentu mereka akan dapati jawaban atas setiap masalah yang dihadapinya. Ketika didorong untuk membaca Al-Qur’an jawabnya tidak mengerti bahasa Arab. Loh bukannya kini sudah sangat banyak Al-Qur’an terjemah. Mengapa tidak dibaca juga?

Sementara Allah dengan tegas berfirman;
 بِهِ مِنَ الأَحْزَابِ فَالنَّارُ مَوْعِدُهُ فَلاَ تَكُ فِي مِرْيَةٍ مِّنْهُ إِنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ وَلَـكِنَّ
 “Karena itu janganlah kamu ragu-ragu terhadap Al-Qur’an itu. Sesungguhnya (Al-Qur’an) itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman. (QS. Huud [11]: 17).

Dalam ayat lain Allah SWT juga tegaskan bahwa Al-Qur’an itu kitab suci yang tidak ada keragu-raguan di dalamnya petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa (QS. Al-Baqarah [2]: 2).

Jadi sebenarnya sederhana sekali, masalah apapun yang kita hadapi solusinya ada di dalam Al-Qur’an. Ibarat manusia ini robot maka Al-Qur’an ini adalah petunjuk manual bagaimana mengoperasikan robot itu. Bagaimana tanda-tanda robot yang kekurangan baterai (iman) misalnya. Lalu apa yang harus dilakukan untuk mengisi dayanya kembali. Bagaimana jika ada robot yang mati (semangatnya). Apa yang harus dilakukan. Jawaban semua itu ada di dalam buku manual tadi (Al-Qur’an).

Mari perhatikan pernyataan Nabi Ibrahim di depan orang-orang kafir ketika menjelaskan siapa Allah SWT. ketika itu Nabi Ibrahim sedang memberi peringatan kepada penyembah berhala bahwa apa yang mereka anggap tuhan itu adalah keliru (sesat). Lalu Nabi Ibrahim menjelaskan perihal Allah SWT yang sebenar-benarnya Tuhan yang harus disembah.

Ibrahim berkata;“(Yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku. Dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku. Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku. Dan Yang akan mematikan aku. Kemudian akan menghidupkan aku (kembali). Dan yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat”. (QS. As Syu’ara [26] : 78 – 82).

Ayat tadi menggambarkan secara gamblang bagaimana Allah benar-benar mengerti segala kebutuhan, keresahan, kerisauan, kegalauan, dan seluruh suasana hati setiap manusia. Hanya saja Allah akan mendatangi jiwa-jiwa yang diliputi keimanan kuat dan mengabaikan jiwa manusia yang kerdil lagi tidak pernah memohon kepada-Nya.
Kepada mereka yang imannya kuat Allah berikan satu jaminan agar tidak takut dan bersedih hati.

وَلاَ تَهِنُوا وَلاَ تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman”. (QS. Ali Imran [3]: 139).

Jadi mari kita kembali kepada Allah dengan sungguh-sungguh memahami ayat-ayat Al-Qur’an. Sungguh Allah menjawab setiap masalah kita.
Ketika kita mengeluh, maka akan selalu ada jawaban dari Allah SWT untuk kita. Misalnya, “Rasanya aku tidak mampu menghadapi masalah seperti ini, berat terasa oleh ku. Sungguh aku tak sanggup lagi.” Sungguh Allah menjawab;
“Jika Allah menghendaki sesuatu, Allah cukup berkata jadi maka jadilah” (QS. 36 : 82).
Ketika kita mengeluh, “Aku terlalu lelah” Allah menjawab, “Aku ciptakan tidurmu untuk istirahatmu.” (QS. 78 : 9).
Ketika kita mengeluh, “Aku tak sanggup lagi, aku tak mampu lagi, semua sudah tidak mungkin kuhadapi” Allah menjawab, “Allah tidak membebankan sesuatu kepada hamba-Nya, melainkan sesuai kemampuannya” (QS. Al Baqarah [2] : 286).

Ketika kita mengeluh, “Berbagai upaya sudah saya lakukan tapi hasilnya nihil. Saya benar-benar stress dibuatnya” Allah menjawab;
الَّذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Hanya dengan mengingat Aku maka hati menjadi tenang.” (QS. 13 : 28).

Bahkan ketika kita mengeluh, “Aku sudah tidak ada gunanya lagi, untuk apa aku hidup” sungguh Allah telah menjawab;
“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat dzarah, niscaya ia akan melihat balasannya.” (QS. 99 : 7).
Jika demikian untuk apa kita mengeluh, bukankah Allah telah menjawab semua bakal keluhan umat manusia. Maka dari itu biasakanlah diri untuk benar-benar mempelajari Al-Qur’an dengan baik. Sungguh Al-Qur’an itu menjawab setiap masalah. Maka ambillah obat atau madu darinya.

Sebenarnya mengeluh atau tidak itu adalah pilihan hati. Hati yang senantiasa dihiasi dengan bacaan Al-Qur’an insya Allah terhindar dari sikap kerdil, lemah, lesu, letih, lunglai, dan tak berdaya. Sementara hati yang sepi dari bacaan Al-Qur’an akan sangat mudah terganggu oleh dinamika kehidupan sehingga sulit menjadi hamba Allah yang pandai bersyukur.

Terhadap orang yang pandai bersyukur Allah berjanji akan menambah terus-menerus kenikmatan yang diberi dan bagi yang kufur (tidak mau bersyukur) Allah sediakan siksa yang pedih.

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Se- sungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (ni'mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni'mat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS.ar Ra’d [14] : 7).

Jadi selagi masih ada kesempatan mari berusaha untuk memahami ayat-ayat Allah dengan sebaik-baiknya. Sungguh apabila hati kita telah diterangi oleh Al-Qur’an akan muncul semangat, gairah, optimisme, dan keyakinan kuat bahwa Allah selalu menyertai kita dan karena itu akan muncul usaha maksimal dari dalam diri kita.

Apabila itu benar-benar dapat kita raih sungguh kebahagiaan, kemenangan dan kesuksesan sejati telah berada di tangan kita. Sebab Allah telah berjanji akan memberi jalan-jalan kepada hamba-hamba-Nya yang bermujahadah (bersungguh-sungguh tidak mengeluh) dan senantiasa berbuat kebaikan.

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. 29 : 69).
Jika sedemikian rupa Allah telah memberi jawaban atas keluhan setiap hamba-Nya, masihkah kita akan menjadi manusia kerdil? Sungguh keluhan itu adalah sesuatu yang mesti kita enyahkan dalam akal dan jiwa kita. Allah dan Rasul-Nya hanya berpesan satu hal, berjihadlah, bersungguh-sungguhlah, kelak engkau pasti akan menang. Jadi mari kita ucapkan,

“Selamat tinggal keluhan, selamat datang harapan”!. */Imam Nawawi
sumber : http://www.hidayatullah.com/read/22625/12/05/2012/jangan-galau,-allah-selalu-menyertaimu!.html

Senin, 04 Juni 2012

CARUT MARUT TRANSPORTASI INDONESIA


Antrean panjang kendaraan di pelabuhan Merak yang terjadi pada beberapa waktu terakhir ini jelas sangat mengganggu aktivitas masyarakat baik secara ekonomis maupun kenyamanan dalam menjalankan aktivitas rutin kesehariannya. Hal semacam ini terjadi berulang-ulang tanpa adanya solusi untuk menyelesaikan persoalan ini secara tuntas. Yang terjadi justru para elit saling berdalih dengan berbagai macam alasan untuk membenarkan persoalan yang sedang terjadi.
Permasalahan transportasi yang terjadi di negeri ini sebenarnya juga bukan hanya sebagaimana yang terjadi pada kasus antrean di pelabuhan merak, akan tetapi banyak kasus-kasus lain yang itu menjadi catatan buruk pengelolaan transportasi di negeri ini. Salah satu indikasi ruwetnya masalah transportasi juga ditandai banyaknya kecelakaan hampir di seluruh sarana transportasi umum di Indonesia. Kasus kecelakaan transportasi udara tiap tahun terus meningkat. Pada 2004 tercatat 109 kasus, 111 kasus pada 2005, dan 119 kasus pada 2006. Tingginya angka itu menjadikan tingkat kecelakaan udara di Indonesia terbesar di dunia. Kasus kecelakaan kereta api setiap tahun meningkat 5-10 persen. Tahun 2003, PT. Kereta Api Indonesia mencatat ada 50 kasus di seluruh Indonesia. Dari berbagai data ini, sebenarnya apa yang terjadi dan bagaimana solusinya?
Kesalahan Pengelolaan
            Banyaknya masalah yang terjadi di Transportasi, seringkali faktor alam, faktor kesalahan teknis, dan human error dijadikan kambing hitam seperti posisi rel yang salah, mesin pesawat yang kurang terawat, dan kelebihan penumpang pada kapal laut sering menjadi alasan yang berulang dalam kecelakaan. Bahkan para pejabat negara pun berlindung dibalik alasan klasik tersebut untuk menutupi ketidakbecusan mereka mengurus pelayanan masyarakat secara baik. Mereka tidak pernah mau belajar dan mencari,  sesungguhnya di balik itu semua apa yang terjadi? Sebenarnya jika ditelisik, maka mata rantai permasalahan transportasi di Indonesia adalah adanya kesalahan pengelolaan yang dilakukan oleh Negara. Fasilitas umum transportasi seperti: jalan raya, dermaga, bandara, dan rel kereta api yang seharusnya dikelola oleh negara untuk melayani kepentingan masyarakat umum, telah diserahkan kepada pihak swasta. Akibatnya pangelolaan tersebut selalu mengedepankan aspek keuntungan, bukan pelayanan kepada masyarakat.
Berbeda sekali ketika yang mengelola fasilitas umum adalah negara, maka yang menjadi dasar pemikirannya adalah kenyamanan dan keamanan bagi seluruh rakyat. Sehingga kasus kendaraan seperti di pelabuhan Merak tidak perlu terjadi apabila pemerintah menambah menjadi 50 kapal roro atau lebih dari 33 kapal roro yang sedang dioperasikan, atau bisa saja negara membangun lebih banyak dermaga. Sebenarnya negara mampu mengatasi permasalahan ini,  sebab menurut informasi dari Menteri BUMN Mustafa Abubakar mengatakan, BUMN membukukan pendapatan sekitar Rp 1.000 triliun pada 2010. Dari pendapatan tersebut, jumlah laba BUMN mencapai Rp 100 triliun atau naik 26% dibanding realisasi laba 2009 yang sebesar Rp 74 triliun.
Selain itu, apabila pengelolaan fasilitas umum tidak dikelola oleh negara, maka yang terjadi negara sering lepas tanggung jawab terhadap permasalahan yang ada, seperti yang terjadi di pelabuhan Merak. Padahal pelayanan terhadap seluruh kepentingan rakyat menjadi tanggung jawab penuh negara. Kasus antrian di pelabuhan Merak harus diselidiki oleh pihak-pihak yang mempunyai kapasitas, apakah memang kejadian tersebut benar-benar merupakan imbas kejadian alam seperti ombak besar sehingga tidak memungkinkan untuk dilakukan pelayaran. Maka jika itu yang terjadi, negara mestinya memberikan fasilitas untuk membantu rakyat, misal makan gratis, kompensasi terhadap barang dagangan yang rusak akibat lamanya antre jangan seperti yang terjadi di pelabuhan Merak. Akibat antrian panjang itu, beberapa sopir truk yang mulai kehabisan uang saku untuk biaya makan selama mengantri akhirnya terpaksa membayar tol dengan menitipkan barang yang dimiliki. Ini kan jelas merugikan rakyat, sementara keuntungan PT. Pelindo berlimpah. Apakah ini tidak merupakan perbuatan dzalim pemerintah terhadap rakyat? Akibat kelalaian ini seharusnya ada pihak yang diajukan ke pengadilan untuk dimintai pertanggungjawaban, jadi tidak bisa lepas tanggung jawab begitu saja.

Islam Mampu Mengatasi
Islam memandang bahwa kepemilikan umum adalah izin as-Syari’ (Allah SWT) kepada suatu komunitas untuk sama-sama memanfaatkan benda. Sedangkan benda-benda yang termasuk dalam kategori kepemilikan umum adalah benda-benda yang telah dinyatakan oleh As-Syari’ untuk suatu komunitas, di mana mereka masing-masing saling membutuhkan, dan melarang benda tersebut dikuasai hanya oleh seseorang atau sekelompok kecil orang. Dari pengertian di atas maka benda-benda yang termasuk dalam kepemilikan umum dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok : pertama, Fasilitas Umum, yaitu apa saja yang dianggap sebagai kepentingan manusia secara umum, di mana ketiadaan barang tersebut dalam suatu negeri atau dalam suatu komunitas, akan menyebabkan kesulitan dan dapat menimbulkan persengketaan dalam mencarinya. Dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi saw bersabda :
«النَّاسُ شُرَكَاءُ فِيْ ثَلاَثٍ: اَلْمَاءُ وَالْكَلاَءُ وَالنَّارُ»
“Manusia berserikat dalam tiga hal, yaitu air, padang rumput, dan api” (HR Abu Daud).
Anas r.a. juga meriwayatkan hadits dari Ibnu Abbas ra. tersebut dengan menambahkan: wa tsamanuhu haram (dan harganya haram), yang berarti dilarang untuk diperjualbelikan.
Kedua, Bahan tambang yang tidak terbatas (sangat besar). Bahan tambang dapat diklasifikasikan menjadi dua. Yakni, bahan tambang yang jumlahnya terbatas (sedikit) dan bahan tambang yang jumlahnya tidak terbatas. Bahan tambang yang jumlahnya sedikit dapat dimiliki secara pribadi. Hasil tambang seperti ini akan dikenai hukum rikaz (barang temuan) sehingga harus dikeluarkan 1/5 bagian darinya. Bahan tambang yang jumlahnya sangat besar terkategorikan sebagai milik umum, dan tidak boleh dimiliki secara pribadi.
Ketiga, Benda-benda yang sifat pembentukannya menghalangi untuk dimiliki secara perorangan. Benda-benda yang sifat pembentukannya mencegah individu untuk memilikinya, maka benda tersebut adalah benda yang termasuk kemanfaatan umum. Seperti: jalan, sungai, laut, danau, tanah-tanah umum, teluk, selat, dan sebagainya. Begitu juga seperti : masjid, sekolah milik negara, rumah sakit negara, lapangan, tempat-tempat penampungan, dan sebagainya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah saw.,
Kota Mina adalah tempat parkir unta bagi orang yang lebih dulu (datang) (maksudnya tempat untuk umum).”
Barang-barang tambang seperti minyak bumi beserta turunannya seperti bensin, gas, dan lain-lain, termasuk juga listrik, hutan, air, padang rumput, api, jalan umum, sungai, dan laut semuanya telah ditetapkan syara’ sebagai kepemilikan umum. Negara mengatur produksi dan distribusi aset-aset tersebut untuk rakyat.
Sementara itu  Pengelolaan kepemilikan umum oleh negara dapat dilakukan dengan dua cara, yakni: Pertama; Pemanfaatan secara langsung oleh masyarakat umum. Air, padang rumput, api, jalan umum, laut, samudera, dan sungai besar adalah benda-benda yang bisa dimanfaatkan secara langsung oleh setiap individu. Siapa saja dapat mengambil air dari sumur, mengalirkan air sungai untuk pengairan pertanian, juga menggembalakan hewan ternaknya di padang rumput milik umum. Bagi setiap individu juga diperbolehkan menggunakan berbagai peralatan yang dimilikinya untuk memanfaatkan sungai yang besar, untuk menyirami tanaman dan pepohonan. Karena sungai yang besar cukup luas untuk dimanfaatkan seluruh masyarakat dengan menggunakan peralatan khusus selama tidak membuat kemudharatan bagi individu lainnya. Setiap individu diperbolehkan memanfaatkan jalan-jalan umum secara individu, dengan tunggangan dan kendaraan. Juga diperbolehkan mengarungi lautan dan sungai serta danau-danau umum dengan perahu, kapal, dan sebagainya, sepanjang hal tersebut tidak membuat pihak lain yaitu seluruh kaum muslim dirugikan, tidak mempersempit jalan umum, laut, sungai, dan danau.
Kedua;  Pemanfaatan di bawah pengelolaan negara. Kekayaan milik umum yang tidak dapat dengan mudah dimanfaatkan secara langsung oleh setiap individu masyarakat (karena membutuhkan keahlian, teknologi tinggi, serta biaya yang besar) seperti minyak bumi, gas alam, dan barang tambang lainnya, maka negara yang berhak untuk mengelola dan mengeksplorasi bahan tambang tersebut. Pengelolaan harta kepemilikan umum oleh Negara ini juga harus memenuhi ijin dan keinginan rakyat secara umum sebagai pemilik dari harta kepemilikan tersebut. Hasil pengelolaan terhadap harta kepemilikan umum tersebut tentunya dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk pelayanan kepada rakyat. Kepala Negara adalah pihak yang berwenang dalam pendistribusian hasil tambang dan pendapatannya sesuai dengan ijtihadnya demi kemashlahatan umat. Dalam mengelola kepemilikan tersebut, negara tidak boleh memperjualbelikan kepada rakyat dengan mendasarkan pada asas mencari keuntungan semata tanpa izin dari rakyat. Jika rakyat menghendaki bahwa hasil pengelolaan terhadap harta kepimilikan umum dijual dengan harga pokok produksi (seperti minyak) maka Negara harus menjualnya kepada rakyat dengan harga tersebut. Namun diperbolehkan pula bagi Negara untuk menjualnya kepada rakyat dengan mendapatkan keuntungan yang wajar. Sedangkan jika kepemilikan umum tersebut dijual kepada pihak luar negeri, maka diperbolehkan pemerintah mencari keuntungan. Hasil pengelolaan harta kepemilikan umum tersebut harus dikembalikan untuk pembiayaan kepentingan umum dan sarana umum, misalnya pembangunan sekolah-sekolah, rumah sakit-rumah sakit, jalan raya, terminal, pelabuhan, bandara, dan bentuk-bentuk sarana dan pelayanan umum lainnya secara maksimal.
Seperti halnya kasus di Merak, dermaga termasuk fasilitas umum yang pemanfaatannya wajib di bawah pengelolaan Negara, bukan pihak swasta. Negara boleh saja mengambil biaya atas semua pengelolaannya akan tetapi keuntungan diperoleh harus dikembalikan untuk kepentingan umum, misalnya memperluas dermaga atau membeli kapal roro, bukan untuk dibagi-bagikan kepada para komisaris dan direksi. Kalau sampai hal ini terjadi maka sudah bisa dipastikan pemerintah sudah mencederai kepercayaan umat ini dengan tidak menjalankan fungsi pelayanan terhadap umat dengan baik. Jika Islam diterapkan, sudah bisa dipastikan problem antrian seperti yang terjadi saat ini tidak akan terjadi. Pihak pemerintah dalam hal ini khususnya pihak pelabuhan, jika mereka lalai dalam melayani urusan rakyat maka dapat diajukan ke pengadilan untuk dimintai pertanggungjawaban.
Oleh karena itu, Islam merupakan satu-satunya solusi yang tepat dalam menyelesaikan segala permasalahan sistem transportasi saat ini. Islam juga sebagai solusi dari semua persoalaan yang dihadapi umat Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, karena telah terbukti membawa umat Islam dalam peradaban yang baik dan benar, serta dalam kemakmuran yang luar biasa. Wallahu ‘alam bishowab.


sumber : ISLAM OKEY (anonim)

Senin, 21 Mei 2012

MENUNAIKAN PUASA DI BULAN RAJAB


Sang waktu menghantarkan kita masuk pintu gerbang bulan Rajab setiap tahunnya. Bulan Rajab dari beberapa pendapat merupakan salah satu bulan yang sangat khusus dan istimewa karena merupakan bulan yang dikhususkan oleh Allah (Ada 4 bulan muharam: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab). Disamping itu ada beberapa keistimewaan lain yang ada pada bulan Rajab.

Selain bulan Ramadhan maka pada bulan Rajab juga memiliki banyak keistimewaan, antara lain anda bisa mendapatkan Ridha, kemuliaan,  pahala yang berlipat, permohonan doa akan dikabulkan serta akan diampuni segala dosa dan akan digantikan dengan amal kebaikan. Luar biasa memang, sekarang semua tergantung anda, apakah akan mengambil peluang emas ini, atau menyia-nyiakannya begitu saja.

Dalam salah satu Hadist, yang diriwayatkan oleh Mujibah al-Bahiliyah, Nabi Muhammad SAW telah bersabda, “Puasalah pada bulan-bulan haram (suci dan mulya).” (Riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad). Sebagaimana diketahui ada 4 bulan Muharam yang mempunyai keistimewaan: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.

Hadist Rasulullah yang lainnya di Riwayatkan oleh al-Nasa’i dan Abu Dawud yang kemudian disahihkan oleh Ibnu Huzaimah, Beliau bersabda: “Usamah berkata pada Nabi Muhammad SAW, “Wahai Rasulullah, saya tak melihat Rasul melakukan puasa (sunnah) sebanyak yang Rasul lakukan dalam bulan Sya’ban. Kemudian Rasulullah menjawab: ‘Bulan Sya’ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadhan yang dilupakan oleh kebanyakan orang.’” Dari hadist tersebut dijelaskan oleh al-Syaukani (Naylul Authar, dalam konteks pembahasan puasa sunnah) dari ungkapan Nabi “Bulan Sya’ban adalah bulan antara Rajab dan Ramadhan yang dilupakan kebanyakan orang” itu secara implisit menunjukkan bahwa bulan Rajab juga disunnahkan untuk melakukan ibadah puasa.

Selain hadist di atas masih terkait puasa bulan Rajab, maka cukup banyak hadist lain yang menjelaskan tentang hal itu, namun kesahihanya masih dipertanyakan oleh beberapa ulama, tentu hal demikian bisa menjadi bahan diskusi yang menarik bagi kita. Hadist-hadist itu antara lain:
  • Barang siapa yang berpuasa satu hari dalam bulan ini dengan ikhlas, maka pasti ia mendapat keridhaan yang besar dari ALLAH SWT,
    Dan barang siapa berpuasa pada tgl 27 Rajab 1427/Isra Mi’raj akan mendapat pahala seperti 5 tahun berpuasa,
  • Barang siapa yang berpuasa dua hari di bulan Rajab maka akan mendapat kemuliaan di sisi ALLAH SWT,
  • Barang siapa yang berpuasa tiga hari yaitu pada tgl 1, 2, dan 3 Rajab maka ALLAH akan memberikan pahala seperti 900 tahun berpuasa dan menyelamatkannya dari bahaya dunia, dan siksa akhirat,
  • Barang siapa berpuasa lima hari dalam bulan ini, Insyaallah permintaannya akan dikabulkan,
  • Barang siapa berpuasa tujuh hari dalam bulan ini, maka ditutupkan tujuh pintu neraka Jahanam dan barang siapa berpuasa delapan hari maka akan dibukakan delapan pintu syurga,
  • Barang siapa berpuasa lima belas hari dalam bulan ini, maka ALLAH akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan menggantikan kesemua kejahatannya dengan kebaikan, dan barang siapa yang menambah (hari-hari puasa) maka ALLAH akan menambahkan pahalanya.”
  • Pada malam Mi’raj, saya melihat sebuah sungai yang airnya lebih manis dari madu, lebih sejuk dari air batu dan lebih harum dari minyak wangi, lalu saya bertanya pada Jibril a.s.: “Wahai Jibril untuk siapakah sungai ini?” Maka berkata Jibrilb a.s.: “Ya Muhammad sungai ini adalah untuk orang yang membaca salawat untuk engkau dibulan Rajab ini”.
  • Dalam salah satu riwayat lainya menceritakan bahwa Tsauban tengah bercerita : “Ketika kami berjalan bersama-sama Rasulullah SAW ke sebuah kubur, lalu Rasulullah berhenti dan beliau menangis dengan amat sedih, kemudian beliau berdoa kepada ALLAH SWT. Lalu saya bertanya kepada beliau:”Ya Rasulullah mengapakah engkau menangis?” Lalu beliau bersabda :”Wahai Tsauban, mereka itu sedang disiksa dalam kubur nya, dan saya berdoa kepada ALLAH, lalu ALLAH meringankan siksa atas mereka”. Dan lalu beliau bersabda lagi: “Wahai Tsauban, kalau mereka ini mau berpuasa satu hari dan beribadah satu malam saja di bulan Rajab niscaya mereka tidak akan disiksa di dalam kubur.” Lalu Tsauban bertanya: “Ya Rasulullah, apakah hanya berpuasa satu hari dan beribadah satu malam dalam bulan Rajab sudah dapat mengelakkan dari siksa kubur?” Sabda beliau: “Wahai Tsauban, demi ALLAH dzat yang telah mengutus saya sebagai nabi, tiada seorang muslim lelaki dan perempuan yang berpuasa satu hari dan mengerjakan sholat malam sekali dalam bulan Rajab dengan niat karena ALLAH, kecuali ALLAH mencatatkan baginya seperti berpuasa satu tahun dan mengerjakan sholat malam satu tahun.”
  • Dalam Sabda beliau yang lain (mursal) Riwayat Abul Fath dari al-Hasan, Rasulullah mengatakan: “Sesungguhnya Rajab adalah bulannya ALLAH, Sya’ban adalah bulanku dan bulan Ramadhan adalah bulan umatku”. “Semua manusia akan berada dalam keadaan lapar pada hari kiamat, kecuali para nabi, keluarga nabi dan orang-orang yang berpuasa pada bulan Rajab, Sya’ban dan bulan Ramadhan. Maka sesungguhnya mereka kenyang, serta tidak akan merasa lapar dan haus bagi mereka.
Hadist-hadist yang tersebut dengan poin di atas beberapa diantaranya dinilai dha’if (kurang kuat) hal ini  ditegaskan oleh Imam Suyuthi dalam kitab al-Haawi lil Fataawi. Selain itu ditegaskan pula oleh Ibnu Hajar, dalam kitabnya “Tabyinun Ujb”, yang menerangkan bahwa tidak ada hadist (baik sahih, hasan, maupun dha’if) yang menerangkan tentang keutamaan pelaksanaan ibadah puasa di bulan Rajab.
Pendapat lain al-Syaukani, dalam Nailul Authar, bahwa Ibnu Subki meriwayatkan dari Muhamad bin Manshur al-Sam’ani yang mengatakan bahwa tak ada hadis yang kuat yang menunjukkan kesunnahan puasa Rajab secara khusus. Namun demikian, sesuai pendapat al-Syaukani, bila semua hadis yang secara khusus menunjukkan sunnah untuk puasa bulan Rajab, maka  hadist yang umum cukup bisa dijadikan hujah atau landasan.

Dalam Islam dikenal pula ilmu mushthola al-hadits, yang menjelaskan tentang berbagai kedudukan hadits. Salah satu hal penting untuk diketahui adalah: sebuah hadits dha'if ternyata bisa digunakan sebagai dasar dalam pelaksanaan suatu amalan, yang tidak boleh adalah hadist dha'if  tersebut digunakan sebagai dasar penetapan suatu hukum syara’. Jadi wilayah fungsinya sebagi sumber motivasi dalam ibadah saja, maka tidak menjadi masalah.

Demikian semoga para muslimin dan muslimat bisa segera mengambil manfaat dari waktu yang disisakan oleh Allah untuk kehidupan kita. Keikhlasan untuk mejalankan perintahnya semoga merupakan puncak ibadah yang membahagiakan. Aamiin.


Sumber: (shalimow.com, pesantren virtual.com, ikwanti.wordpress.com, dan sumber lainnya).

Minggu, 13 Mei 2012

Berbuat Kebaikan itu Mudah dan Ringan (repost)

Dalam kajian Hadits Arba’in nomor 26 telah disebutkan bahwa Rasulullah saw begitu bersemangat dalam menunjukkan dan membuka setiap peluang kebaikan bagi umatnya. Beliau saw juga selalu berupaya menepis dan menutup munculnya sifat putus asa dan rasa tidak mampu dari dalam diri umatnya saat mereka dihadapkan pada berbagai amal keagamaan yang mereka anggap berat.

Perbuatan ringan bernilai sedekah

Rasulullah saw menjelaskan bahwa, “Pada diri manusia terdapat 360 ruas tulang, maka hendaklah ia bersedekah melalui setiap ruas ini.” Mendengar hal itu, spontan saja para sahabat bertanya, “Siapakah yang mampu melakukannya, wahai Nabi Allah?”

Spontanitas para sahabat ini wajar saja. Betapa tidak, bagi kebanyakan para sahabat yang sederhana, mungkinkah setiap hari bersedekah sebanyak 360 kali? Lebih tidak mungkin lagi adalah bahwa sedekah yang 360 kali itu hendaknya dilakukan oleh setiap ruas tulang!

Melihat bahwa para sahabatnya – juga umatnya – keberatan atas hal ini, maka Rasulullah menjelaskan jalan keluarnya. Beliau kemudian bersabda, “Engkau meludah di masjid dan menguruk (atau menimbun dengan pasir karena di zaman itu lantai masjid masih berupa pasir), sesuatu yang ada di jalan yang engkau singkirkan…”

Penjelasan seperti itu membuat sahabat mengerti bahwa bersedekah 360 kali, setiap hari dan atas nama setiap ruas tulang, ternyata bisa diwujudkan melalui pekerjaan-pekerjaan ringan. Begitu mudahnya hingga siapa saja, baik tua atau muda, kaya atau miskin, besar atau kecil, asal bersedia, dapat melakukannya.

Siapakah yang tidak mampu menguruk ludahnya dengan pasir atau kerikil atau semacamnya setelah ia meludah? Siapakah yang tidak mampu menyingkirkan sesuatu yang berpotensi membahayakan orang yang lewat dari tengah jalan? Siapakah yang keberatan untuk mengucapkan tasbih (subhanallah), tahmid (alhamdulillah), takbir (Allahu Akbar), istighfar (astaghfirullah) dan semacamnya?

Kenapa manusia tidak tertarik membantu saudaranya yang sedang mengangkat atau menjinjing barangnya? Siapakah yang merasa keberatan memberi petunjuk arah yang benar saat melihat orang kehilangan arah dalam suatu perjalanan? Dan yang lebih ringan lagi adalah, siapakah yang tidak mampu menahan dirinya agar tidak menyakiti orang lain?

Dalam penjelasan selanjutnya, beliau saw bersabda, "Jika tidak mampu, maka dua rakaat Dhuha cukup sebagai gantinya” (Hadits shahih lighairihi diriwayatkan oleh Ahmad [5/354, 359] dan Abu Daud hadits no. 5242). Jadi, bahkan sedekah pun dapat diganti dengan ‘hanya’ mengerjakan shalat Dhuha.

Rasulullah pun mencontohkan perbuatan ringan lainnya yang bernilai sedekah. Beliau bersabda, "Kalian tidak akan masuk surga sehingga beriman, dan tidak beriman sehingga saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang jika kalian melakukannya niscaya kalian akan saling mencintai? Maka. sebarkanlah salam di antara sesama kalian" (hadits shahih, diriwayatkan oleh Muslim no. 106).

Di bagian awal hadits ini, ada kesan ancaman. Sebab dinyatakan oleh beliau para sahabat tidak akan dapat masuk surga. Namun Rasulullah memberi jalan keluar agar para sahabat – dan umatnya – bisa masuk surga, yaitu dengan cara: beriman. Rupanya, beriman pun dianggap sulit. Maka, Rasulullah memberi jalan keluar lainnya, yaitu dengan keharusan saling mencintai sesama mukmin. Lalu beliau saw menunjukkan rahasia untuk saling mencintai, yaitu menyebarluaskan salam.

Sifat-sifat Rasulullah saw
Contoh-contoh tersebut menegaskan bahwa Rasulullah saw, sebagaimana tercantum dalam QS At-Taubah: 128, adalah seorang Rasul yang merasakan beratnya penderitaan yang dialami umatnya, yang sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagi umatnya dan yang penyantun serta penyayang terhadap orang-orang yang beriman.

Sifat-sifat Rasulullah tersebut merupakan suri teladan bagi umatnya, dalam konteks ini khususnya untuk para guru, pendidik dan pemimpin. Dalam rangka meneladani Rasulullah dalam perkara ini, para pakar pendidikan Islam menjelaskan, di antara adab seorang guru kepada muridnya hendaklah:

Memberi bimbingan kepada sang murid agar ia mencapai kemaslahatannya. Bersikap sayang dan lembut kepada sang murid. Membantunya sekuat kemampuannya agar sang murid mendapatkan ilmu. Memotivasinya agar selalu semangat dalam belajar. Senantiasa mengingatkan sang murid akan keutamaan ilmu, sebab yang demikian itu akan meningkatkan semangatnya. Memerhatikan kemaslahatan sang murid sebagaimana ia memerhatikan kemaslahatan anak dan dirinya sendiri. Mencintai sang murid sebagaimana ia mencintai diri sendiri. Menjauhkan sang murid dari hal-hal yang tidak disukainya sebagaimana ia menjauhkan hal itu dari dirinya (lihat At-Tibyan fi Adab Hamalatil Qur'an, karya Imam Nawawi, hal. 39 – 40).

Kemudian dengan memerhatikan teladan Rasulullah tersebut, maka terkait dengan pemimpin, para ulama pun mengatakan bahwa di antara adab pemimpin adalah:

Bersikap sayang dan lembut kepada rakyat. Mengambil hak dari mereka dan menyerahkannya kepada yang berhak. Menutup celah-celah yang membahayakan mereka. Mengamankan jalan. Menegakkan keadilan dengan cara menindak yang zalim dan membela yang terzalimi. Mengupayakan agar si kuat membela si lemah (lihat Al-Jauhar an-Nafis fi Siyasat Ar-Rais, hal. 133).

Adab-adab seperti ini, sebagaimana dijelaskan oleh para ulama adab (pendidikan) dan ulama-ulama siyasah (politik), adalah hasil kajian dan penelusuran mereka kepada cara-cara Rasulullah saw dalam mendidik dan memimpin, yang semuanya mengacu kepada QS At-Taubah: 128, sebagaimana telah dijelaskan di atas.

Inilah butir-butir pelajaran yang dapat digali dari hadits Arba'in An-Nawawiyyah ke-26. Semoga Allah swt memberi taufik, hidayah dan kekuatan kepada kita dan menjadikan kita hamba-hamba yang mendengarkan perkataan-perkataan yang terbaik, lalu mengikuti dan mengamalkannya. Amiin.

(sumber : http://ummi-online.com/berita-56-berbuat-kebaikan-itu-mudah-dan-ringan.html )